MY FIRST AND ENDING LOVE

MY FIRST AND ENDING LOVE
Dia berbeda


My First and Ending Love


Part 2


Pov Eko


Hari ini pertama kali aku masuk sekolah di tempat yang berbeda jauh dari riuh dan halu lalang kendaraan. Awalnya terasa biasa saja sampai lonceng tanda masuk berbunyi semua murid masuk ke kelas dan duduk di tempat mereka masing masing. Disaat semua sedang sibuk diam tapi ada juga yang terus melirikku karena aku berdiri depan kelas. Aku melihat seorang gadis kecil rambut di kuncir ke belakang sambil bermain pena yang diputarnya seperti kipas entah apa dibenak gadis tersebut sehingga dia lupa kalau ada orang di depan kelas sedang mencari tempat duduk kosong. Padahal hanya bangku disampingnya yang satu satunya kosong sampai akhirnya wali kelas kami buk Ros masuk.


“ Selamat pagi anak anak.” Sapa buk Ros.


“ Pagi buk.” Jawab kami semua.


“ Eh ini murid baru kan, Kenapa masih berdiri disini bukan duduk sana mau jadi maniken kamu di depan.” Kata buk Ros kepadaku.


Didalam hati aku berpikir “ Busyet ni guru baru aja sampai sudah jadi mercon mulutnya emang aku mirip maniken di toko toko.”


“ Iya buk. Tapi saya tidak tahu harus duduk dimana buk.” Jawabku.


“ Lah maseh tanya lagi, Liat tu di pojok bangku paling belakang disamping Nur kosongkan emang ada orang di sampingnya. Atau kamu bisa liat temannya sebangsa ghost apa.” Kata buk Ros.


“ Dah ini guru mulutnya lama lama mangkin parah lebih baik aku duduk aja dari pada panjang ceritanya.” Kata Eko dalam benaknya.


“iya ibu syantik.” Aku menyebut kata syantik sedikit pelan.


Aku pun berjalan ke bangku belakang dan duduk dibangku paling pojok. Dan setelah itu pelajaran dimulai tanpa sepatah kata pun dengan teman sebangkuku ini. Sampai saat istrahat tiba aku pergi ke kantin sekolah karena cacing cacing di perut sudah memberontak ingin minta makan. Sehabis dari kantin aku pun masuk kelas dan tanpa ku duga terjadi hal yang menarik di dalam kelas. Ada garis pembatas di meja kami tertulis disana“BATAS AREA DILARANG LEWAT JIKA TIDAK DENDA RP.10000 1CM”. Dan disaat aku sibuk berpikir akan tulisan itu tiba tiba ada yang memukul belakang tubuhku.


“Woi tower ingat kamu dilarang lewat batas minggir aku mau duduk jangan berdiri disitu.”katanya Nur.


“ Yang benar saja ini cewek tak ada lembut lembutnya padahal buat batas area tidak tanpa izin baginya tidak adil meja 200 CM dia 150 CM aku di kasi 50 CM.” Ingin protes rasanya dibenakku.


“ Terserah nggak peduli yang penting di sini aku pendekarnya.” Balas Nur cuek.


“ Pendekar tapi kayak donald duck kecil tapi gendut.” Ejekku lagi.


“Apa kamu bilang.” Teriaknya Nur.


Lalu Nur melepaskan sepatunya dan bruukkk sepatunya mengenai tubuhku dan aku meringis karena bukan karena sakit tapi karena melihat tingkahnya Nur. Hari hari berlalu tidak terasa hampir satu semester aku di sekolah ini. Hari itu entah apa yang merasuki Nur sikap jahilnya ingin mencari korban. Dan terjadi lah keributan karena ada masuk perangkapnya aku berniat ingin menegurnya malah dia tidak mendengar dan parahnya buku yang kami gunakan untuk bersuratan di ambil buk Ros. Kami pun di hukum di depan kelas dan harus mengerjakan tugas matematika 100 soal. Sepulang sekolah kami pun mengerjakannya di kantin sekolah kebetulan buka hingga sore. Baru 5 soal aku mengerjakan soal tiba tiba terdengar suara dengkuran.


Ini cewek tak ada malu malunya tidur berdengkur keras kayak kerbau. “ Ppffhh.” Aku pun menahan tawa dia tertidur dengan kepalanya d letakkan diatas tangannya dimeja kantin. Aku terus mengerjakan tugas dari buk Ros. Untung aku jago matematika jadi tidak sulit buatku menyelesaikannya dengan cepat. Sekitar 1 jam aku mengerjakan soalnya tiba tiba aku dikejutkan Nur bersandar kepala di bahu kiri ku. Agar dia tidak terbangun aku menurunkannya pelan pelan supaya tugas cepat selesai dan kami bisa pulang cepat. Hingga waktu terus berlalu tak terasa jam 4 sore. Ku lihat Nur masih terlelap disampingku. Aku memandangi wajah manis dan polosnya tanpa berkedip ku pandangi dia. Begitu lucu dan manisnya saat dia diam dan tertidur seperti ini. Disaat aku mencoba merapikan rambutnya yang terurai dari kuncirannya tiba tiba dia terbangun dan mata kami saling menyatu berdebar debar jantungku terasa ingin copot dan tak karuan berdetaknya. Apa yang sedang ku rasakan mengapa terasa debaran yang kuat di dalam dadaku. Matanya melotot kearah ku lalu dia tiba tiba mendorong wajahku yang berjarak 20 CM dari wajahnya.


“ Mau ngapain kamu jangan macam macam aku lempar kamu pake sepatuku lagi ya.” Ancam Nur padaku.


“ Enggak tadi tadi tadi ada lalat di mukamu katanya ada iler dekat bibirmu jadi dia kepengen hilangkan.” Ejekku.


Nur pun mengelap bibirnya “ Enak aja kamu kali tidur ileran. Eh tunggu dulu mana tugasnya sudah selesai belum.” Pinta Nur.


“ Ya sudahlah Eko dilawan baru tugas kayak gini kecil.” Mencoba sombongkan diri.


“ Kalau begitu ini buku aku bawa pulang esok aku bawa lagi.” Nur lansung beres beres buku ke tasnya.


“ Eh enak aja, kerjain sendirilah.” Aku mencoba buat dia tidak marah.


“ Terrserah aku dong karena aku bosnya di sini.” Kata Nur jahat.


Nur pun pergi meninggalkan ku sendiri di kantin, dia berlari dan mengambil sepedanya di Parkiran lalu pulang ke rumahnya. Meninggalkan ku sendiri dengan seribu pertanyaan di hatiku tentang rasa yang berdebar didalam dadaku.