
Helwa kembali kekamar dengan membawa botol kecil. Dengan sabar Helwa mengoleskan minyak kayu putih dan mengoleskannya disekitar lehernya setelah menyingkap sedikit kerudung Hawa.
"Mas kaki mbak Hawa perlu dioles minyak ini supaya hangat."
Aku menganggukkan kepalaku.
"Saya atau Mas Imam yang mengoleskan?"
"Kamu saja."
Helwa mengangguk dan mendekat kekaki Hawa yang ada dipangkuanku.
"Maaf mas." ucapnya sambil mengoleskan minyak tersebut kekaki Hawa. Aku bisa melihat wajahnya yang memerah, tangannyapun terlihat gemetar, nafasnya yang beratpun bisa kudengar.
"Su-sudah mas." ucapnya sambil duduk ditepi ranjang dekat dengan kepala Hawa.
Sesekali kulirik Helwa yang selalu menundukkan wajahnya.
"Dia takut atau malu." pikirku.
Tidak lama kemudian mbak Sum datang bersama dokter Tiara. Kemudian dokter Tiara memeriksa kondisi Hawa.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Tidak apa-apa. Sepertinya bu Hawa harus banyak istirahat, dan cukup makan tepat waktu. Untuk luka dikeningnya tidak masalah hanya sedikit goresan juga bengkak yang akan kembali normal dalam beberapa hari. Saya buatkan resepnya nanti bisa ditebus ya." ucap dokter tiara kemudian menyiapkan resepnya.
"Ini resepnya." dokter tiara menyerahkan selembar kertas berisi resep obat.
"Terima kasih dokter. Mari saya antar." ucap Helwa kemudian pergi mengantar dokter Tiara.
Tidak lama kemudian Helwa kembali kedalam kamar.
"Mas, sudah waktunya makan malam. Mas Imam makan dulu biar saya yang jaga mbak Hawa."
"Nanti saja."
"Tapi mas Imam dari tadi siang belum makan. Mas Imam harus menjaga kesehatan mas Imam sendiri terlebih dulu untuk menjaga mbak Hawa."
Aku menganggukkan kepalaku. Bagaimanapun juga ucapannya benar. Aku bangkit dari dudukku. Aku datangi istri baruku yang masih berdiri mematung dengan wajah yang masih menunduk.
Aku berhenti tepat dihadapannya. Dia terlihat sangat kikuk, kedua tangannya terus memainkan ujung khimarnya.
"Helwa."
Helwa diam saja belum menjawab panggilanku apalagi mengangkat wajahnya.
"Helwa, apakah seorang istri dibenarkan diam saja dan menunduk jika dipanggil suaminya." tanyaku.
"Maaf mas."
"Angkat wajahmu."
Dia tetap pada posisinya.
"Angkat wajahmu." sambil kuletakkan ujung jari telunjukku untuk mengangkat kedagunya.
"Masya Allah cantik sekali." batinku ketika wajah kami dengan jarak sangat dekat.
"Lain kali jika bertemu suamimu angkat wajahmu, jangan menunduk. Dan kamu tau kewajiban istri untuk taat pada perintah suami?"
Helwa menganggukkan kepalanya.
Wajah Helwa terlihat takut dan pucat, sebutir ari matanya mengalir.
"Apa kamu takut?"
Helwa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa menangis? Apa aku menyakit hatimu?"
"Tidak." Ucapnya sambil menggelengkan kepalanya lagi.
"Maafkan Helwa yang sudah berdosa pada mas Imam dengan tidak taat."
Ucapannya sederhana tapi justru membuat ujung hatiku sakit.
"Apa selembut itu hatinya sampai saat aku mengingatkan kewajibannyapun dia sudah merasa begitu berdosa bahkan sampai menangis." batinku.
"Tidak apa-apa. Aku bisa memahamimu. Kita baru saja menikah dan pasti kamu belum terbiasa denganku. Sekarang tolong jaga Hawa aku mau makan dulu."
Helwa menganggukkan kepalanya. Kukecup pucuk rambutnya agar dia lebih tenang. Bagaimanapun dia sekarang juga istriku dan aku harus memperlakukan dia dengan baik agar dia merasa nyaman.
_ *** _
Setelah makan aku kembali kedalam kamar.
Hawa sudah siuman dan Helwa dengan setianya menemani Hawa sambil memijat kakinya.
Mereka berdua sama-sama menatapku, aku berjalan mendekati kedua istriku.
"Sekarang giliran kamu, makanlah."
"Tapi mbak Hawa juga belum makan."
"Tolong bilang mbak Sum untuk membawakan makan untukku. Nanti mas Imam yang menyuapiku." ucap Hawa sambil tersenyum pada Helwa.
Helwa menganggukkan kepalanya dan pergi.
_***_
Waktu sudah menunjukkan jam 11 malam.
"Mas, pergilah!" ucap Hawa perlahan padaku yang berbaring disebelahnya.
"Tidak. Lain kali saja." jawabku. Aku ragu untuk mendatangi Helwa. Ya memang ini hakku, ini juga kewajibanku, dan memang seharusnya malam ini aku menjadikan pernikahanku dengan Helwa menjadi pernikahan yang sempurna.
"Mas, aku baik-baik saja. Ini juga sudah malam aku pasti akan tidur dan tidak memerlukan apapun. Kasihan Helwa."
"Tapi aku-"
"Mas dia juga istrimu. Jadikan dia istrimu yang seutuhnya. Dia berhak atas dirimu malam ini."
"Hawa, tapi aku saat ini hanya ingin disini bersamamu."
"Mas, sudah 8 tahun lebih kita selalu bersama. Besok mas juga bisa bersamaku lagi. Tapi tidak untuk malam ini. Malam ini ada hak seorang istri yang harus kamu penuhi."
"Aku mencintaimu karena Allah mas. Tunaikan kewajibanmu." imbuh Hawa yang justru membuatku semakin merasa bersalah.
Aku menganggukkan kepalaku menyetujui ucapannya. Kemudian kukucup keningnya dan aku pergi keluar.