
Dirumah yang besar ini Aku dan mas Imam merasa sepi. Terutama jika aku ditinggal suami pergi kerja, terlebih jika suamiku harus pergi mengurus bisnisnya keluar kota atau keluar negeri. Sebenarnya mas Imam sering kali mengajakku untuk ikut serta tetapi aku menolak karena aku tidak betah jika harus berlama2 dipesawat ataupun dimobil.
Hanya ada 5 orang wanita yang membantuku mengurus rumah ini, juga memasak. Ada 2 satpam yg bergantian berjaga didepan, 2 orang supir pribadi yang kalau selesai bertugas pulang, juga tukang kebun yang datang pagi dan pulang siang. Meskipun cukup banyak pekerja tetap saja aku harus tau tugas dan kewajibanku sebagai istri untuk mengurus keperluan suamiku. Sering kali aku merasa kesepian, untuk menghilangkan rasa sepiku, aku sering menghampiri ART ku dan mengajak mereka makan cemilan bersama dihalaman belakang. Yaa... Meskipun mereka pekerjaku, aku tidak mau terlalu formal dengan mereka, karena orang tuaku selalu menasehati untuk memiliki sifat rendah hati. Mungkin karena itulah para pekerjaku betah dan setia bekerja kepadaku dan mas Imam. Atau jika tidak aku lebih suka menghabiskan waktuku dikamar, nonton youtube atau update berita disosial media jika berada dirumah. Sesekali pergi kerumah teman, ataupun pergi kemasjid jika ada pengajian rutin tiap minggu.
Lanjut cerita setelah mas Imam mandi.
Kami turun kebawah untuk makan malam, seperti biasa meskipun memiliki 5 orang ART memasak tetaplah menjadi kewajibanku, sedangkan yang lain hanya membantu mempersiapkan dan membersihkan alat2 setelah masak.
Kami menghampiri meja yang sudah tersaji beberapa macam lauk dan sayur hasil kerjaku kerasku tadi.
Setelah mas Imam duduk aku mengambil piring berisi beberapa macam buah yang sudah dipotong2. lalu menyuapkan pada suamiku yang terus memainkan ponsel yang ada ditangannya. Begitulah kebiasaan kami, memakan buah sebelum makan nasi. Setelah beberapa saat lalu aku menyendokkan nasi, sayur, dan lauk. Lalu meletakkannya didepan suamiku.
Lalu akupun mengambil buat dirinya sendiri.
Selama makan suasana sepi, hanya sesekali aku bertanya apakah mas Iman mau tambah nasi dan lauk. Dan seperti biasa juga mas Imam menjawab dengan menggelengkan kepala saja.
"Mbak Sudah selesai makan." Aku memanggil ART ku.
"Iya Bu,." Sahut mbak Sum sambil sedikit berlari kearah meja makan disusul 2 orang temannya. Diantara 5 orang itu memang mbk Sum adalah ART yang paling lama bekerja dengan keluarga ini, bahkan sebelum kami menikah mbak Sum sudah bekerja dengan mas Imam dan ibu. Maka itu mbak Sum menjadi kepala ART dirumah ini.
"Mbak Sum, besok gak usah siapin sarapan buat aku ya. Soalnya besok setelah subuh aku sudah harus keluar kota. Siapkan susu saja." Pesan mas Imam pada mbak Sum.
"Baik Pak, lha Ibu perlu saya buatkan sarapan tidak bu?" Tanya mbak Sum padaku.
"Nggak usah mbak. Besok aku buat sendiri aja. Mbak Sum masak buat sendiri dan teman2 mbak yang lain aja. " Jawabku sambil melangkah menyusul suamiku yang terlebih dulu jalan kearah taman belakang.
"Sayang, besok keluar kota kenapa berangkat pagi2 sekali?" tanyaku setelah duduk dikursi panjang sebelah Iman.
"Aku harus sampai disana tepat waktu istriku." jawab imam sambil memegang gemas daguku.
"Berapa lama disana?"
"Cuma 2 hari kok." jawab imam sambil terus menatap wajahku yang manja, yang berat hati berat berpisah karena mas Imam mau pergi keluar kota.
"Kalau urusannya sudah selesai cepat pulang ya.." pesanku sambil melingkarkan tanganku dipinggang mas Imam dengan manja.
"Sayang, bukankah kau sedang haid sekarang?" tanya mas Imam.
Deg...! Aku terkejut dengan pertanyaan suamiku. Apa mungkin setelah tadi pagi Ibu yang berbicara soal diriku yang belum juga hamil, sekarang suamikupun akan menanyakan hal yang sama. Aku mengendurkan tanganku yang memeluk mas Imam.
"Hey,, sayang kenapa malah melamun?" tanya imam lagi membuyarkan lamunanku.
"Iya sayang, kenapa?" tanyaku agak ragu.
"Gak papa, berarti malam ini aku gak mendapat salam perpisahan untuk 2 hari kedepan diluar kota." Jawab mas Imam sambil tersenyum nakal.
"Aiiih, suamiku ganit banget.." kataku gemas sambil nyubit manja perut suaminya.
Alhamdulillah Yaa Allah suamiku tidak membahas mengenai kapan aku hamil.
"Sayang setelah aku pulang dari luar kota, kita bulan madu yuk ke Villa gitu." ajak mas Imam.
"Bukannya kita dirumah juga sudah seperti bulan madu tiap hari ya?." tanyaku santai.
"Akh ayoolah kita cari suasana baru. Aku juga pengen refreshing, masa kerja terus." rayu mas Imam.
Aku berfikir sejenak sambil manggut-manggut, menginggat kira-kira akan ada kegiatan penting atau tidak dalam waktu dekat.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama yaa"
.
"Siap, bidadariku" Jawab mas Imam dengan semangat.
Sudah satu minggu ini Hawa haid. Akhir pekan saat liburan pasti sudah selesai . Mungkin saat kita liburan nanti itulah masa suburnya. Yaa Allah semoga usaha hamba ini berhasil, semoga KAU kirimkan Dzuriat-Mu didalam rahim istriku. Agar sempurna dia sebagai wanita, agar ia tidak kesepian saat aku tinggalkan dia untuk mencari nafkah. Batin Imam.
Malam semakin larut kamipun masuk kedalam rumah dan beristirahat untuk aktifitas esok hari.