
Satu minggu setelah lamaran yang kuajukan diterima Helwa. Selama 1 bulan kedepan akulah yang sibuk mempersiapkan pernikahan untuk suami tercintaku dengan Helwa. Hari ini aku berencana menemui Nissa. Tadi pagi sudah sempat menelfon dia untuk ketemu dan dia minta aku datang ke kantor konveksinya.
"Ulluh ulluh akhirnya ketemu juga. Abis ngilang kemana sih kok meninggalkanku begitu saja. Bahkan telfon ataupun chatku seperti tidak penting lagi." Nissa menyambutku dengan merentangkan kedua tangannya untuk memelukku, ketika aku sampai kantor konveksi milikknya. Dari wajahnya tampak sekali kerinduannya kepadaku.
"Aku akhir-akhir ini sibuk. Maaf yaa.." sambil membalas pelukannya.
"Sibuk apa sih?"
"Emm aku haus boleh minta minum gak sih?" karena aku memang begitu haus.
"Tumben datang-datang minta minum. Ya udah kamu duduk disini dulu." sambil menarik kursi didepan meja kerjanya.
Aku mengangguk dan duduk, semantara Nissa keluar dan tidak lama kemudian kembali masuk kedalam.
"Tunggu bentar, udah kusuruh orang buat bikinin." sambil duduk dikursi kerjanya.
"Hawa. Apa kamu marah denganku?" tanya Nissa ragu-ragu sambil menggapai tanganku yang ada diujung meja kerjanya.
"Marah kenapa?"
"Ya marah karena waktu itu." ucapnya berhati-hati.
Rupanya Nissa mengira aku jarang menghubunginya karena aku marah soal lamaranku yang malah dia tolak bahkan marah padaku. Ku beri senyuman terbaikku untuknya.
"Nggak kok. Kenapa harus marah. Aku memintamu menjadi istri mas Imam, kamu berhak menerima atau menolak lamaranku kan." sambil tetap tersenyum.
Setidaknya dengan senyumanku, aku berharap Nissa tidak akan merasa canggung lagi.
"Maaf Hawa, aku mana bisa. Dan aku bersyukur kamu tidak pernah lagi membahasnya. Kamu harus membuang jauh-jauh ide konyol itu."
"Mana bisa. Aku sampai saat ini masih terus menjalankan rencanaku itu. Makanya aku disini sekarang." wajah Nissa seketika berubah, dia menarik tangannya dari tanganku.
"Ma-maksudmu ka-kamu kesini untuk membicarakan itu lagi denganku?" tanyanya gugup.
"Iyaa!" jawabku mantab.
tok.. tok.. tok...
Tiba-tiba seseorang datang membawa nampan berisi 2 gelas lemon tea dan meletakkannya didepanku dan depan Nissa.
"Terima kasih." sambil tersenyum dan kuanggukkan kepalaku.
"Sama-sama bu." lalu pergi keluar.
Kembali mataku menatap wajah Nissa yang pucat pasi.
"Kamu sakit Nis?" Nissa menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa kok jadi gini." sambil kuraih tangannya.
"Ka-kamu kesini mau membahas apa Hawa?" dengan suara lemahnya.
"Aku mau membahas pernikahan suamiku."
Aku binggung dengan perubahan Nissa yang tiba-tiba pucat dan lemah seakan dia tidak memiliki tulang untuk menyangga tubuhnya yang sedang duduk.
"Stop Hawa! Aku tidak mau menjadi istri kedua suamimu. Hentikan kekonyolan ini. Nggak ada yang lucu dari kekonyolanmu ini." sarkas Nissa.
Aku terbelalak terkejut sekaligus binggung dengan ucapannya. Kemudian aku sadar bahwa Nissa salah paham dengan ucapanku.
Aku tertawa sambil menutup mulutku. Wajahnya semakin memerah marah melihatku justru mentertawakan dia.
Setelah aku bisa mengatur kembali nafasku,
"Loh! Sepertinya kamu salah paham Nissa." sahutku dengan kembali tawa geli karena Nissa pasti mengira aku datang menemuinya untuk memintanya menikah dengan mas Imam seperti yang aku lakukan dua bulan lalu.
Wajah Nissa tiba-tiba berubah tegang dan rona merah diwajahnya yang tadinya penuh amarah kini berubah menjadi rona merah malu.
"Maksudku aku kesini karena mau meminta bantuanmu untuk membuatkan baju pengantin buat mas Imam dan calon istrinya. Juga minta tolong bantu aku mempersiapkan pernikahkan mereka."
"What?!" Nissa berteriak keras karena terkejut.
"Sstttt...!! Pelankan suaramu Niss aku bisa jantungan karena teriakanmu." Aku meletakkan jari telunjukku didepan bibirku.
Nissa melemahkan tubuhnya dan kembali duduk dikursinya.
"Baju pengantin bagaimana maksudmu? Kamu lama tidak cerita apa-apa denganku sekarang kamu memintaku membuat baju pengantin untuk suamimu. Sepertinya akhir-akhir ini banyak hal yang kamu sembunyikan dariku." menatapku menelidik penuh rasa penasaran.
Ku hela nafasku, mengatur kesiapan tubuhku supaya kuat menceritakan apa yang aku alami dua bulan ini. Nissa adalah teman terbaikku, selama inipun dialah yang menampung semua curhatanku, baik suka maupun duka. Hanya mengenai rencanaku menjodohkan mas Imam dengan Helwa saja yang tidak aku ceritakan, karena aku sangat tau Nissa pasti akan menentang bahkan akan terus berusaha meyakinkan aku agar aku melupakan rencanaku sedangkan aku tidak mau usahaku sia-sia. Tapi sekarang adalah saat yang tepat karena aku sudah melamar Helwa dan 1 bulan lagi adalah hari pernikahan mereka. Aku menceritakan secara detil mulai dari awal aku bertemu dengan Helwa sampai seminggu lalu aku sendiri yang melamarnya. Tidak ada yang terlewat, sepanjang aku menceritakan semua hal yang sudah aku lewati selama 2 bulan lalu Nissa tidak mampu menahan bulir air matanya mengalis deras. Bahkan dia menggeser kursi kerjanya menjadi disampingku.
"Kamu nekat baget sih? Kamu nanti akan sakit sendiri Hawa." bisik lembut Nissa sambil tangan kanannya mengusap bahuku ketika aku sudah mengakhiri ceritaku.
"Insya Allah aku kuat Niss. Bukankah salah satu ujian Imam itu adalah mengikhlaskan sesuatu yang sangat kita inginkan dan kita cintai untuk kita kembalikan kepada Allah. Aku yakin pada pilihanku Nis, cuma Ridha Allah yang sekarang aku inginkan."
"Tapi apa perlu suamimu?"
"Tidak Nissa. Mas Imam tetap suamiku. Hanya saja akan bertambah tanggung jawabnya. Dan aku memiliki seorang adik." jawabku sambil mengusap kasar air mataku dan berusaha tersenyum kuat.
"Adik katamu? Adik yang tidur seranjang dengan suamimu? atau adik yang akan mengambil sebagian waktu, harta, dan kasih sayang suamimu darimu?" tanya Nissa sinis.
"Nissa aku tidak memikirkan itu. Aku hanya berpikir kebahagiaan mas Imam dan Ibu, juga aku yakin Allah tidak akan mengurangi nikmat yang selama ini dianugerahkan kepadaku." jawabku sambil meremas tangan Nissa.
"Huh..! kamu sangat keras kepala. Bahkan aku nyaris percaya kamu adalah Hawa Sahabatku."
"Jadi bagaimana Nissa? Apa kamu tetap mau membantuku?"
Nissa hanya diam sambil melirikku.
"Tolonglah aku Nissa. Cuma kamu yang bisa kumintai tolong. Setidaknya lakukan karena Persahabatan kita." bujukku memelas.
"Aku bisa apa kalau kamu sudah begini." sambil memelukku. Sesaat kubenamkan diriku dalam hangat pelukan Nissa. Aku merasa sangat nyaman dan bertambah kuat.
"Jadi kapan mereka mau kesini?" sambil melepaskan pelukan kami.
"Mereka tidak perlu kemari Niss. Aku sudah bawakan baju contoh ukuran badan mas Imam dan Helwa. Aku yakin kamu tidak akan mengecewakanku."
"Tapi kau yang mengecewakanku dengan keras kepalamu itu." sanggah Nissa.
Tiba-tiba suara pintu diketuk dari luar.
Tok.. tok.. tok..
"Siapa?" teriak Nissa.
"Ada tamu bu." jawab asisten Nissa dari luar.
"Masuk!"
"Assalamu'alaikum" suara itu, aku mengenal bail suara itu. Aku memutar badanku dan ternyata benar dugaanku.
"Wa'alaikumsalam." aku dan Nissa menjawab bersamaan.
Wanita tersebut terus berjalan mendekati kami. Aku gugup bukan main, bagaimana bisa dia tau aku berada disini. Ataukah ini hanya kebetulan belaka?
"I-ibu.." aku gugup menyapanya.
Ibu kemudian bersalaman bergantian aku dan Nissa, dan kami mencium punggung tangan ibu.
"Ada apa kok ibu kesini?" tanyaku cemas.
"Ibu ingin ikut membantumu sayang. Tapi kalo ibu ngomong dari rumah pasti gak bakal kamu ijinkan. Jadi aku ngikutin kamu deh."