
Tidak banyak tamu undangan. Hanya keluarga dan beberapa tetangga sekitar panti yang diundang oleh bu Umi.
Aku kekamar Helwa, memastikan kesiapannya.
Kulihat dia sudah siap dengan gaun pengantin rancangan Nissa.
"Mbak," Dia menyapaku begitu melihat aku masuk dari pintu kamarnya.
"Assalamu'alaikum." salamku.
"Wa'alaikumusalam."
Aku melangkah mendekatinya, yang sedang duduk disisi ranjangnya
"Maaf mbak langsung masuk, tadi didepan kamar ketemu Ibu."
"Nggak papa mbak."
"Kamu, sudah siap?"
"Insya Allah mbak." jawabnya tenang. Tapi tampak jelas dia sedang tidak tenang.
"Wajar kamu merasa deg-degan. Karena setelah ijab qobul nanti kamu sudah sah menyandang status sebagai istri." sambil aku memrapikan kerudungnya.
"I-Iya mbak" jawabnya gugup.
"Kamu sangat cantik dan anggun sayang." pujiku.
"Terima kasih mbak. Semua karena mbak Hawa yang mempersiapkannya." aku tersenyum mendengar jawabannya.
"Ya sudah, Ayo keluar. Sebentar lagi dimulai."
Helwa mengangguk.
Aku menuntun Helwa, keluar dari kamar.
Yaa Allah kuatkan aku, saat ini aku mengenggam tangan wanita yang akan dinikahi suamiku, wanita yang kupilih menjadi maduku, wanita yang dengannya aku berbagi segalanya sebagai istri dari suamiku. Jadikanlah pernikahan ini berkah untuk kami semua, jadikanlah pernikahan ini sebagai jalan agar kami lebih dekat kepada-Mu. Aamiin. Batinku.
Didepan pintu kami bertemu dengan bu Umi,
"Mari Bu kita antar Helwa." ajakku.
"Nak, Ibu menyayangi kalian berdua. Hawa, tentu kedepannya akan selalu ada ujian didalam rumah tangga kalian. Seberat apapun itu jangan pernah untuk saling membenci. Ingatlah hubungan kalian yang sangat baik sebelum ini. Ibu titip Helwa juga kepadamu. Jika salah tegurlah dia, Ingatkan dan nasihati dia dengan baik. Begitulah selama ini ibu mendidiknya. Dan kamu Helwa, hormatilah kakakmu. Akan sangat berat kamu harus berbagi suami. Tapi jika kalian mampu, Insya Allah surga adalah balasan untuk kalian."
Aku dan Helwa saling bertatap, kemudian mengangguk.
Kemudian bu Umi memeluk kami bergantian.
Diruang tempat akad berlangsung, tersekat tirai antara tamu wanita dan tamu pria. Begitupun dengan mas Imam, pengulu, dan para saksi. Karena Helwa yatim maka dia meminta kepada pamannya yang menjadi wali atas dirinya.
Aku dan Bu Umi menuntun Helwa keluar untuk duduk dibarisan depan khusus wanita. Semua mata menatap kami. Tatapan takjup dengan kecantikan Helwa juga tatapan terharu karena aku sendirilah yang membawa calon istri suamiku.
Dibalik tirai tipis kami bisa melihat dan mendengar akad yang akan segerai dimulai.
Terasa perih seperti tersayat hatiku, seakan juga ada batu besar menghimpit dadaku. Sangat sakit dan perih hingga untuk bernafas saja rasanya sangat sulit.
Ku tekan dadaku dengan tangan kananku.
Air mataku menetes, aku tidak lagi mampu membendungnya.
Hanya dalam hitungan beberapa menit kedepan maka aku sudah bukan lagi satu-satunya istri mas Imam. Akan ada wanita cantik dan muda yang juga akan melayaninya sepenuh hati.
Helwa meraih tangan kiriku. Digenggamnya kuat. Kuangkat wajahku dan menoleh kepadanya. Kulihat air matanya juga mengalir, rona sedih tampak diwajahnya.
Astaghfirullah... Mestinya gadis ini tersenyum bahagia dihari pernikahannya. Hari yang sangat dinantikan oleh para gadis, dimana dialah yang akan menjadi ratunya pada hari itu. Tapi aku sudah membuatnya menangis dihari bahagia dan bersejarah dalam hidupnya. Harusnya aku lebih kuat lagi. Bukankah aku yang menginginkan semua ini terjadi, bukankah aku juga yang memintanya untuk menjadi istri suamiku?
Ku hapus air mataku, aku berusaha tersenyum dan menganggukkan kepalaku. Aku ingin dia tau aku merestui pernikahan mereka.
Suasana Ijab Qobul yang hikmat dan sakral sudah selesai.
Aku kembali menuntun Helwa untuk mendekat kepada suamiku.
Semua tamu menatap moment kami bertiga.
Beberapa diantaranya merekam mengambil kmgambar dengan kamera ponselnya.
Aku meraih tangan suamiku, kucium penuh hormat dan cinta. Kupaksakan tersenyum agar semua tampak baik-baik saja. Lalu aku meraih tangan kanan Helwa untuk bersalaman dengan mas Imam.
Awalnya Helwa takut dan ragu menerima tangan mas Imam.
"Sekarang mas Imam sudah sah jadi suamimu. Halal." kataku sambil tersenyum padanya. Meskipu masih tampak ragu dan tangannya gemetar akhirnya dia meraih tangan mas Imam dan menciumnya.
Mungkin ini adalah pertama kalinya bagi Helwa bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahrom. Sampai-sampai dia begitu gemetar.
Lalu kuraih tangan kanan mas Imam, kuletakkan diatas ubun-ubun Helwa.
"Berdo'alah, juga do'akan dia, ridhai dia menjadi istrimu sebagaimana mas selama ini ridha kepadaku." Mas Imam menatapku lalu mengangguk. Dan berdo'a memohon perlindungan kepada Allah.
Akhirnya kami berdiri berjejer bertiga, mas Imam ditengah untuk diambil foto moment berharga ini.