
Setelah mas Imam menyelesaikan semua urusannya diluar kota, seperti yang sudah kami jadwalkan kalau kami akan pergi untuk berlibur. Honeymoon yang kesekian bagi kami. Kami memilih tempat yang sejuk dipegunungan yang tentu udaranya masih segar, melihat pemandangan hijau, tentu bisa merefresh pikiran setelah penat bekerja dan situasi bising dikota. Dengan naik mobil beberapa jam akhirnya kami sampai diVilla pribadi kami. Villa ini memang jarang sekali kami datangi, belum tentu setahun sekali kami datang. Villa ini diurus pak Wanto dan istrinya bu Nunuk. Rumah mereka sebenarnya diperkampungan yang agak jauh dari Villa. Bisa ditempuh 15 menit perjalanan menggunakan mobil. Tapi dibagian belakang Villa ada kamar juga untuk mereka menginap jadi mereka lebih sering diVilla karena terkadang Villa ini juga disewa teman mas Imam atau teman Ibu.
Mobil memasuki area halaman Villa yang lumayan luas. Pak Wanto lari menghampiri mobil kami. Setelah Pak Andri (Sopir pribadi mas Imam) memarkir mobilnya mas Imam membangungkanku dengan menepuk lembut pipiku,
"Sayang bangun. Kita sudah sampai"
"Eeemmmmhhh... " Jawabku sedikit malas sambil mengangkat kepalaku yang ada diatas paha mas Imam.
"Ayo turun, kita sudah sampai."
Aku hanya mengangguk karena masih ngantuk.
Mas Imam membuka pintu mobil melihat pak Wanto berdiri dihadapannya.
"Selamat malam Pak." Sapa pak wanto sambil mengulurkan tangan.
"Selamat malam juga pak Wanto. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Kembali Pak Wanto menjawab salam mas Imam.
"Pak wanto, tolong bantu pak Andri bawa barang2 masuk ya."
"Siap, siap pak." Jawab pak Wanto dengan sigap lalu berlalu menuju belakang mobil yang sudah ada pak Andri menurunkan tas dan koper.
"Sayang ayo masuk."
Ajak mas Imam sambil mengandeng tanganku yang masih ngantuk.
Aku menurut saja sambil bergelayut manja menyandarkan kepalaku dipundak Imam.
"Assalamu'alaikum." Salam kami bersamaan pada bu Nunuk yang sudah menyambut kedatangan kami didepan pintu.
"Wa'alaikumsalam."Jawab bu Nunuk dengan senyum ramah khas warga pedesaan.
"Apa kabarnya bu Nunuk?" sapaku sambil menjabat tangannya.
"Alhamdulillah baik Bu. Mari silahkan, sudah saya siapkan kamarnya."
"Terima kasih Bu Nunuk, kami masuk dulu. Saya mau mandi biar segar lagi." jawabku.
"Silahkan, apa mau saya siapkan makan malam?"
"Gak perlu Bu. Tadi sudah makan dijalan kok." Jawab mas Imam.
"Baik, selamat Istirahat." Kata bu Nunuk sambil undur diri melangkah kedapur untuk membuatkan kopi untuk pak Andri.
Tidak lama berselang setelah
kami masuk kedalam kamar, aku langsung mandi supaya fresh, sedangkan mas Imam duduk diranjang sambil membuka ponselnya.
Tok..tok.. tok..
"Pak, Bu, tas dan kopernya mau saya letakkan dimana?" terdengar suara pak Wanto didepan pintu.
"Iya pak sebentar." Sahut mas Imam dari dalam kamar. Kemudian beranjak keluar membukakan pintu untuk Pak Wanto.
"Tolong letakkan didekat lemari baju ya pak." Pinta mas Imam.
"Siap, siap pak." Jawab pak Wanto sambil membawa tas dan menarik koper.
Setelah meletakkan pada tempatnya pak Wanto berjalan keluar.
"Ada yang bapak atau ibu butuhkan lagi nggak?"
"Nggak ada Pak, kami mau istirahat. Terima kasih bantuannya."
"Siap pak, selamat istirahat." Jawab pak Wanto sambil undur diri.
Mas Imam kembali masuk kamar saat aku keluar dari kamar mandi dan sudah berganti baju tidur.
"Sayang, kamu gak mandi?" Tanyaku pada mas Imam yang sedang membuka ponselnya.
"Mandi donk, kan kita mauuu......" mas Imam tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi senyuman dan mata nakalnya memberi isyarat mengingatkan apa tujuan kami kesini.
"Icch dasar..." Jawabku dengan wajah yang pasti sudah memerah.
Mas Imam bangkit dari duduknya langsung menuju kearahku yang masih berdiri dengan wajah malu. Diangkatnya daguku dengan jari telunjuknya, mata kami saling bertatapan.
Kata Imam kemudian mencium lembut bibirku dan berlalu kekamar mandi.
Duuh.. aku hanya bisa senyum-senyum sendiri.
Yaa Allah kenapa dadaku deg-degan sekali. Seperti saat malam pengantinku 8 tahun yang lalu. Bukankah dirumah kami sering melakukannya? Bukankah ini juga bukan Honeymoon kedua, tapi kenapa rasanya sangatlah berbeda?
Greeekk,..
Suara pintu dibuka, mas Imam keluar dari kamar mandi. Aku begitu terpana melihat suamiku, seperti berbeda dari hari-hari kemarin. Tampak lebih gagah, lebih tampan, terlebih jenggot tipis yang tumbuh disekitar dagunya menambah kesan macho.
"Sayang, kenapa melihatku seperti itu?" mas Imam bertanya tetapi apalah dayaku yang masih hanyut dengan pesona yang ada dihadapanku.
"Sayang!" Panggil mas Imam lagi dengan nada sedikit lebih keras membuyarkan lamunanku.
"Eeekh iyaa... kenapa?" tanyaku gagap.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu? Terpesona yaa?" goda mas Imam sambil memutar-mutarkan jari telunjuknya kearah hidungku, membuat aku semakin malu dan salah tingkah.
"Diiih GR banget yaaa... Siapa yang terpesona. orang dah liat tiap hari juga. Cuma baru sadar sekarang suamiku sudah bertambah tua." Sangkalku menutupi malu dengan memalingkan muka dan berjalan kearah meja rias disebelah ranjang.
"Akh masa sih sayang aku tambah tua? Bukannya tambah mempesona ya? Buktinya tu lihat dikaca mukamu merah." Lagi-lagi mas Imam menggodaku.
Terjebak dengan godaannya aku melihat wajahku dicermin, dan baru sadar dikerjain suamku.
"Aakh sayang mah gitu.. Ngerjain yaa...!" Kataku sambil memukul lembut dada mas Imam.
"Hawa istriku, coba lihat wajahmu dicermin. Aku rasa wajahmu sama saja seperti 8 tahun yang lalu. Masih terlihat cantik dan menguasai hatiku." mas Imam mulai mengeluarkan rayuannya, aku paham bahwa aku harus berjuang menahan diri untuk terlihat setenang mungkin. Malu bangetkan kalo terkesan mudah banget dirayu. Meskipun dengan suami kurasa aku harus jual mahal sedikitlah.
Padahal didalam hati aku sudah ingin berteriak,
Yaa Ampuuun aku ingin berteriak dan memberi tahu seluruh dunia betapa bahagianya aku digombalin suamiku.
Saat ini akulah ratunya, akulah wanita paling bahagia didunia ini.
"Hanya saja kau sekarang terlihat sedikit lelah, mungkin karena harus banyak mempersiapkan keperluanku dirumah. Terima kasih sayang, sudah menjadi Istri yang taat dan terbaik buatku. Kelak aku akan bersaksi dihadapan Allah bahwa Hawa istriku adalah istri yang sholehah" imbuh mas Imam melancarkan rayuannya membuatku semakin tidak tahan. Dadaku rasanya mau meledak, rasanya hampir sama 8 tahun yang lalu.
"Sayang, udah dong ngerayunya. Kelihatan gombal banget tauu." Aku berusaha mengelak dan menutupi kata hatiku yang sebenarnya,
Ayolah rayu aku lagi suamiku. Aku ingin terus terbang dan memacu andrenalinku karena gombalanmu yang akhir-akhir ini jarang kudengar. Tak tidur semalamanpun aku rela asal kata-kata indah dari bibirmu itu terus menjadi sayap yang siap membawa hatiku terbang.
"Apa aku terlihat sedang merayu, padahal aku bersungguh-sungguh" Ucap mas Imam sambil memelukku dari belakang. Kami sama2 menatap bayangan dicermin.
"Lalu apa semua itu benar?" Tanyaku sambil menatap lekat mata mas Imam melalui cermin.
"Amat, sangat, benar, sekali." Jawab mas Imam mantab.
"Sayang, aku bahagia memilikimu, aku bersyukur pada Allah telah menjadikanmu bagian dari takdirku. Tapi, kau pasti juga tau yang bertahun-tahun kita harapkan tak kunjung datang. Banyak usaha sudah kita coba, dan meski sampai saat ini belum berhasil maukah kamu terus berjuang bersamaku agar semakin lengkap kebahagiaan kita?" kata mas Imam sambil terus memeluk erat tubuhku.
Aku paham bahwa dia tak mau merusak suasana dengan menyinggung hatiku, aku paham suamiku ini sangat menjaga perasaanku. 8 tahun menikah tak sekalipun dia marah dan membentakku.
Aku terdiam, mataku berkaca-kaca, ingin aku menahan agar butir bening ini tak jatuh dari bendungan kelopak mataku. Meskipun bahasa suamiku sangat lembut tetap saja itu terasa seperti jarum kecil yang menusuk-nusuk hatiku. Tak terasa satu butiran air mataku jatuh. Dengan sigap mas Imam menghapusnya dengan jarinya sebelum air mata itu jatuh melewati pipiku.
"Istriku, apa aku menyakitimu?" Tanya mas Imam sambil membalikkan badanku dan dia duduk berjongkok dihadapanku.
Aku hanya menggelengkan kepalaku, aku belum mampu berkata apapun. Aku sedang mengumpulkan kekuatan dihatiku.
"Maafkan aku sayangku, aku tidak memaksamu. Tapi aku hanya ingin kau lebih bahagia, dan tidak putus asa berusaha." mas Imam berusaha menenangkan aku. Aku tau dia merasa sangat bersalah.
"Tidak sayang, kamu tidak pernah sekalipun menyakitiku. Akupun tidak ingin mengecewakanmu dan ibu. Tapi mungkin saat ini Allah masih menguji kesabaranku. Entah apa rencana-Nya. Yang pasti aku akan terus berprasangka baik kepada takdir yang Allah berikan." Jawabku dengan suara terbata-bata dan tertahan.
Yaa... aku menjawabnya agar suamiku sedikit tenang dan tidak merasa bersalah padaku lagi.
Mas Imam memelukku, erat sekali. Aku merasakan damai dan aman dalam pelukan hangat suamiku. Cukup lama kami diam san saking berpelukan.
"Sayang, ayuk kita wudhu, laksanakan sholat sunah. Setelah itu kita jalankan ikhtiar kita. Semoga Allah ridha kepada kita." Mas Imam memulai pembicaraan dengan bahasa nakalnya tapi tetap terdengar teduh ditelingaku supaya aku lupa dengan pembahasan kami beberapa saat lalu.
"Nakal..." Jawabku sambil mengusap air sisa air mataku dan beranjak kekamar mandi untuk wudhu dan sholat.
Kami terhanyut dalam khusyu sholat dan do'a kami. Selesai sholat mas Imam menggandeng tanganku keranjang. Kami duduk berhadapan, aku sedikit menundukkan wajahku. Entahlah aku merasa sangat malu pada suamiku. Yaa ini benar seperti malam pengantin kita dulu. Mas Imam mengangkat daguku dengan jari telunjuknya. Membuat kami berhadapan dengan sangat dekat.
"Istriku, Kamu cantik sekali." Kalimat rayuan terakhir mas Imam, dilanjutkan dengan kecupan mesra dikeningku.
Berlalulah malam ini dengan indah...