Dzuriat

Dzuriat
MASNAH.


Aku dan mas Imam sudah kembali kedalam kamar kami dan sudah bersiap untuk tidur.


Aku memiringkan tubuhku menghadap mas Iman, kupeluk suamiku dengan bebas karena kedua tangannya dia lipat menopang kepalanya diatas bantal. Wajahku tepat dibawah ketiaknya, Aku suka dan nyaman sekali mencium bau parfum yang sudah bercampur keringatnya. Ya meskipun terkesan sedikit jorok, kurasa banyak perempuan yang sepertiku. Menyukai bau dan tertidur diketiak suami.


Ku usap dada suamiku,


"Sayang."


"Hmmm"


"Bagaimana menurutmu tentang Helwa?"


"Baik, dan Insya Allah shalihah."


"Cantik..?"


"Cantik."


"Cantik mana denganku?"


"Sama-sama cantik. Tapi bagiku istriku tetap lebih cantik."


"Gombal!" sambil kucubit gemas perutnya.


"awwwwh... Bukan gombal sayang. Karena aku sudah mengenal istriku dengan baik, sudah tau bagaimana ketaatannya dia padaku, bagaimana dia mengurusku, dan masih banyak lainnya. Cantik wajah itu relatif, tiap orang memiliki standar yang berbeda."


"Sebagai pria normal apa mas tidak tertarik padanya? Ku lihat tadi mas sampai terpesona juga pada Helwa."


"Hahahaaa... Bohong sekali kalau aku bilang aku tidak terpesona. Tapi bukan berarti aku tertarik untuk memilikinya."


"Kenapa tidak tertarik untuk memiliki Helwa?" menghentikan taganku mengelus dadanya.


"Yaa karena aku sudah punya kamu."


"Bagaimana jika dia yang tertarik denganmu?"


"Hahahaaaa mana mungkin gadis sepertinya tertarik dengan om-om sepertiku. Jangan berandai-andai, itu bisikan setan." tertawa mengelak.


"Mas."


"Yaa.."


"Bagaimana jika kamu nikahi Helwa."


"Sudahlah jangan mulai lagi. Dia tidak mungkin mau, lagipula banyak laki-laki muda dan jauh lebih baik yang bisa membahagiakan dia daripada dia menjadi istri keduaku."


"Tapi mas, bagaimana kalau aku mencoba tanya pada Helwa besok?"


"Sssshhh. Cukup sayang hentikan! Aku hanya mau kamu yang jadi istriku. Aku belum mampu memiliki istri lagi. Tidak mudah membagi semuanya untuk dua istri. Aku takut malah akan menjadi dosa jika aku gagal bersikap adil pada kalian. Jadi hentikan dan lupakan idemu itu." jawaban mas Imam disatu sisi membuatku merasa tersanjung, tapi disatu sisi aku merasa tidak puas.


"Tapi mas, kamu butuh keturunan untuk meneruskan.." belum sempat meneruskan kalimatku sudah dipotong mas Imam.


"Akan diteruskan anak kita. Anakku yang terlahir dari rahimmu." jelasnya tegas.


"Tapi mas,"


"Tidak ada tapi. Sudah malam ayo tidur."


Sambil mas Imam mengecup pucuk kepalaku dan mengusapnya.


Huuuft... ku hela nafasku.


"Mas."


"Hmm.."


"Aku gak bisa tidur."


"Makanya jangan mikir yang aneh-aneh. Banyakin istighfar! Biar dijauhkan dari bisikan setan."


"Aku akan bahagia kalau Helwa jadi keluargaku."


"Bukankah sekarang sudah jadi adikmu?"


"Tapi sebatas anggapan. Tidak dalam ikatan."


"Bicara apalagi sih Helwaku sayang?"


"What...?" pekikku terbangun menatap mas Imam yang ikut kaget, gugup, dan wajahnya berubah merah.


"Maksudku Hawaku sayang!" memegang kedua bahuku, berusaha menjelaskan.


"Mas, aku mendengar dengan jelas."


"Iyaa tapi maksudku Hawaku sayang, aku jadi salah menyebut namanya karena kamu membicarakan dia terus." sanggahnya.


Hah!! Sekarang aku yang disalahkan.


"Mas jangan ngeles deh, kok malah jadi aku yang salah?" protesku.


"Bukan ngeles sayangku, aku salah nyebut nama. Lagian nama kalian mirip, kamu sebut-sebut samanya terus. Makanya STOP membicarakan dia." gugup, binggung menjelaskan padaku.


"Mas, jangan-jangan sebenarnya saat ini mas sedang berbohong ya? menutupi suara hatimu?" tanyaku sambil menatap matanya menelisik kejujurannya.


"Nggak kok istriku yang cantik."


"Tapi kalo lagi nggak mikirin kok bisa sampai salah sebut nama." selidikku.


"Udah akh capek jelasin sama kamu." frustasi dengan cecaranku. Membalikkan badannya membelakangiku.


"Dih, mas jangan tidur dulu. Temani aku." menggoyang-goyang punggungnya.


"Iya, iya."


Mas Imam membalikkan tubuhnya dan menghadapku, Kueratkan pelukanku.


"Sayang,"


"Iya.."


"Kamu pengen punya anak berapa?"


"Berapapun yang Allah kasih. Semakin banyak semakin baik."


"Bagaimana jika sampai tua aku gak bisa melahirkan anakmu?"


"Kamu pasti bisa."


"Bagaimana kalau gak bisa?"


"Jangan kumat lagi. Jangan berandai-andai."


mas Imam mulai kesal.


"Mas, tau gak ada salah satu pintu surga yang terbuka tapi banyak wanita enggan memasukinya."


"Apa itu?"


"Ikhlas, merelakan suaminya menikah lagi."


"Kamu sungguh-sungguh mau?"


Mengangkat wajahku, menatap wajahnya.


"Iya, Insya Allah mau." jawabku berusaha meyakinkan mas Imam.


"Memangnya bisa?"


"Tidak bisa kalau tidak belajar."


"Kamu yakin mau membagi suamimu dengan wanita lain?" Aku mengangguk.


"Memang sudah siap kalau suatu saat aku tidak menemanimu karena menemani dia?"


"Bukankah aku sudah terbiasa mas tinggal beberapa hari untuk urusan kerja?"


"Sudah siap aku dipeluk, dicium, diurus wanita lain dihadapanmu?"


"Tidak masalah selama mas juga melakukan hal yang sama kepadaku."


"Sudah bisa ikhlas menata hati kalau ternyata aku tidak bisa adil dan lebih menyayangi dia karena dia lebih muda atau karena alasan lainnya?"


"Aku bersusaha ikhlas kalau memang harus begitu."


"Heheh.." mas Imam tertawa mengejek.


"Bicara itu mudah, tapi kenyataannya tidak mudah." imbuhnya.


"Tapi manusia harus bisa berusaha melewati ujiannya seberat apapun itu."


"Hawa, katakan padaku. Apa kamu sudah bosan menjadi istriku?"


"Tidak sayang, aku bersyukur dan bahagia mana mungkin aku bosan dengan suami sebaik dirimu."


"Lalu kenapa seolah-olah aku tidak lagi berharga untukmu, sampai kamu ingin membaginya dengan wanita lain."


"Sayang, kamu sangat berharga dalam hidupku. Satu-satunya yang berharga dalam hidupku sekarang adalah kamu, suamiku. Karena itu aku ingin kamu bahagia."


"Aku sudah bahagia denganmu."


"Tapi kebahagiaan kita tidak lengkap. Harusnya kamu memiliki anak dan ibu memiliki cucu."


"Kalau begitu kita adopsi saja anak dari panti." mas Imam memberikan solusi yang membuatku justru semakin kesal.


"Mas kamu masih tidak pahan maksudku? Atau sedang berpura-pura hanya untuk menjaga hatiku? Sebaiknya kamu jujur mas, setidaknya jujurlah pada dirimu sendiri. Kamu jangan menyangkalnya mas.


Jika mengadopsi anak panti sudah cukup menjadi solusi pasti sudah kita lakukan dari dulu. Tapi keluarga kita butuh penerus, harus ada yang meneruskan trah keluarga ini. Darah daging Imam Maulana. Lagipula jangan egois mas, tidakkah mas pikir bagaimana tersiksanya ibu menahan kerinduan untuk bisa menimang anakmu, cucu kandungnya. Aku cukup sadar diri mas akan kekuranganku, jadi tolong jangan egois. Pikirkan ibu, dan tolong bantu aku membuka simpul masalah yang menyiksaku ini. Aku tidak masalah harus terluka sekali daripada aku terbelenggu seumur hidupku dengan rasa bersalah dan kekecewaan setiap hari. Mas tidak akan paham bagaimana tersiksanya batinku selama ini menjadi istri yang gagal memberikanmu keturunan." jelasku panjang lebar diiringi air mataku yang mengalir.


Mas Imam terdiam, dari suara nafasnya aku tau air matanyapun tidak mampu lagi dia bendung.


"Sayangku, apakah caraku menjagamu, melindungimu, dan membahagiakanmu selama ini salah?" suara parau mas Imam menekan batinku.


"Tidak mas. Kamu sudah memberikan yang terbaik buatku. Kamu dan ibu sudah melimpahi aku dengan kasih sayang. Hanya saja aku tersiksa dengan kenyataan bahwa aku nyaris tiap hari mengecewakanmu dan ibu."


"Lalu dengan itu kamu ingin aku menikah lagi agar kamu terbebas dari rasa kecewa dan bersalahmu?"


Aku mengangguk lemah.


"Menurutmu apakah jika aku menikah lagi akan menjadi solusi terbaik? Tidak menyakitimu dan membuatmu bahagia?"


Aku mengangguk lagi.


"Bagimana dengan ibu? Bukankah dia sangat menyayangimu?"


"Aku yang akan menjelaskannya. Aku yakin cepat atau lambat ibu akan paham dan setuju."


"Baiklah jika menurutmu dengan aku menikah lagi akan membuatmu bahagia maka akan aku penuhi. Tapi ingat bahwa aku tidak akan mau mencari wanita untuk menjadi istriku lagi, karena bagiku kaulah satu-satunya wanita yang kupilih untuk menjadi istriku. Jika suatu saat aku menikah dan bersama dengan istriku yang lain kamu tidak boleh cemburu dan marah. Dan kamu yang harus mencari wanita itu, kamu yang harus melamarnya. Kamu yang harus menemaniku saat menikahinya. Kamu sanggup?"


Berat sekali syarat dari mas Imam, begitu beratnya sampai tubuhku yang kecil ini seperti ditimpa batu besar yang mematahkan seluruh tulangku. Aku sangat paham maksud dari syarat mas Imam ini adalah supaya aku menghentikan rencanaku, karena pasti akan sangat berat untuk aku memenuhinya sehingga mas Imam berfikir aku akan menyerah. Tapi mungkin ini ujian yang harus kulewati agar semakin kuat Imanku.


Kami sama-sama terdiam masih dalam pelukan. Hingga sama-sama lelah dengan pikiran dan hati kami, lalu tertidur pulas...