
Eko terus menggendong Nur tanpa menghiraukan darah dan rasa sakitnya sendiri. Di dalam pikirannya hanya nyawa Nur yang berarti.
"Nur bertahanlah aku akan menyelamatkan nyawamu, jangan takut aku di sini." Kata Eko sambil menggendong Nur.
Sementara itu, 10 orang laki-laki di siksa oleh Sabar dan Bagus, mereka menyuruh pengawal untuk mematahkan kaki mereka satu per satu, dan laki-laki yang tadi menjambak Nur di siksa hingga lumpuh.
Eko yang begitu sampai di mobilnya langsung meletakkan Nur di dalam mobilnya dan dia pun naik dan segera mengendarai mobilnya dengan sangat laju tanpa memedulikan darahnya yang terus keluar. Dia melajukan mobilnya hingga melebihi kapasitas yang diterapkan untuk berkendara sehingga dalam waktu 30 menit Eko pun sampai di rumah sakit terdekat.
Eko pun menggendong Nur masuk ke rumah sakit sambil berteriak tanpa peduli orang lain karena otaknya hanya berpikir tentang Nur seorang.
“Suster!!! Cepat bawa brankar dorong kemari!” Teriak Eko.
“Maaf tuan, tuan siapa kenapa harus teriak-teriak seperti ini?” Tanya seorang suster.
“Banyak tanya kamu, cepat ambil dan panggil dokter wanita segera.” Perintah Eko dengan tatapan tajam membuat semua orang yang melihatnya ketakutan.
Karena mendengar keributan di pintu masuk seorang laki-laki berumur 40 tahunan dan wanita 40 tahunan mendekati Eko.
“Tuan muda, ada yang bisa saya bantu.” Sapa laki-laki itu.
“Sudah jangan basa basi lagi, cepat selamatkan nyawa wanita ini. Nyawa kalian tidak sebanding dengan nyawanya. Jika kalian gagal maka rumah sakit ini akan hancur.” Ancam Eko.
Suster wanita tadi serta dokter wanita itu pun membawa Nur dengan brankar ke ruang IGD mereka pun melakukan pengobatan terhadap Nur, sedangkan Eko mandar mandir menunggu di luar ruang IGD. Merasa kasihan dokter laki-laki tadi mendekat dan menawarkan memberikan obat kepada Eko untuk lengannya.
“Tuan muda, mari saya obati luka Anda.” Tawar dokter itu.
“Tidak perlu, ini tidak sakit.” Tolak Eko.
“Jangan seperti itu Tuan muda, jika kamu kenapa-kenapa nanti jika nona itu sadar dia akan sedih.” Pujuk dokter itu lagi.
“Baiklah, silakan kamu obati.” Eko mengulurkan tangannya yang terluka.
Dokter itu pun membuka kancing lengan baju Eko dan menaikkannya ke atas.
“Lukanya cukup dalam, tapi bisa tidak di jahit tapi karena tadi di paksa menggendong nona tadi jadi darah yang keluar cukup banyak.” Jelas dokter itu. Sambil membersihkan luka dan memberikannya obat dan memerbannya hingga selesai.
“Iya aku tahu.” Jawab Eko.
“Perkenalkan namaku Randy Subianto, dan tadi itu istriku Ratna Subianto kami adalah dokter pribadi keluargamu sejak turun temurun, mangkanya baru melihatmu aku sudah mengetahui bahwa kamu adalah Zeinko pewaris George Grup.” Cerita dokter Randy.
“Iya dokter, maaf tadi aku kasar.” Eko meminta maaf.
“Tidak apa-apa, aku juga pernah merasakannya sedih di saat orang yang kita sayang kesakitan, waktu itu dia ingin melahirkan anak pertama kami.” Dokter Randy bercerita untuk menghibur Eko.
Eko pun tersenyum dan tertawa mendengar cerita dokter Randy yang dapat masalah oleh istrinya yang sewaktu mengidam ingin melihat dokter Randy berpakaian wanita, saat istrinya kontraksi, pas anaknya terlahir dan banyak lagi. Sejenak Eko lupa akan masalahnya.
Sedang asyiknya bercerita lampu IGD yang tadi merah berubah menjadi hijau tandanya operasi berhenti. Istri dokter Randy, dokter Ratna pun keluar.
“Keluarga pasien.” Kata dokter Ratna. Tapi suaminya menyela.
“Sayang, ini tunangannya Tuan Muda Zeinko, kenapa masih bertanya?” Tanya dr. Randy.
“Ada apa dokter, ada masalah?” Tanya Eko langsung.
“Nona itu kekurangan banyak darah, dia kehabisan banyak darah karena luka di cambukkannya. Untuk itu kita harus mengadakan transfusi darah. Darah yang di butuh kan darah golongan O+ karena darah O+ termasuk darah yang susah di cari, jadi stok di rumah sakit ini tidak ada.” Jelas dokter Ratna.
“Ambil darahku, aku memiliki golongan darah yang sama dengan Nur yaitu O+.” Kata Eko.
“Tapi tuan muda, Anda juga baru kehilangan banyak darah.” Kata dokter Randy mengingatkan.
“Aku tidak butuh nasihat kalian, cepat ambil darahku dan selamatkan Nur jika tidak kalian akan aku habisi dan rumah sakit ini akan tamat riwayatnya!” Gertak Eko marah.
“Baiklah sesuai perintah tuan muda.” Kata dokter Ratna.
Seorang perawat pun membawa Eko ke ruangan IGD untuk melakukan transfusi darah ke Nur. Eko pun melihat Nur yang terbaring lemah dan tak berdaya. Eko pun semangkin yakin dengan keputusannya yang tepat untuk transfusi darah karena baginya nyawa Nur lebih berharga dari apa pun di dunia ini.
Setelah transfusi selesai Eko pun mendekati Nur yang berbaring di brankar rumah sakit.
“Nur bertahanlah, aku akan selalu ada di sampingmu untuk melindungimu, kamu harus hidup karena nyawamu lebih berharga dari pada nyawaku.” Kata Eko sambil memegang tangan Nur dan lupa batasan mereka. Tiba-tiba penglihatan Eko gelap dan dia ambruk pingsan di kursi samping braankar Nur.
1 hari kemudian
Eko tersadar dari pingsannya dan langsung berteriak.
“Nurrrrrr!!!” Teriak Eko.
“Iya Eko, kenapa kamu memanggilku?” Tanya Nur.
“Nur benar itu kamu, aku tidak mimpikan kamu selamat, kamu benar-benar Nur kan?” Tanya Eko.
“Iya ini aku. Kenapa kamu tidak percaya.” Kata Nur.
Eko pun merasa senang akhirnya Nur selamat dan sembuh, dia pun bergegas mendekati Nur dan ingin memeluknya Nur.
“Berhenti Eko, jangan sampai kamu memelukku.” Kata Nur judes.
“Maaf Nur, aku terbawa emosi.” Eko menyadari kesalahannya.
“Sudahlah, oh ya Eko bagaimana luka di lengan kamu, apa masih sakit?” Tanya Nur.
“Sudah baikkan, ini luka kecil kok Nur, jangan kuatir.” Eko tersenyum pada Nur.
Nur merasa bersalah karena dirinya Eko terluka, demi menolongnya Eko rela tertusuk pisau Vivi, tak peduli terluka dia masih menggendong Nur dan membawa Nur ke rumah sakit. Bahkan parahnya dia juga yang mendonorkan darahnya walaupun dia tahu dia juga kehabisan banyak darah tapi masih saja tidak peduli akan kesehatannya sendiri.
“Eko maafkan aku ya, sudah membuat kamu susah.” Nur tertunduk sedih.
“Nur jangan sedih, aku tidak ingin kamu menangis. Kamu tahu jika dengan sebuah nyawa untuk membayar keselamatanmu maka aku akan melakukannya, aku akan menukar nyawaku sendiri agar kamu selamat. Karena bagiku nyawamu lebih berharga dari pada nyawaku.” Jelas Eko.
“Mengapa kamu masih saja bod*h seperti dulu, demi aku berkorban segalanya.” Nur menangis.
“Sudahlah Nur, aku tidak apa-apa sekarang. Aku boleh tahu dari mana kamu tahu kalau kamu itu membuat aku susah.” Tanya Eko.
“Tadi pagi aku terbangun dari pingsan semua teman-teman kita ada, dan mereka bercerita semuanya tentang apa yang terjadi kemari malam.” Jelas Nur.
FLASHBACK
1 hari yang lalu