Dzuriat

Dzuriat
Restu dari Ibu


Tiga bulan sudah berlalu. Aku semakin mengenal Helwa dengan baik. Aku semakin sering kepanti mengunjungi anak-anak juga Helwa pastinya. Pembicaraanku dengan mas Imam mengenai calon istri untuknya juga sudah mulai tenang, perlahan mas Imam melunak dan membiarkanku sibuk. Aku tetap yang sibuk mencari istri untuk suamiku. Aneh memang, dimana disaat banyak wanita yang sering memergoki suaminya memiliki WIL tapi justru aku sibuk mencarikan istri untuk suamiku yang setia, meskipun tidak bisa dipungkiri selalu ada sakit dan sesak yang teramat sangat didalam dadaku. Tapi tidak masalah toh aku juga yang menginginkannya. Sekarang aku sudah yakin pada pilihanku, Siapalagi kalau bukan si cantik Helwa. Selain muda, cantik, berilmu, dan memiliki akhlak dan adab yang baik Helwa juga gadis baik-baik, yang akupun mengenal sekali ibunya. Menurutku dia cocok sebagai ibu yang akan melahirkan anak-anak mas Imam.


Sekarang tinggal aku yang membicarakan masalah ini pada ibu.


"Ibu.." bibirku bergetar dihadapan ibu yang wajahnya juga ikut tegang.


"Kenapa sayang, apa kamu bertengkar dengan suamimu?"


"Tidak bu, Hawa dan mas Imam baik-baik saja. Cuma.." Lidahku kelu rasanya untuk meneruskan lagi kalimatku.


"Cuma apa? Jangan buat ibu takut." ibu serius menatapku dengan was-was. Air mataku mengalir, pertahananku hancur untuk tidak menangis.


"Hawa, kamu kenapa sayang." ibu semakin binggung dan khawatir mengenggap erat tanganku.


"Ibu aku mau minta ijin dan restu." lirihku.


"Ijin apa? Restu untuk apa?" suara ibu lebih keras karena panik sambil mengenggam tanganku lebih erat.


"Ijin untuk..." terputus, aku menangis memeluk ibu. Kami berpelukan, ibu mengusap lembut punggungku untuk menenangkan aku. Setelah cukup tenang,


"Ijinkan mas Imam menikah lagi bu." terbata-bata kalimat itu terucap dari bibirku.


Ibu melepaskan pelukanku, ditatapnya lekat kedua mataku, matanya memerah antara tidak percaya, marah, atau kecewa.


"Kamu bicara apa Hawa, ibu tidak mendengarnya dengan baik." bibirnya bergetar, wajahnya memerah seakan siap meledakkan apapun.


Bukannya ibu tidak mendengarku dengan baik, tapi ibu masih belum percaya dengan yang ku katakan. Aku hanya menangis, suara tangisku semakin pecah, tubuhku merosot dari sofa pajang tempatku dan ibu duduk. Ku peluk lutut ibu mertuaku yang begitu menyayangiku.


"Katakan sekali lagi Hawa, ibu tadi tidak mendengarmu dengan baik." ulang ibu sambil menatapku.


"I-ijinkan mas Imam menikah lagi ibu, aku rela." terbata-bata mengatakannya.


"Apa kau kehilangan kendali atas nuranimu nak?" dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tidak bu, aku ingin kalian bahagia." jawabku lirih.


"Tidak Hawa!!!" tegas ibu marah


mengagetkanku.


Membuatku mundur dan melepaskan tanganku yang memeluk lututnya. hampir 9 tahun pernikahanku dengan mas Imam ibu tidak sekalipun berbicara sekeras itu padaku.


"Apa kamu sadar dengan ucapanmu!" suara ibu tak kalah keras lagi.


"Hawa sadar bu. Hawa-.."


"Hentikan Ocehan konyolmu ini !!"


"Bu tolong beri hawa kesempatan untuk membahagiakan kalian, memberikan mas Imam anak, memberikan ibu cucu yang manis, sehat, pintar, dan sholeh-sholehah." jelasku merayu.


"Bukankah sampai saat ini kami masih memberikanmu kesempatan itu! Maka manfaatkan kesempatanmu ini." sambil menatap marah penuh kecewa padaku.


"Ibu, sampai kapan? Aku tersiksa bu, hatiku sakit, batinku tersiksa setiap hari. Ku mohon ibu mengertilah. Bantu aku bu mengurangi siksaan ini." aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, kemudian membenamkannya dipinggiran sofa tempat ibu duduk. Tangisku terisak tidak mampu kutahan lagi, semakin membuncah.


Kuangkat wajahku, kulihat kedua mata ibu mertuaku yang kini ikut sembab,


Oh ibu, kau bahkan seperti ibu kandungku. Diluaran sana aku mendengar banyak cerita bagaimana menantu dan ibu mertuanya tidak cocok dan saling menjatuhkan, saling marah dan bermusuhan. Tapi tidak denganmu. Kau bahkan menjagaku, lebih memikirkan perasaan dan kebaikan untukku.


Berdosanya aku jika menyakitimu.


"Ibu aku sudah mengatakannya Pada mas Imam, dan mas Imam menyetujuinya. Aku hanya memerlukan ijin dan restu ibu sekarang." jelasku penuh keyakinan pada ibu.


"Apa? Imam menyetujui ini? Apakah ide konyol ini rencana Imam dan memaksamu meminta ijinku?" Ibu menatapku lekat, seolah mencari kebenaran ditiap jawabanku.


"Tidak bu. Justru aku yang memaksa mas Imam juga."


"Kenapa Hawa, kenapa kamu lakukan ini anakku." sambil membimbingku kembali duduk disebelahnya.


"Karena aku ingin mas Imam memiliki anak, dan ibu menimang cucu. Dengan begitu keluarga ini akan memiliki penerus, sekalipun tidak terlahir dari rahimku. Jika terus menerus menunggu aku hamil yang entah kapan atau entah bisa atau tidak aku takut seumur hidupku nanti akan selalu berselimut rasa sedih berkepanjangan bu. " berusaha kuat dan tersenyum sambil menghapus air mataku.


Ibu diam, menghela nafas panjang, sepertiny Sesak sekali dada ibu. Kembali memelukku, kusandarkan kepalaku dipundaknya yang hangat keibuan.


"Tunggu Hawa, kita hanya perlu bersabar. Yakin pada Allah." lirihnya.


"Aku yakin pada kemurahan Allah, bu. Tapi sampai kapan bu? Waktu akan terus berlalu, bagaimana jika semakin lama semakin tidak ada harapan?" Ibu menengadahkan wajahny lalu memejamkan matanya. Ibupun merasakan kepahitanku sekarang, dia sangat tau.


"Ibu akan menyukainya jika sudah bertemu nanti." Ibu terkejut menatapku.


"Jadi kamu sudah menemukan calonnya?"


"Iya ibu, dia gadis yang baik dan insya Allah shalihah. Ibu pasti akan menyayanginya seperti padaku sekarang." jawabku yakin.


"Jadi kamu sudah betul-betul mempersiapkan ini semua untuk suamimu?" tanya ibu seakan tidak percaya.


Aku mengangguk dengan senyum.


Yah! senyum pahit dan manis sekaligus.


"Ibu bantu aku melamarnya." pintaku.


"Hawa, sebaiknya kamu pikirkan berribu-ribu kali lagi. Jangan gegabah, Ibu takut nanti kamu menyesal."


"Sudah Hawa pikirkan dengan baik, maka itu Hawa berani mengatakan ini pada ibu." Ibu memejamkan matanya. Pasti sangat sulit ibu menerima dan merestui keputusanku ini.


"Siapa namanya?"


"Helwa bu." jawabku mantab.


"Seperti tidak asing nama itu." sambil berpikir.


"Helwa ibu, putri sulung ibu Umi Ketua panti. Apa ibu sudah pernah bertemu dengannya?"


"Oh yaa... Ibu ingat. Ibu pernah bertemu 2 kali saat kepanti. Jadi dia gadisnya?" aku mengangguk membenarkan.


Spertinya ini tidak akan sulit. Ibu akan setuju dengan Helwa.