
Setelah kami turun semua sudah siap, pak Andri dan pak Wanto menggotong anak pak Wanto diikuti bu Nunuk dan kami dibelakang.
"Pak Andri, biar saya saja yang bawa mobilny. Bapak dirumah saja." kata mas Imam.
"Baik, siap pak." jawab pak Andri.
Mobil berjalan meninggalkan Villa. Sedangkan untuk sampai Rumah Sakit butuh waktu selama 40 menit. Selama diperjalanan suara tangis bu Nunuk belum reda, begitupun rintihan gadis tersebut. Tapi mas Imam tetap fokus membawa mobilnya.
40 menit kemudian sampailah di Rumah Sakit. Gadis itu diikuti kedua orang tuanya masuk ke UGD. Sedang mas Imam memarkirkan dulu mobilnya.
Aku dan mas Imam masuk bersama. Ku lihat dari balik pintu kaca gadis itu sudah mendapatkan pertolongan medis. Kami mendekati pak Wanto yang sedang menenangkan bu Nunuk.
"Sabar bu, kita berdo'a ya semoga putri ibu tidak apa-apa." Aku berusaha menenangkan bu Nunuk.
Seorang perawat kemudian keluar,
"Keluarga pasien, tolong ke bagian pendaftaran dulu ya."
"Dimana sus?" tanya mas Imam.
"Disebelah sana pak" jawab suster itu sambil menunjukkan arah tempat pendaftaran pasien.
"Mari pak." Mas Imam mengajak pak Wanto.
"Iya pak." Pak Wanto melangkan meninggalkan aku dan bu Nunuk mengikuti mas Imam.
Lumayan lama mas Imam dan pak Wanto belum juga kembali. Seorang dokter ditemani 2 orang perawat keluar.
"Keluarga pasien atas nama Halimah" panggil salah satu suster tersebut.
"Iya saya sus. Bagaimana anak saya?" sahut bu Nunuk.
"Mari buk ikut pak dokter ya." jawab suter itu sambil mengarahkan kami untuk mengikuti dokter tersebut.
Sesampainya didalam ruangan dokter tersebut, kami dipersilahkan duduk.
"Bagaimana keadaan anak saya dokter?" tanya bu Nunuk tidak sabar.
"Pasien sudah selesai saya periksa dan tidak apa-apa. Ada luka tapi tidak serius, sudah dijahit dan nanti boleh pulang. " jawab dokter tersebut ramah.
"Alhamdulillah." aku dan bu Nunuk mengucap syukur bersama.
"Ini resepnya tolong ditebus diapotik ya. Tiap hari bersihkan lukanya dan ganti perbannya. Setelah 1 minggu kembali lagi kesini."
"Baik dok. Terima kasih. Kami permisi." jawabku sambil berdiri dan keluar dari ruangan doker itu. Didepan sudah ada mas Imam dan pak Wanto menunggu kami. Aku menghampiri suamiku dan bu Nunuk menghampiri pak Wanto. Mereka berdua ngobrol perihal hasil pemeriksaan dokter.
"Mas ini resepnya, ayo kita ke apotik." kataku pada mas Imam.
"Ayook, tapi aku mulai lapar sayang."
"Kita tebus dulu saja resep ini. Nanti pulang kita beli aja sarapan dibungkus. Takutnya bu Nunuk belum sempat masak tadi."
"Okelah, istriku gimana enaknya aja." jawab mas Imam sambil senyum.
Sore harinya aku merasa lapar. Aku rasa aku butuh pengganjal perut menunggu makan malam tiba. Aku berjalan kedapur, membuka kulkas ada jus jambu merah dan buah\-buahan.
"Ibu cari apa?" Suara bu Nunuk dari arah belakang mengagetkanku.
"Ouuwh, bu Nunuk, kaget saya." kataku sambil mengusap dadaku yang masih deg\-degan.
"Maaf bu ngagetin. Ibu cari apa? kok gak manggil saya?"
"Aku butuh pengganjal perut bu Nunuk. Aku bisa mencarinya sendiri. bu Nunuk rawat putrinya dulu aja."
"Nggak apa\-apa bu. Anaknya lagi tidur kok." katanya sambil melirik arah kamar yang terlihat dari dapur.
Aku manggut\-manggut saja mendengar jawabannya.
"Bu, terima kasih atas bantuan ibu sama bapak. Tadi saya binggung bu, gugup ngga bisa berpikir apa\-apa. Semoga Allah yang membalas kebaikan bapak dan ibu."
"Sudahlah bu Nunuk, gak papa kok. Kita mah senang bisa membantu. Tandanya kita masih bisa memberi manfaat untuk orang lain." jawabku sambil mengupas jambu.
"Saya baru tau kalo bu Nunuk punya anak gadis." sambungku.
"Iya bu, soalnya ibu jarang kesini. Dan dia memang baru akhir\-akhir ini saja ikut kami disini karena dirumah tidak punya teman. Adeknya sudah mondok bu." terang bu Nunuk.
"Masya Allah. Semoga jadi anak yang sholeh dan sholehah ya bu anak2nya."
"Aamiin. Terima kasih do'anya. Semoga bapak dan ibu juga segera Allah kasih momongan."
"Aamiin bu Nunuk. Terima kasih do'anya. Oh ya, putri bu Nunuk berapa usianya sekarang?"
"22 tahun bu, dia anak Sulung saya."
"Waah sudah dewasa ya? Kenapa belum menikah? Biasanya kalo dipedesaan usia segitu sudah nikah kan bu. Soalnya saya dulu dari desa awalnya. hehee"
"Belum bu, anaknya bilang belum ada yang cocok."
"Nanti kalau menikah jangan lupa undang saya dan mas Imam, saya pasti datang."
"Oh ya, anaknya tadi siapa bu namanya? kok saya lupa."
"Halimah bu, Halimatus Sa'diyah"
"Masya Allah, bagus sekali namanya."
Obrolan kami berlanjut sampai jam 5 sore dan aku kembali keatas untuk mandi sedangkan bu Nunuk mempersiapkan bahan2 untuk memasak makan malam. Karena mas Imam ngajak aku untuk jama'ah sholat Maghrib kemasjid lagi.
~~~~~~~~~•••~~~~~~~~~
Dua hari kemudian.
Sehabis makan malam mas Imam mengajak aku duduk ditaman belakang. Ketika keluar pintu, dan kami berjalan menuju kursi yang biasa kami pakai duduk, sudah ada seseorang yang duduk ditempat itu.
Seorang gadis yang sedang melamun menatap kolam renang.
Aku berjalan duluan mendekatinya sedang mas Imam masih berdiri agak jauh dari kursi itu sambil memainkan ponselnya.
Benar dugaanku, dia adalah Halimah putri pak Wanto.
"Hai, Assalamu'alaikum" sapaku membuyarkan lamunannya.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya gugup sambil mencoba berdiri.
"Ekh ga papa, duduk aja. Kakimu masih sakit?"
"Sudah lebih baik bu. Terima kasih pertolongannya kemarin."
"Iya sama\-sama."
Gadis itu melihat mas Imam yang berdiri, menunggu kami.
"Maaf bu, saya lancang duduk disini. Saya merasa bosan dikamar jadi tadi sambil belajar jalan saya duduk disini."
"Gak papa kok. Santai sajalah, kalian sudah merawat dan menjaga tempat ini dengan baik. Kenapa duduk dikursi taman saja harus meminta maaf?"
"Tapi saya menganggu ibu dan bapak" jawabnya sambil melirik mas Imam lagi yang tetap fokus pada ponselnya.
"Oh.. Ngga menganggu kok." aku berusaha meyakinkannya.
Tapi dari wajahnya terlihat tidak nyaman dan merasa itu adalah hal yang salah.
"Sayang, sini." aku memanggil mas Iman sambil melambaikan tangan.
Mas Imam melihatku sebentar, kemudian jalan kearah kami.
"Selamat malam pak." Sapa Halim pada mas Imam.
"Selamat malam. Gimana lukamu, udah baikan?"
"Alhamdillah sudah pak. Terima kasih untuk bantuan bapak kemarin."
"Sama\-sama." jawab mas Imam singkat.
*Akh gadis ini sopan sekali. Dia sangat beradab, sepertinya pak Wanto dan bu Nunuk berhasil mendidik akhlaknya. Beruntung sekali mereka*. Gumamku dalam hati.
"Sayang, apa kamu keberatan jika Halimah menemani aku ngobrol disini?" tanyaku pada mas Imam. Sebenarnya aku sudah tau sudah pasti suamiku itu tidak akan keberatan. Tapi aku harus meyakinkan Halimah, si gadis beradab baik itu dengan jawaban dari mas Imam.
"Gak papa. Ajak dia ngobrol kalau kamu kesepian atau butuh teman saat disini."
"Tuh kan Halimah. Kamu dengar sendiri jawaban suamiku. Makasih sayang." kataku pada mas Imam sambil merangkul lengannya.
"Yaa sayang. Everything for you. Ya udah aku kekamar dulu. Jangan malam\-malam kembali ke kamar karena besok kita kembali kerumah." pesan mas Imam.
"Okey, gak lupa kok." sahutku dan kupersembahkan senyuman termanisku untuk suamiku.
Mas Imam kemudian melangkah pergi meninggalkan kami berdua ditaman.