
Di dalam Mall
“Selamat datang tuan.” Kata Pelayan Sebuah Toko Baju Muslim.
“Iya.” Kata Eko.
“Silakan tuan, banyak model terbaru dengan bahan yang adem dan tidak panas walaupun terik matahari menghadang.” Kata Pelayan itu.
“Baiklah. Dian dan Tari tolong kalian pilih salah satu baju dan kalian coba.” Kata Eko.
“Baik Eko.” Kata mereka berdua.
Mereka pun melihat baju-baju itu sampailah di saat mereka berdua tertarik dengan baju model yang sama dan hanya warna berbeda. Tapi setelah melihat harganya yang mencapai 1 juta per helainya mereka pun mengundurkan diri dan lebih mencoba baju yang hanya seharga 100 ribu saja.
Ternyata tingkah mereka berdua ketahuan oleh Bagus dan Sabar. Saat mereka pergi.
“Bar, loh lihat apa yang aku lihat.” Kata Bagus.
“Iya Gus. Bagaimana kalau kita belikan Gus, nanti kita minta Eko potong gaji kita bulan pertama ini.” Kata Sabar menyarankan ke Bagus.
“Oke juga ide loh Bar. Langsung sama jilbabnya sekalian serta bros dan sepatunya.” Kata Bagus lagi.
“Iya Gus, biar nanti malam mereka kelihatan cantik. Sabar dan Bagus pun mengambil baju yang di pegang Dian dan Tari tadi. Dan mereka langsung menemui Eko yang berbicara dengan seorang pelayan.
“Kamu kemari, tolong carikan baju gamis buat wanita di foto ini. Langsung bros, sepatu dan jilbabnya sekalian. Nanti saya akan pilih mana yang cocok.” Perintah Eko kepada seorang pelayan.
“Baik tuan akan saya ambilkan contohnya desain terbaru di toko kami.” Kata pelayan itu.
“Silakan ambil sana.” Kata Eko.
“Eko.” Kata Sabar sambil menepuk pundak Eko.
“Iya ada apa.” Tanya Eko.
“Ini Eko kami ingin membeli baju ini, tapi harganya di atas rata-rata nominal.” Kata Bagus.
“Terus apa mau kalian.” Tanya Eko lagi pura-pura tidak paham maksud temannya.
“Kamu tolong bayarkan dulu ya. Nanti kami bayar potong gaji kami tiap bulan saja.” Kata Sabar.
“Coba aku lihat. Ini kan baju buat cewek.” Kata Eko.
“Jangan keras-keras Eko. Nanti mereka berdua dengar.” Kata Sabar.
“Iya-iya. Kalian berdua santai saja nanti kalau acaranya sukses aku gratiskan buat kalian bajunya. Tapi kalau tidak terpaksa tiap bulan gaji kalian di potong sampai 1 tahun.” Kata Eko.
“Baikalah kita deal.” Kata Bagus dan Sabar.
“Ok.” Kata Eko.
Tari dan Dian pun datang membawa baju yang mereka coba.
“Ini Eko bajunya.” Kata Tari.
“Bagaimana kalian suka?” Tanya Eko.
“Iya suka.” Kata Dian.
“Kalau begitu bawa pulang, nanti pas mata kuliah saya kalian pakai.” Kata Eko.
“Baik Ko. Terima kasih bajunya.” Kata Tari.
“Sama-sama, anggap saja itu rasa terima kasih karena kalian mau menolongku.” Kata Eko.
Pelayan tadi pun datang.
“Maaf tuan ini model baju terbarunya tuan.” Kata pelayan itu.
“Baiklah saya memilih gaun berwarna putih itu, tolong sesuaikan sama jilbab, bros dan sepatunya.” Kata Eko.
“Lalu bungkus gamis warna merah jambu itu serta jilbabnya.” Kata Eko lagi.
“Baik tuan, silakan bayar di kasir tuan.” Kata Pelayan itu.
“Total Rp.99.999.999 tuan.” Kata kasir.
“Ini.” Kata Eko menyerahkan kartu berwarna hitam berarti kartu limitid tanpa batas miliknya.
Semua yang melihat tercengang dan tak menyangka Eko memiliki kartu itu.
“Terima kasih tuan, silakan datang lagi.” Kata Para Pelayan.
“Iya, sama-sama.” Kata Eko.
Sementara itu
“Ke mana Tari dan Dian, saat temannya sedih malah kelayapan sampai sore belum pulang juga, bukannya menghibur malah di tinggalkan.” Kata Nur kesal sendiri di Asrama.
Restoran Seafood
“Tari dan Dian ingat ya. Jangan sampai Nur tahu kalau aku yang menyiapkan semua ini.” Kata Eko.
“Iya Eko.” Kata Tari.
“Baiklah tolong berikan gaun putih ini serta jilbab, bros dan sepatunya. Aku ingin dia memakai ini nanti malam.” Kata Eko lagi.
“Baik Eko nanti kami berikan.” Kata Dian.
Dian pun mulai menghidupkan motornya tapi tiba-tiba Bagus dan Sabar menghadang.
“Ini buat kamu Dian.” Kata Bagus.
“Apa ini Gus?” Tanya Dian.
“Ini buat kamu Tari.” Kata Sabar.
“Apa ini Bar?” Tanya Tari.
“Sudah yang penting kalian terima saja hadiah dari kami berdua. Tapi dengan satu syarat.” Kata Bagus.
“Apa itu?” Tanya Dian.
“Nanti kalian membukanya pas di asrama kalian, nanti di pakai ya buat acara nanti malam.” Kata Sabar.
“Baiklah kami pulang dulu. Ayo Dian, Assalamualaikum.” Kata Tari.
“Waalaikumsalam.” Jawab Bagus dan Sabar.
Mereka pun pergi meninggalkan restoran dan sampai di asrama sekitar 10 menit.
Di asrama Nur menunggu mereka berdua dengan gelisah.
“Kalian ke mana saja, dari siang tidak pulang?” Tanya Nur.
“Maaf Nur tadi kami ada urusan di luar.” Kata Tari.
“Urusan? Tumben tidak ajak aku.” Tanya Nur.
“Sudahlah Nur jangan bising. Tidak enak di dengar penghuni asrama yang lain.” Kata Dian.
“Baiklah.” Kata Nur sedikit kecewa.
“Oh ya Nur nanti malam, kamu ikut kami ke Restoran Seafood yang lagi viral itu ya.” Kata Dian lagi.
“Mau ngapain ke sana, aku tidak mood jalan.” Kata Nur.
“Justru karena tidak mood harus di bawa happy jalan-jalan menikmati makanan enak.” Kata Tari menimpali omongan Dian.
“Iya Nur. Kami sudah belikan kamu baju ini buat nanti malam. Beli di pasar senin ada obral terbaru.” Kata Dian berbohong.
“Ok-ok nanti aku pergi.” Kata Nur.
“Janjikan Nur.” Kata Tari
“Iya aku janji. Sudah dulu aku mau masuk mau masak dulu.” Kata Nur.
“Iya masak sana. Nanti kami makannya.” Canda Tari.
“Iya tunggu saja situ.” Kata Nur meninggalkan kedua temannya.
“Tari ayo kita buka hadiah Bagus dan Sabar.” Kata Dian.
“Iya Dian aku lupa.” Kata Tari.
Mereka pun membuka bungkusan itu dan betapa terkejutnya mereka.
“Ini kan baju yang tadi kita pegang.” Kata Dian.
“Iya Dian. Ternyata mereka melihatnya.” Kata Tari pula.
“Pantas mereka ingin kita memakainya.” Kata Dian lagi.
“Ya sudahlah Dian, kita pakai saja nanti malam.” Kata Tari menyarankan.
Malam Hari Restoran Seafood