
NUR AZZAHRA FATIMAH
Nama yang selalu aku sebut di setiap doaku
Nama yang membuat aku merindu
Nama yang membuat aku mencinta
Engkau bagaikan rembulan purnama di langit
Bersinar terang menerangi kegelapan malam
Yang di temani bintang-bintang bersinar
Dua purnama aku berjanji padanya
Meninggalkannya sendiri di kegelapan malam
Bersama liontin cinta terukir nama kita
Tapi ternyata tak sengaja aku ingkari
Demi sebuah harapan dan mimpi
Aku berjuang tak mengenal waktu
Siang berganti malam
Tak pernah aku hiraukan sama sekali
Demi mencapai sebuah impian indah
Bertemu kembali
Dengan rembulan yang aku rindukan
Dan rembulan yang aku cintai
Setelah Eko selalu membacakan puisi untuk Nur. Nur pun berdiri dan langsung berhadapan dengan Eko.
“Maafkan aku, Nur aku bisa jelaskan semuanya.” Kata Eko.
“Maaf kamu bilang, 7 tahun kamu pergi tanpa kabar. Jangankan memberi kabar bahkan kedua temanmu juga tidak pernah bicara tentangmu kepadaku.” Kata Nur marah kepada Eko.
“Iya aku tahu, aku salah tidak pernah memberi kabar. Itu karena aku tidak ingin kamu berlarut dsri kesedihan karena kepergianku.” Jelas Eko.
“Tidak Eko itu bukan sebuah alasan, kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu setiap saat libur sekolah aku selalu pergi ke SD kita dulu, tapi selalu nihil kamu bahkan tidak pernah mengirim surat buatku!” Kata Nur sambil marah.
“Nur dengarkan aku, bukan aku tidak mau menulis surat tapi setelah pindah ke New York, aku di berikan ayah tantangan buat menyelesaikan sekolah dan kuliah dalam waktu 5 tahun. Mungkin bagi orang lain mustahil tapi tidak denganku. Aku pun berhasil dan ayah pun mengizinkan aku untuk kembali ke Indonesia.” Jelas Eko lagi.
“Tidak Eko aku tidak ingin mendengarkan apa pun alasanmu.” Kata Nur. Nur langsung berbalik badan dan melangkah pergi.
“Nur sebenarnya walaupun aku tidak memberi kabar tapi aku selalu memantau keadaanmu dari sana, aku tahu kalau ibumu meninggal setelah 3 tahun kepergianku. Aku juga tahu kamu sampai kuliah saat ini karena semuanya hasil dari kerja kerasmu sendiri dengan beasiswa dari sekolah. Aku tahu tempat favoritmu, makanan dan minuman favoritmu, dan aku juga tahu siapa-siapa teman dekatmu, aku tahu semua tentangmu Nur!” Teriak Eko menjelaskan kepada Nur.
Nur tidak memedulikan ucapan Eko, dia terus berjalan dan pergi meninggalkan Eko sendiri.
Nur terus berjalan dan tak terasa air matanya terus mengalir membasahi pipinya. Eko berusaha mengejar Nur tapi tiba-tiba Dian dan Tari menghalangi.
“Jangan di kejar biarkan dia sendiri terlebih dahulu.” Kata Dian.
“Iya sebaiknya kamu di sini saja biarkan Nur sendiri.” Kata Tari.
“Minggir kalian berdua, saya ingin mengejar Nur!” Kata Eko.
“Tidak Eko, kamu tidak mengerti betapa menderitanya masa SMP Nur, setelah kamu pergi.” Kata Dian.
“Itu benar kamu juga tidak tahu bagaimana perjuangan kami waktu SMA agar bisa masuk kuliah dan sampai di Jakarta.” Kata Tari lagi.
“Sebenarnya apa yang terjadi, apa yang tidak aku ketahui?” Tanya Eko.
“Jadi waktu SMP, Nur sering di bully bahkan dia pernah hampir dipresi karena hal itu.” Kata Dian.
“Depresi bagaimana ceritanya.” Tanya Eko lagi.
“Begini ceritanya.” Kata Dian mulai bercerita
Flashback Masa SMP Nur saat masa pembulian