
Tok.. tok.. tok..!!
"Mbak Hawa sudah bangun?" suara Helwa dari balik pintu.
"Iyaa, masuk aja nggak ku kunci."
"Aku bawa sarapan untuk mbak Hawa. Kata mbak Sum mbak sakit, sakit apa?" sambil masuk, membawa nampan berisi mangkuk dan secangkir teh keranjang.
"Aku pusing dan mungkin kecapekan." sambil bangun dari berbaring.
"Mau kuantar kedokter atau dipanggil dokter kerumah?" sambil duduk disisi ranjang.
"Nggak perlu. Aku cuma butuh istirahat. Oh ya Helwa maafin mbak, bagaimana misalnya nanti kamu pulang diantar pak Hasan aja. Mbak sepertinya belum bisa keluar rumah sekarang."
"Mbak gak usah mikir itu. Nanti Helwa telfon Ibu buat ijin rawat dan nemenin mbak Hawa sehari ini. Itupun kalau mbak Hawa mau."
"Apa nggak merepotkan kamu?"
"Nggak kok mbak. Lagian gak tega masak kakak sakit ditinggalin sih."
"Terima kasih Helwa, kamu ada untukku."
sambil kuraih dan kugenggam erat tangannya.
"Iya mbak. Ya udah sekarang makan dulu ya, ini bubur aku yang buat loh. Mungkin gak seenak masakan mbak Hawa sih." sambil menyuapkan sesendok bubur padaku.
"Ini enak banget.. Kamu pintar masak." ku hargai usahanya dengan sanjungan meskipun sebenarnya mulutku terasa pahit.
"Lebih pintar mbak Hawa tapi." sambil merona. Kutatap wajah ayunya, tampak sempurna, terbalut makeup tipis dan natural.
Jika Helwa menjadi istri kedua mas Imam mungkin akan lebih baik. Tidak akan ada kekhawatiran untuk aku merasa diabaikan oleh mas Imam dengan karakter Helwa yang seperti ini. Karena jika mas Imam menikah dengan wanita lain, belum tentu memiliki sifat sebaik Helwa. Apa lebih baik ku tanyakan sekarang saja?
"Helwa, umurmu bukannya sudah 25 tahun?"
"Iya mbak. Kenapa?" sambil menyuapiku lagi.
"Maaf ya bukannya bermaksud ikut campur urusan pribadimu. Tapi memangnya diusiamu itu, apa kamu belum punya keinginan untuk menikah?"
"Yaa sudah pasti udah dong mbak."
"Trus kenapa belum menikah?" penasaran.
"Belum ada yang melamar Helwa mbak."
sambil tersenyum malu-malu tapi sangat manis.
"Masa sih? Gadis seperti kamu belum ada yang melamar? Apa aku harus percaya?" sambil menyeritkan dahiku.
"Ya bagaimana mau ada yang melamar, Helwa dulu mondok, setelah mondok langsung ke mesir. Dan kembali ke Indo baru 1 bulan."
"Ouh begitu. Tapi apa disana kamu gak kenal laki-laki atau teman laki-laki?"
"Hawa lebih suka belajar dan menghindari fitnah mbak." aku terdiam, antara kaget dengan heran sekaligus kagum. Bagaimana bisa dia memproteksi diri begitu kuat dijaman semodern ini.
"Masya Allah Helwa, jadi bahkan kamu belum pernah mengenal laki-laki?"
"Sudah, tapi selain keluarga maupun saudaraku, aku mengenal suami, saudara atau keluarga teman-temanku."
"Apa dari mereka tidak ada yang laki-laki lajang?"
"Banyak mbak, tapi mungkin memang bukan jodoh." jawabannya ringan sekali.
"Apa tidak ada yang mencoba mendekatimu?"
"Ada beberapa sih mbak. Tapi aku merasa mereka bukan laki-laki yang tepat untuk jadi Imamku."
"Karena Allah menjagaku dan memberi tauku sebelum aku memutuskan untuk lebih mengenal mereka."
"Ouwh begitu." aku manggut-manggut mendengar jawabannya.
"Contohnya bagaimana?" lanjutku penasaran.
" Contohnya, ada salah satu dari mereka penah bertemu aku ketika mengunjungi sepupunya, dan sepupunya itu sahabat baikku. Saat pertama bertemu dia merokok, lalu beberapa hari kemudian melalui chat dia titip salam untukku dan bilang mau mengenalku. Tanpa ku ketahui ternyata dia memaksa sahabatku untuk mau menemuinya dengan mengajakku dengan alasan ada kepentingan. Kami bertemu dicafe, disaat temanku ketoilet dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Belum kujawab sudah ada dua orang gadis menghampiri kami dengan marah2 yang ternyata salah satunya itu adalah kekasih dari laki-laki itu. Untung sahabatku cepat datang, jadi aku belum sempat dicakar kekasihnya itu." jawab Helwa sambil tertawa. Aku ikut tertawa.
"Selamat kamu tau hari itu juga." sambil melanjutkan tawa kecilku.
Helwa, bahkan disaat sakit mendengar ceritamu dan mendapatkan perhatianmu saja aku sudah merasa senyaman ini. Helwa, kau itu manusia atau bidadari yang menyamar menjadi manusia?
"Helwa, bagaimana menurutmu tetang masnah?"
"Masnah mbak?" terkejut dengan pertayaaku.
Aku mengangguk, dia menatapku dan diam sebentar. Seakan ragu atau binggung untuk menjawab.
"Halal mbak untuk laki-laki yang mampu lahir batin dan memiliki ilmunya. Bukan cuma nafsu yang beralasan sunnah. Jangan jadikan sunah sebagai kedok dari birahi yang tidak mampu dikendalikan." jawabnya dengan bijak.
"Boleh kamu lebih menerangkannya buatku?"
"Insya Allah. Jika ada kesalahan silahkan dikoreksi ya mbak, karena Helwa masih fakir ilmu. Allah berfirman dalam Surah An Nissa ayat 3 yang artinya:
"Dan jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat dzalim."
Diayat sebelumnya yaitu ayat 2 menjelaskan larangan memakan harta anak yatim termasuk anak yatim yang sudah dewasa untuk memberikan hak-hak mereka yang ada dalam tanggung jawabnya, salah satunya adalah jika dia menjadikannya sebagai istri. Kemudian diperjelas larangan memakan harta mereka, jangan mencampurkan harta anak yatim yang menjadi amanahnya dengan harta pribadinya. Lalu disambungkan keayat 3. Banyak dari kita hanya terfokus pada angka dua, tiga atau empat mbak, tapi mengabaikan ayat sebelumnya juga lanjutan dari ayat tersebut.
Bukankah jika khawatir tidak mampu berbuat adil maka nikahilah seorang saja. Tapi jika memang mampu boleh menikah sampai dengan 4 wanita. Perhatikan pula penegasan kalimat terakhir ayat tersebut. Demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat dzalim.
Jika menikahi dua, tiga atau empat wanita hanya akan menyebabkan kemungkaran sebaiknya menikahi satu saja untuk menghindari dosa yang lebih banyak. Menikahi dua ataupun lebih tapi tidak menjadikannya lebih dekat dengan Allah, sebaiknya dihindari. Persiapkan dulu bekal Ilmu dan Imannya sebelum menikah lagi.
Ilmu tanpa amal itu gila dan amal tanpa ilmu itu sia-sia. " dia tutup dengan nasihat Imam Al Ghazali, aku menyimak setiap katanya dengan jelas.
"Lalu bagaimana kalau mampu menikah lagi tapi khawatir tidak nampu berbuat adil?"
"Yaa sebaiknya jangan. Jangan memaksakan diri jika diri sudah merasa tidak mampu. Tapi jika memang mampu tapi ragu sebaiknya memantabkan diri dulu untuk mengambil keputusan untuk menikah lagi atau tidak. Permasalahan yang menganggap polygami suatu hal yang negatif itu karena pelakunya berpolygami tanpa Ilmu. Contohnya saja seorang laki-laki sudah memiliki satu istri dan anak tapi dia menikah lagi sedangkan istri dan anaknya tidak dia nafkahi dengan baik lahir dan batinnya. Atau dia menikah bukan untuk tujuan membina rumah tangga melainkan hanya karena tergoda untuk melepas syahwat semata. Maka itu perlu ilmunya sebelum mengamalkannya supaya ajaran agama tidak menjadi dipandang sepele atau bahkan buruk. Masyarakat kita masih banyak yang perlu kita edukasi perihal seperti ini mbak. Karena sepertinya masih banyak yang beranggapan polygami sebagai momok yang mengerikan."
Aku merasa puas dengan jawaban Hawa meskipun tidak detil dengan dalilnya tapi dia jawab dengan contoh2 yang mudah dan lugas.
"Ngomong-ngomong kenapa mbak Hawa tanya soal ini padaku?"
"Nggak papa, kita shering aja. Lalu bagaimana jika kamu ternyata suatu saat menjadi bagian dari ikatan pernikahan yang suamimu memiliki lebih dari 1 istri?"
"Jujur saja mbak aku belum kepikiran kesitu. Harapanku ya aku menjadi yang pertama untuk suamiku dan suamiku adalah yang pertama untukku, dan aku satu-satunya untuk suamiku. Hehee..."
"Berarti kamu menolak polygami dong."
"Aku menerima hukum yang sudah Allah tetapkan, tapi aku belum berpikir bagaimana jika aku akan menjadi bagian dari hukum itu. Justru aku mengaggumi mereka mampu membangun keluarga yang sakinah, mawadah, dan rohmah dengan lebih dari satu istri. Bagaimana suami bisa mendidik istri-istrinya dengan baik. Istri-istrinya begitu akur dan saling menyayangi, menjaga, dan mendukung. Aku mengagumi mereka, melihatnya aku seringkali terharu. Tapi aku memang belum pernah berpikir soal pribadiku sendiri mbak. Tapi mungkin nanti jika karena suatu udzhur suamiku menikah lagi, mungkin aku harus lebih keras berusaha menata hati. Jujur saja mbak wanita mana yang tidak rindu surga, tapi wanita mana juga yang rela membagi suaminya. Jikapun ada pasti hanya beberapa karena mereka itu wanita pilihan yang memiliki hati dan iman yang teguh."
"Maksudmu dengan wanita mana yang tidak rindu surga dan wanita mana yang rela membagi suaminya itu bagaimana?"
"Emm... maksudku begini mbak.
Wanita mana yang tidak mendambakan surga sebagai tembat kembalinya nanti. Sedangkan surga seorang istri ada pada suaminya. Bukankah Allah membukakan pintu surga dan wanita bebas memasukunya dari pintu mana saja yang ia mau dengan syarat taat pada suami, menjalankan sholat 5 waktu dan puasa dibulan ramadahan serta menjaga kehormatannya dengan baik. Tapi bagaimana jika suami yang polygami tidak paham ilmunya lalu tidak mampu adil bertanggung jawab dalam menafkahi serta mendidik istri-istrinya dengan baik, justru istri menjadi pembangkang dan tidak taat lalu rumah tangga tidak lagi sakinah, mawadah, dan rohmah karena suami belum memiliki kesiapan lahir, batin, dan ilmu untuk masnah? Sekali lagi maaf lho mbak, semua jawaban ini sebatas pendapatku dengan segala kefakiranku akan ilmu. Jika mbak mau jawaban yang lebih baik mengenai hukum dan lain sebaginya sebaiknya mbak tanyakan kepada yang ahli."
"Nggak papa kok, kita kan shering aja. Aku bertanya tentang pendapat prinadimu."
Aku tersenyum. Kuraih nampan yang sendari tadi masih dia pegang dan kuletakkan dimeja disebelahku. Kugenggam tangannya,
"Terima kasih Helwa, kamu sudah begitu baik padaku. Terima kasih untuk semua kebaikanmu, perhatianmu, kepedulianmu, waktumu, juga ilmumu. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita." mataku berkaca-kaca mengucapkannya.
Dia hanya mengangguk lalu mendekatkan bandannya, memelukku dengan erat, memberiku rasa hangat, sangat tenang berada didekat Helwa.