Dzuriat

Dzuriat
Kecelakaan


Terdengar jelas suara Adzhan dari masjid yang letaknya kira-kira 250 meter dari Villa.


Aku mencari mas Imam, dia sudah tidak ada disebelahku. Aku mendengar suara air dari dalam kamar mandi.


Pasti mas Imam sedang mandi. Pikirku.


Greek..


Suara pintu dibuka. Tampak mas Imam keluar dari dalam kamar mandi hanya terbalut handuk yang dia lilitkan dipinggangnya


"Sudah bangun sayang?"


Aku hanya mengangguk saja.


"Cepat bangun dan mandi. Ayo kita sholat subuh jama'ah kemasjid. Nanti sekalian pulangnya kita jalan-jalan sambil cari udara segar."


Aku hanya menganggukkan kepalaku lagi tanda setuju. Dan segera beranjak mandi.


Setelah mandi kami berangkat bersama. Dibawah kami ketemu dengan pak Wanto dan Bu Nunuk yang juga mau berangkat ke Masjid.


Sesampainya dimasjid kami berpisah, aku dan bu Nunuk memasuki tempat khusus jama'ah wanita, sedangkan mas Imam dan pak Wanto masuk ketempat khusus jama'ah pria.


Setelah Sholat dan dzikir masjid ini setiap hari sehabis sholat subuh ada kultum. Kami mendengarkan ceramah pak Ustadz dengan seksama. Kebetulah tema hari ini adalah


*Ujian Hidup*. Aku menyimak apa yang disampaikan beliau dan beberapa kalimatnya sangat mengena dihatiku.


Diantaranya ketika beliau mengatakan,


*Dalam hidup ini tidak ada manusia yang tidak Allah uji. Semata-mata Allah menguji manusia karena Allah menguji tingkat keimanan, kesabaran, keihlasan, dan ketaqwaanya. Bagaimana kita sebagai hamba-Nya menyikapi dan melalui tiap-tiap ujian itu.


Dalam Surah Al Baqoroh ayat 155 Allah berfirman yang artinya,


"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar*."


Tidak terasa air mataku jatuh, aku seakan dibawa kembali kemasa dimana aku menjalani hidupku dahulu.


Aku hanyalah anak seorang buruh pabrik. Kami tinggal dirumah yang sempit itupun kami beli karena menjual tanah peninggalan kakek dikampung. Untuk membantu menopang ekonomi keluarga ibuku sambil berjualan gado-gado. Aku ingat bagaimana dulu orang tuaku bekerja keras untuk membiayai hidupku dipondok pesantren. Meskipun bukan dari keluarga yang kecukupan tapi orang tuaku ingin kedua putrinya menempuh pendidikan agama ditempat terbaik. Dan pada akhirnya aku menikah dengan mas Imam sedangkan kakakku memilih kembali kekampung halaman kami dulu bersama keluarga kecilnya. Dulu Allah menguji kami dengan kekurangan harta. Kini Allah mengujiku dengan belum hadirnya si buah hati dalam pernikahan kami.


Air mataku terburai, aku menundukkan wajahku agar tidak menganggu jama'ah yang sedang menyimak ceramah pak Ustadz.


Tetapi tidak untuk bu Nunuk, dia tau bahwa aku menangis, diusapnya pundakku beberapa kali, kemudian merangkulku.


Setelah selesai kultum kami keluar, mas Imam dan pak Wanto masih didalam. Aku dan bu Nunuk menunggu dihalaman depan masjid sambil menikmati udara dingin pagi.


Ku tarik nafas dalam-dalam dari hidung dan perlahan kukeluarkan dari mulut. Berulang-ulang sampai akhirnya dikejutkan dengan tangan mas Imam yang menepuk bahuku.


"Sayang, masih agak gelap nih, kita jalan-jalan yuk. Kan jarang-jarang kita bisa menikmati udara sesegar ini." Mas Imam melirikku sambil merangkul pundakku.


"Pak Wanto dan bu Nunuk mau ikut kami jalan-jalan atau pulang?" Sambung mas Imam.


"Kita pulang aja pak." Jawab pak Wanto.


"Iya betul, lagian mau beres-beres dan siapkan sarapan pak." tambah bu Nunuk.


"Baiklah, kalau begitu."


"Eeiitt tunggu sayang, masa aku jalan-jalan dengan pakai mukena begini?" protesku yang masih memakai mukena karena tidak memakai kerudung jadi aku belum membukanya. Aku lupa kalau tadi saat aku bangun mas Imam sudah ngajak jalan-jalan setelah subuh.


"Yaa ngga apa-apa. Kita jalan-jalan dekat sini aja. Sebelum mataharinya terang kita pulang." jawab mas Imam meyakinkan aku. Aku mengangguk saja. Dan kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan masing-masing.


"Sayang kamu bahagia gak, kita bisa berdua disini?" tanya mas Imam.


"Asal bersama suamiku, dimanapun itu aku pasti bahagia."


"Benarkah?"


"Iyaa, mestinya kamu gak menanyakan itu sayang, kamupun pasti sudah tau apakah kebahagiaanku didunia ini." sambil menoleh dan tersenyum. Mas Imam merangkul pundakku, dan kami berjalan beriringan.


Selama berjalan-jalan kami bertemu dengan beberapa warga, mereka sangat sopan dan ramah. Ketika saling bertatap mata kami saling tersenyum dan mereka menganggukkan kepala mereka kepada kami sebagai bentuk sapaan atau salam dengan isyarat. Yaa, itulah salah satu keramahan tamahan khas warga pedesaan.


"Braaakkk..."


Kami berdua kaget dan spontan aku dan mas Imam lari kearah wanita tersebut tapi kalah cepat. Karena didekat situ ada beberapa orang juga sedang menikmati udara pagi yang sudah terlebih dahulu menolongnya. Ternyata seorang gadis.


"Bagaimana keadaannya pak?" tanya mas Imam kepada beberapa pria yang menolong gadis itu.


"Belum tau, kakinya berdarah." Jawab salah seorang dari mereka sambil melirik sebentar kearah kami.


"Kenapa kok bisa jatuh?" reflek aku bertanya sambil mendekati gadis itu dan meluruskan kakinya.


Gadis itu sepertinya masih shock. Tidak bisa menjawab pertanyaanku.


"Cepat panggil orang tuanya kemari." Teriak salah seorang diantaranya.


Seseorang kemudian pergi dengan sepeda motornya. Sementara kami menolong gadis yang sekarang aku sandarkan dia dibahuku.


Ada seorang warga wanita membawa segelas air,


"Kasih minum dulu biar tenang." Katanya sambil menyodorkan gelas yang dia bawa. aku membantunya minum.


Terlihat lemas, dan merintih kesakitan. Aku ikut gemetar melihat kejadian ini.


Kira-kira 10 menit kemudian datang dua orang, laki-laki masing2 membawa motor. Aku terkejut ternyata tidak lain lelaki itu adalah pak Wanto.


"Nduk kamu kenapa?" tanya pak Wanto gugup sambil mendekat.


"Bapak..." seru gadis ini sambil melepaskan sandarannya dan merangkul pak Wanto. Aku dan mas Imam saling berpandangan. Kami sama-sama terkejut ternyata dia adalah anak gadis pak Wanto.


Pak wanto memeluk anaknya sambil mengusap punggungnya.


"Bapak sama ibu disini juga menolong anak saya?" tanya pak Wanto sambil menatap kami bergantian.


"Iya pak, tadi kami baru jalan sampai sini." jawab mas Imam.


"Pak Wanto sebaiknya bawa anaknya ke Rumah Sakit dulu saja. Biar bisa diobati segera."


"Rumah sakit jauh bu, disini ada klinik tapi sepagi ini belum buka." Jawab pak Wanto.


"Kalau begitu kita bawa ke Villa dulu saja, nanti kita bawa dia ke Rumah Sakit dengan mobil saja." Mas Imam memberi solusi.


"Baik pak. Nduk kamu bisa bonceng bapak nggak?" tanya pak Wanto pada anaknya yang masih erat memeluknya.


"Bisa pak, tapi kakiku sakit." Jawabnya sambil merintih.


"Bapak gendong ya, nanti dimotor kamu pegangan bapak."


Gadis itu mengangguk, dibantu salah seorang warga pak wanto memapah anak gadisnya.


"Bapak duluan, kami menyusul." kataku.


Pak Wanto membawa anaknya ke Villa terlebih dahulu sedangkan mas Iman berbicara pada warga yang masih berkumpul dipinggir jalan dan mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka.


"Pak, motor anak pak Wanto ini bolehkah saya titipkan dirumah terdekat sini?" tanya mas Imam.


"Tenang saja pak nanti kita antar keVilla. bapak juragannya pak Wanto dari kota?" tanyanya.


"Iya pak, kami baru datang tadi malam. kalau begitu sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Saya kembali dulu." Mas Imam pamit kepada mereka dan bersalaman satu persatu. Sedangkan akupun bersalaman kepada beberapa warga wanita kemudian kami kembali ke Villa.


Sesampainya diVilla bu Nunuk seudah menangis, pak Andri juga ada disitu. Kami masuk dan aku menghampiri mereka.


"Bagaimana bu putrinya?" tanyaku pada bu Nunuk.


"Kakinya berdarah bu, saya gak berani membuka pakaiannya takut megenai lukanya." jawabnya masih dengan tangisannya.


"Ya sudah bu Nunuk persiapkan apa yang mau dibawa, kami mau ganti pakaian. Kita kerumah sakit bersama."Kata mas Imam.


"Saya keatas dulu bu Nunuk, yang sabar. Insya Allah putrinya tidak apa-apa." kataku menenangkannya.


Bu Nunuk mengangguk, masih shock juga dengan kejadian ini. Sedang aku segera menyusul mas Imam kekamar untuk ganti pakaian.