
Aku terbangun, melihat mas Imam tidur disebahku dengan memelukku. Kulihat jam diatas meja sebelahku sudah jam 3. Kuhirup nafas panjang begitu terasa berat dan kuhembuskan perlahan-lahan. Kulakukan berulang-ulang sampai sesak didadaku sudah berkurang.
Kugeser pelan-pelan tangan mas Iman supaya dia tidak terbangun. Aku beranjak dari tempat tidur. Aku ingin mandi supaya badanku segar dan sholat tahajud.
Selesai sholat aku benamkan pikiranku dengan mengingat Allah. Ku hanyutkan hatiku dalam dzikir. Kusejukkan dengan istighfar. Dan kusirami dengan sholawat. Airmataku kembali meluap seperti air sungai pada musim hujan. Aku ingin rasanya teriak sekeras mungkin tapi teriakan itu kutahan dalam mulut. Hanya hatiku yang berteriak, ku tekan dadaku kuat-kuat sampai membungkukkan tubuhku.
"Yaa Allah, sakit sekali. Sangat sakit." kataku berulang-ulang.
Ku tengadahkan kedua tanganku. Aku akan merayu pemilik jiwa dan ragaku. Pemilik takdirku.
"Yaa Allah, aku tak mampu lagi menyakiti mereka (suami dan ibu mertuaku). Aku tak mampu lagi menunggu lebih lama. Kesedihan dan kekecewaan diwajah mereka sangat menyayat hatiku, membayangi hidupku. Tiap saat dengan curahan kasih sayang mereka yang tulus selalu menamparku. Terimalah syukurku Yaa Robbi karena tlah KAU tempatkan aku ditempat yang penuh cinta ini. Yaa Allah, berilah aku kesempatan membalas kebaikan mereka kepadaku, berilah kesabaran dan keikhlasan dalam hatiku. Jika memang suamiku harus menikah lagi agar memiliki penerus keturunannya maka aku akan terus belajar ikhlas menerimanya. Berikahlah kelembutan hati dan kebijaksanaan pada mas Imam dan berikanlah kelapangan hati kepada Ibu agar bisa menerima wanita lain sebagai menantu keduanya dikeluarga ini. Aamiin." Ku tutup do'aku. Kembali kutumpahkan air mataku. Ini sangat berat bagiku, tapi aku juga menginginkannya agar setidaknya dalam hidupku tidak dibayangi wajah kecewa mas Imam dan Ibu. Aku masih terduduk, merenung dan berpikir sembari menanti subuh.
•••
Versi Imam
Aku terbangun mendengar suara terisak-isak. Aku mengucek kedua mataku sebentar dan duduk menoleh jam sudah menunjukkan jam 4 pagi. Kulihat Hawa sedang duduk, masih memakai mukenanya berdzikir.
Aku melihat memperhatikannya. Ingin rasanya aku menghampirinya dan memeluknya agar dia tenang. Aku tau dia pasti masih kepikiran soal kejadian tadi malam.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Hawa. Kenapa tiba-tiba bicara ngawur seperti itu. Seolah-olah dia kehilangan setengah kesadarannya untuk berpikir." Batinku.
Tiba-tiba suara dzikirnya berubah menjadi rintihan.
"Yaa Allah sakit sekali. Sangat sakit."
Dia terus mengulan-ulang rintihan itu sambil menekan-nekan dadanya dan menunduk. Ku geser kakiku untuk turun dari ranjang, tapi terhenti ketika kulihat Hawa sudah mengangkat kedua tangannya untuk berdo'a. Tidak, aku tidak boleh mendekat dan menganggunya untuk dia menumpahkan seluruh isih hatinya kepada penguasa dirinya, penguasa alam semesta.
Aku memasang telingaku baik-baik agar bisa mendengarkan apa yang diucapkan Hawa.
"Yaa Allah, aku tak mampu lagi menyakiti mereka. Aku tak mampu lagi menunggu lebih lama. Kesedihan dan kekecewaan diwajah mereka sangat menyayat hatiku, membayangi hidupku. Tiap saat dengan curahan kasih sayang mereka yang tulus selalu menamparku. Terimalah syukurku Yaa Robbi karena tlah KAU tempatkan aku ditempat yang penuh cinta ini. Yaa Allah, berilah aku kesempatan membalas kebaikan mereka kepadaku, berilah kesabaran dan keikhlasan dalam hatiku. Jika memang suamiku harus menikah lagi agar memiliki penerus keturunannya maka aku akan terus belajar ikhlas menerimanya. Berikahlah kelembutan hati dan kebijaksanaan pada mas Imam dan berikanlah kelapangan hati kepada Ibu agar bisa menerima wanita lain sebagai menantu keduanya dikeluarga ini. Aamiin."
Hawa menutup do'anya dan kembali terisak menangis. Aku terpaku, tidak kusadari air mataku jatuh hingga pipikupun basah, dadaku sesak mendengar bait-bait do'a Hawa. Aku baru menyadari betapa berat beban batinnya selama ini, meskipun aku dan Ibu sudah berusaha setenang mungkin dihadapannya tetap Hawa pasti paham karena kelembutan hatinya yang selalu peka terhadap perasaan orang lain.
"Apa yang harus aku lakukan sebagai suaminya? Aku telah bersabar dan menyemangatinya. Bahkan dihadapannya aku sudah berusaha sekuat mungkin menutupi kerinduanku untuk menjadi seorang ayah. Karena tekanan yang sekian lama ia pendam sendiri inikah membuat Hawa memiliki ide konyol itu?" pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku.
Hawa masih terduduk diam, sepertinya dia sudah lebih tenang. Aku beranjak dari dudukku dan kuhampiri dia. Ku peluk dia dari belakang sambil aku duduk. Hawa kaget dan menolehkan kepalanya.
"Mas sudah bangun?" tanyanya dengan suara serak.
Aku tidak menjawab, pelukan yang semakin kueratkan adalah jawaban yang kuberikan padanya. Hawa mengusap lembut tanganku yang ada diperutya. Kurasakan dia menarik nafas panjang.
"Ayok siap-siap sholat subuh."
Aku masih enggan menjawab dan terus meneluknya. Rasanya hari ini aku tak ingin melakukan apapun, aku hanya ingin memeluk dia sepanjang hari agar istriku tenang dan bahagia, melupakan semua penderitaan yang selama ini ia pendam.
Kami akhirnya sama-sama terdiam, dia masih dalam pelukanku sampai akhirnya kulepaskan dia saat sudah terdengar adzhan subuh.
•••
Seperti biasa mas Imam berangkat kerja sedangkan aku bersiap untuk mengikuti pengajian salah seorang ustadz ternama yang diundang untuk mengisi ceramah dimajelis taklim.
Aku diantar pak Hasan, menuju tempat acara. Karena acara dimulai jam 9 aku terlambat 30 menit. Aku masuk kedalam, ketempat khusus wanita yang sudah disiapkan panitia.
Aku bertemu beberapa teman2ku dan aku duduk bersama mereka.
"Tumben telat mbak?" tanya Yeni.
"Biasanya ontime" Sahut Ratu.
"Mungkin karena mbak Hawa makeupnya lebih tebal dari biasanya. Jadi tambah waktu buat dandan."
Aku tak menjawan apapun, hanya melempar senyum tipis pada mereka. Aku memang sengaja mempertebal makeupku untuk menutupi wajahku yang masih sembab akibat menangis semalam.
Nissa yang duduk disebelahku menatapku lekat-lekat. Tidak bicara apapun tapi dari tatapan matanya aku sudah bisa menjabarkan banyak kata yang ada dihatinya.
Kami kembali diam dan menyimak ilmu yang disampaikan oleh ustadz.
Waktu berlalu dan pengajian sudah selesai. Jama'ah wanita sudah keluar.
"Mbak Hawa, mbak Nissa aku sama Yeni pulang dulu ya." pamit Ratu
"Kok tumben buru-buru. memang mau kemana?" tanyaku.
"Aku mau menemani Yeni yang hari ini ada seseorang datang kerumahnya." jawabnya sambil melirik dan mengoda Yeni.
"Ta'aruf" tanyaku sambil melihat rona merah wajah Yeni yang sambil tersenyum malu-malu.
"Hu'uumm" Ratu mengangguk.
"Alhamdulillah, semoga berjodoh ya sayang." kataku sambil memeluk Yeni.
"Terima kasih mbak. Do'akan berjodoh dan lancar."
"Aamiin." kami kompak mengamini do'a Yeni.
Bergantian dengan Nissa yang memeluk Yeni dan menyemangatinya.
"Ya udah kami duluan yaa kakak senior." pamit Yeni yang memang memiliki sifat periang.
"Iya, hati-hati." jawab Nissa.
"Assalamu'alaikum." Yeni dan Ratu kompak salam.
"Wa'alaikumsalam." Aku dan Nissa juga menjawab bersamaan.
Mereka berdua pergi meninggalkan kami dengan wajah sumringah.
"Kamu dengan supir?" tanya Nissa terlihat canggung dan tidak seperti biasanya.
"Iya. Aku sekalian ada perlu. Mau ikut?"
"Nggaklah, lain kali aja. Aku juga masih ada pekerjaan. Kejar target untuk dipasarkan waktu puasa nanti."
"Emm... Ya udah kamu hati-hati ya. Semoga lancar. Barokallah."
Nissa mengangguk dan memelukku.
"Assalamu'alaikum." sambil meninggalkan aku yang berdiri memperhatikan langkahnya.
"Wa'alaikumsalam."
"Yaa Allah akankah sahabatku itu menjadi adik maduku? Akankah aku membagi ranjangku dengannya? Akh, setidaknya jika dia yang menjadi istri baru suamiku aku tidak perlu khawatir. Aku mengenalnya dengan baik, dan kita pasti cocok." Batinku.