
boy melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya,tatapan tertuju pada sebuah kotak kecil yang ada di atas meja kerjanya.di ambilnya kota berwana pink itu lalu di buka.mata nya memanas penuh emosi,seperti ada benda tumpul yang menghantam dadanya.
l love you boy and our baby
boy meremas secarik kertas itu dan membuangnya,di letakan kota pink yang berisi sebuah tespack kehamilan milik putri.
boy mengambil ponselnya dan langsung menghubungi mba dini " mba wanita itu sudah menjalankan rencana liciknya " kata boy sambil mengepalkan tangannya menatap ke arah kota pink yang tergeletak di bawah
" santai ya de kita ikutin permainannya jangan buat dia curiga " kata mba dini tenang " pelan pelan kita bongkar semua "
" iya mba " jawab boy lalu memutuskan panggilannya.boy mengirim pesan kepada Edo [ dia sudah mulai bergerak Di ]
tak lama kemudian Edo membalas pesan nya.
[ tenangin diri loe,biar kita ikutin dulu permainan dia supaya kita bisa korek lebih dalam lagi ]
boy menatap nanar sebuah foto di layar ponselnya di sentuh foto itu dengan ujung jari telunjuknya " kenapa selalu Berat untuk mendapatkan mu sayang " batin boy menatap lembut foto Rina yang sedang bersama nya saat mereka di Jogja.
di sisi lain Rina sedan melakukan meeting di kantornya,dia masih mendengarkan beberapa penjelasan dari klien nya.sampai akhirnya ada sebuah pesan masuk di ponselnya
[ bisa kita ketemu malam ini ?] pesan dari boy.
Rina mengerutkan keningnya sambil tersenyum,aneh saja baru semalam mereka bertemu tapi laki laki itu sudah rindu lagi kah.
[ oke di mana?]
tak lama boy membalas [ aku temui kamu di kantor ya GPP kan ?] Rina berfikir sejenak,ya memang untuk saat ini bertemu di kantor akan lebih leluasa di banding dia harus ke restoran atau tempat umum lainnya.
[ oke aku tunggu ]
Rina meletakan ponselnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Suasana di rumah sangat tegang saat ibu dan ayahnya boy mendapat sebuah kejutan dari putri yang masih menyandang status istri dari anak laki laki mereka.ya putri baru saja memberi tahu kehamilannya pada kedua orang tua boy,tapi ibunda boy terlihat kaget.pasalnya bagaimana mungkin karna kamar mereka terpisah sejak lama jadi bagaimana wanita ini hamil.sementara ayah boy justru terlihat senang tanpa menaruh curiga sama sekali.lalu mba dini datang dengan Dewi ke rmh,benar saja dugaan mba dini kalau putri sudah memberitahukan berita kehamilannya pada kedua org tuanya.mba dini menyalakan rokoknya sambil melirik putri " kok bisa ya sekali berhubungan langsung top cer " kata kata mba dini membuat suasana hening sejenak .
" bisa lah mba karna saat itu putri dalam masa subur " sahut putri
mba dini masih menatap putri dengan tatapan penuh kecurigaan tapi Dewi anak dari mba dini langsung menyenggol pelan lengan ibunya.mba dini pun paham dan melangkah keluar menuju terasa samping rumah keluarganya.
[ ayah sama ibu sudah tau kehamilan putri ] pesan singkat yang dikirim mba dini pada adik nya.
[ iya mba ] balasan dari boy.
lalu tiba tiba ayahnya memanggil mengajak mba dini untuk mengobrol di ruang keluarga.
di sana sudah ada ibu,putri,Dina yang baru saja datang dengan anaknya.dini menyapa Dina sambil bersendah gurau sejenak sampai saat ayah menegurnya " Din..tolong hubungi adek kamu bilang sama boy untuk memikirkan masalah perceraian nya karna putri sedang hamil "
Dina yang baru datang langsung melongo bingung tapi dini kakak tertuanya langsung mengisyaratkan nya untuk diam
" kenapa gak putri saja yang hubungin kalau kamu bisa hamil tandanya hubungan kamu dan boy dalam keadaan baik Donk "
saat mba dini berkata seperti itu terlihat jelas ada raut bingung dan gugup yang menonjol dari diri adik ipar nya itu.ayah pun menoleh kepada putri,putri yang mendapat tatapan dari orang di situ pun hanya tersenyum kecut.
" oke Dina yang telpon tapi putri yang ngomong ya " Dina langsung mengeluarkan ponsel dari tas jinjing nya.mencari nama adiknya di layar ponsel dan menekan tanda Biru. tak lupa dina menyalakan loud speaker di ponselnya.dan panggilan pun terhubung
" iya mba ?" suara boy terdengar lelah di sebrang panggilannya lalu Dina menyodorkan ponselnya pada putri.dengan ragu ragu putri mengambilnya.
" b..boy " kata putri gugup " bisa gak kamu pulang cepat karna ayah..ayah mau membahas masalah perceraian kita "
lama tak ada sahutan dari boy hanya terdengar deruan nafasnya yang cepat,sepertinya dia sedang menahan emosi.
" hmm " jawab boy lalu mematikan panggilannya lebih dulu.dina dan dini menoleh lalu melihat putri yang gugup entah sudah berapa kali perempuan itu gugup.
" kita tunggu ajah dulu sampai boy pulang " kata Dina. " mba gue mau beli Yamin di tempat biasa kita beli anter yuk sekalian beliin buat ibu sama ayah kamu mau put? " tanya Dina sambil memasukan kembali ponselnya dan mengambil tas jinjingnya.
putri mengangguk
" ayo mba kita naik motor aja ya "
kata Dina lalu melangkah pergi dengan dini keluar dari rumah menggunakan motor milik matic milik org tuanya.
sekitar pukul 4 sore boy sudah masuk ke sebuah gedung yang cukup mewah,tinggi dan modern.dia sudah berada di kantor rina. boy jalan menuju lift karna tadi Rina mengirim pesan untuk menemuinya di lantai 40.
tinggggg!!!!! pintu lift terbuka tepat di lantai 40.boy keluar dari dalam lift yang langsung melihat sebuah meja sekertaris
" permisi " sapa boy pada Evie ya Evie kan memang sekertaris rina.evie pun tersenyum dan melirik ke arah pintu ruangan Rina.
# Rina
sudah berapa kali Rina menatap jam tangannya, berharap cepat cepat sore.selain ingin cepat pulang dia juga ingin tau apa yang mau boy bicarakan padanya.rina sudah mengirimi boy pesan WhatsApp kalau dia bisa langsung naik ke lantai 40 ruang kerjanya.
Entah kenapa perasaan Rina tak tenang,seperti ada sesuatu di hati nya yang sejak tadi berkecamuk tapi Rina sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Tok tok tok
suara pintu ruangannya si ketuk
" Masuk !!!"
boy membuka pintu ruang kerja Rina,terlihat senyum manis dan sendu dari balik nya.rina pun langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri boy.
" masih sibuk ?" sapa boy terlihat dia membawa satu kantong putih yang entah isinya apa,tapi wangi ayam goreng tercium dari balik plastik putih itu." nasi uduk kesukaan kamu tempat dulu kita selalu makan kalau aku habis jemput kamu kerja " boy menunjukan plastiknya sambil tersenyum.
" wow aku jadi laper banget " sahut Rina bersemangat mengambil kantong plastik yang di bawa boy,mengeluarkan dua bungkus nasi uduk lalu Rina menelpon Evie untuk meminta tolong di bawakan dua buang piring,sendok dan gelas oleh OB.
" udah lama banget gak makan nasi uduk ini,terakhir makan di situ ya dulu " kenang Rina " aku selalu lewat ingin makan tapi ragu ragu "
" kenapa ?" tanya boy
" karna terlalu banyak kenangannya " jwb Rina tatapan nya lurus ke arah depan tanpa menatap boy.boy tau Rina bukan tipe perempuan yang mudah jatuh cinta apalg sayang dengan lawan jenis dan itu membuat boy benar benar merasa sangat bodoh.kenapa dulu dia malah menyerah dengan menikahi putri yang justru tidak mencintai nya.boy menggenggam tangan rina membawanya kepada dirinya lalu mengecup punggung tangan Rina,membuat Rina menoleh pada laki laki yang sangat dia cintai.
" aku minta maaf " kata boy " mau makan sama aku kan "
Rina mengangguk,tak lama kemudia OB pun datang membawakan apa yang Rina minta.dan saat ob itu pergi Rina dan boy mulai menyantap makanan mereka berdua.sambil sesekali saling mengingat masa masa mereka dulu.
makanan sudah habis saat ini boy akan berusaha memberitahu Rina tentang semuanya supaya nanti Rina tidak mendengar nya dari orang lain.dan boy bisa dengan tenang menjalankan rencana untuk menyelidiki masalah bayi yang ada dalam kandungan putri.
" sayang ada hal yang ingin aku beritahu " kata boy mereka berdua sedang duduk di sofa kecil yang membelakangi kaca besar menunjukan lampu lampu kota Jakarta yang sudah menyala karna hari sudah mulai menjelang malam.rina menoleh lalu menyandarkan kembali kepalanya di pundak boy. " Putri Mengaku Hamil "
perkataan boy membuat nafasnya tercekat di tenggorokan,bahkan detak jantungnya menjadi tidak karuan. Rina berusaha tenang boy yang merasakan Rina menegang di pundaknya langsung merangkul tubuh Rina memeluknya dalam lalu mencium keningnya
" aku tidak yakin itu anak ku sayang,,karna aku sangat yakin aku tidak melakukan hal lebih saat itu "
entah kenapa rasanya mata Rina memanas tapi sekuat tenaga dia tidak ingin air mata nya turun.
" karna saat itu pun putri menjebak ku dengan memasukan obat perangsang dalam minuman ku dan aku mendapati milik ku tidak lengket atau seperti orang yang habis berhubungan badan "
Rina mendongakan kepalanya lalu menatap wajah boy dengan dalam,boy bisa melihat kalau mata Rina sudah berkaca kaca.
" Kalau itu anak kamu bagaimana ?" tanya Rina,pertanyaan yang sampai detik ini boy masih tidak tau harus menjawab apa.
" apa kamu tidak percaya ?"
" aku bukan tidak percaya pada mu boy,tapi aku takut kalau__!" boy langsung mengecup bibir Rina hatinya tak tahan melihat wanitanya menahan semua rasa sakit,boy tau ada rasa kecewa dalam setiap perkataan yang keluar dari mulut Rina. boy melepaskan ciuman mereka tangan Rina masih melingkari leher boy dan yang satunya di genggam oleh boy
" aku akan buktiin sama kamu kalau aku tidak melakukan hal itu dengan dia dan yang ada dalam kandungannya bukan tanggung jawab ku " kata boy " dan aku mohon kasih aku kesempatan jangan lepasin aku lagi,aku gak bisa kalau harus kehilangan kamu lagi "kali ini justru boy lah yang tidak bisa menahan hatinya apalg air matanya.bulir kristal itu terjatuh begitu saja, padahal tinggal sedikit lagi boy bisa bersama dengan rina.tapi semuanya jadi lebih lama lagi karna satu masalah dan masalah ini pasti akan lebih rumit.
" Hanya dengan semangat dari kamu,aku pasti bisa lewatin semua ini sayang "
Rina mengelus pipi boy yang di penuhin dengan bulu bulu halus,wajahnya sudah memerah karna tangisan yang tertahan.boy mengambil tangan Rina yang berada di pipinya mengecupnya lalu membawanya ke dalam dadanya " kamu tau kamu bisa rasakan detak jantungku sekarang " Rina merasakan detak jantung boy yang terasa di telapak tangannya boy menelusup kan tangan Rina masuk ke dalam tubuhnya." dia bisa berhenti saat kamu pergi lagi,cukup sekali aku kehilangan kamu sayang dan aku tidak mau untuk kedua ataupun kesekian kalinya "
Rina tau boy tidak mudah berkata kata seperti itu,bahkan Rina sudah pernah melihat perjuangannya dulu,bagaimana boy sampai membela Rina di hadapan ayahnya boy,bahkan rela di usir tanpa fasilitas apapun dari sang ayah.hidup susah hanya mengandalkan kerja paruh waktu di restorant teman kuliahnya.di situlah dulu Rina benar benar merasa boy berbeda,tidak seperti.laki laki lain yang justru hanya mempermainkan perasaannya apalg dengan statusnya yang janda anak satu.tapi apakah hal itu akan terulang lagi,apakah ayahnya boy akan membuat anaknya itu menderita lagi,karna Rina tidak kuat melihat beban boy saat itu.sampai akhirnya dia menyerah dan meninggalkan boy.tapi hati kecil ya saat ini yakin boy akan bisa melaluinya di tambah sekarang mereka sudah lebih dewasa dan di kelilingi oleh sahabat sahabat yang peduli pada mereka berdua.rina mengecup singkat bibir boy mengusapnya dengan jaringanya
" aku akan tunggu kamu,pergi dan buktikan kalau kamu bukan laki laki berengsek sayang aku yakin " kata Rina " tapi kalau itu anak kamu,kamu harus relain aku "
boy langsung memeluk Rina,keduanya saling merasakan rasa sakit di dada mereka.bagaimana tidak baru ingin melangkah dengan bahagia ada lagi ujian yang menunggu mereka.
" aku gak akan lepasin kamu sampai kapan pun " kata boy
Rina mengusap punggung laki laki itu memejamkan matanya supaya dia bisa melepaskan rasa sesak di dadanya.
" kamu tau kamu lebih dari sebuah rasa untuk ku Rina,tapi kamu nyawa aku dan aku tidak bisa kalau tanpa kamu cukup sekali cukup "
keduanya saling merengkuh dalam pelukan mereka,tanpa sadar kalau Evie dan Ardy mengintip kedua nya dari balik pintu.
" kita harus cepet cari tau semuanya Vie "
Evie mengangguk tak sadar kalau air matanya sudah basah di pipinya " gue bakal bikin perhitungan sama tuh benalu satu liat ajah nanti "