Dzuriat

Dzuriat
Rencana kedatangan Helwa kerumah


"Mas, tau gak ternyata bu Umi punya anak gadis yang cantik banget." sambil menata bantalku.


"Masa?"


"Iyaa, aku sampai terkesima." Sambil merebahkan kepalaku dipundak mas Imam yang Asyik dengan ponselnya.


"Segitunya?" mas imam mengangkat sebelah alisnya sambil menolehku seperti tidak percaya.


"Iyaa sayang, ngapain aku bohong."


"Cantik mana dengan Hawaku?" sambil tersenyum genit, mencubit hidungku.


"Jujur aja cantikan dia sih."


"Akh gak percaya." memasang ekspresi heran yang dibuat-buat.


"Diih apaan sih, bener aku gak bohong."


"Dia kira2 bidadari dari langit keberapa ya?" dengan ekspresi pura-pura berpikir bodoh.


"Maksudnya?" aku penasaran.


"Hawa istriku saja sudah seperti bidadari dari surga. Dan dia lebih cantik dari istriku? Huuuh aku tetap tidak percaya, mana mungkin ada yang lebih cantik dari istriku ini." mas Imam tersenyum menggodaku.


"Apaan sih, nakal." ku cubit perutnya.


"Awww.. lagi donk." mas Imam menantang.


Aku ingat aku sudah bertukar nomer WA tadi dengan Helwa. Barangkali ada photo profilnya. Kuraih ponselku dimeja sebelah ranjang.


"Huuuffft..." aku menghela nafas panjang.


Mas Imam binggung memperhatikan tingkahku.


"Kenapa?" mas Imam heran.


"Tadi aku udah bertukar nomer WA dengan Helwa."


"Trus?"


"Ya trus kukira ada dia pakai photonya sendiri buat PP WAnya." sambil memanyunkan mulutku, kecewa.


"Lalu apa masalahnya?"


"Ya salah dong mas. Kenyataannya bikin bete."


"Kok bisa. Maksudmu gimana sayaang?" tanya mas Imam semakin gemas.


"Karena ternyata dia pakai profil photo kucing." jawabku kecewa dengan memanyunkan bibirku lebih tinggi.


"Hahahaaaa..." mas Imam tertawa seakan puas sekali.


"Jahat. Lihat saja akan kubalas besok." grutuku.


Mas Iman masih terus tertawa aku bangkit dari ranjang, dan jalan menuju pintu.


"Mau kemana?" masih dengan bekas-bekas kepuasan tawanya.


"Mau turun ambil es buat kompres kamu mas biar gak ketawa terus." jawabku kesal.


"Apa?"


Tidak ku jawab, aku turun dengan menggerutu sepanjang jalan dari kamar kedapur.


Aku mengambil jus kemasan dari dalam kulkas. Kutuang digelas dan kubawa kemeja makan.


Aku iseng membuka ponselku sambil pelan-pelan ku minum jusku. Iseng-iseng ku buka list contac Helwa diponselku, ternyata dia sedang online. Akh kusapa saja dia, lumayan buat teman ngobrol sambil minun jus daripada cepat-cepat keatas bertemu mas Imam yang lagi puas banget ketawa, cuma bikin kesal.


Aku : Assalamu'alaikum adik cantikku.


Sebentar menunggu balasan dari Helwa masuk.


Helwa : Wa'alaikumsalam kakakku terbaik.


Aku tersenyum baca balasannya.


Aku : Helwa belum tidur?


Helwa : Belum mbak.


Aku binggung mau ngobrol apa lagi. Dichat tentu saja gak seasyik kalau berhadapan.


Lalu aku punya ide membalas mas Imam.


Aku : Helwa, lusa hari sabtu, kamu ada acara gak?


Helwa ofline belum sempat membaca balasanku.


"Huufft," kuhela nafasku. Kecewa.


Aku kembali kekamar, mas Imam masih belum tidur. Melihat wajahku kembali dia senyum-senyum mengodaku.


"Huuuh bikin nyesel udah cepat-cepat balik kekamar" Grutuku pelan.


Aku kembali keranjang. Karena kesal sengaja duduk nyender disandaran ranjang agak berjauhan dengan mas Imam.


Kulihat ponselku ada balasan dari Helwa, buru-buru kubuka.


Helwa : Nggak ada mbak. Kenapa?


Aku dengan cepat dan semangat membalas kembali.


Aku : Helwa mau gak main kerumahku? Aku kesepian, aku nyaman shering sama kamu. Kalau gak keberatan sih.


Sudah kuketik tapi kuhapus lagi, ragu takut Helwa menolak atau berpikir aneh-aneh karena baru tadi siang kami kenal.


Akh sepertinya Helwa tidak mungkin berpikiran begitu. Karena bahkan Ibunya sudah seperti Ibuku juga. Akhirnya kembali ku ketik dan ku kirim.


Helwa: Tapi, Helwa belum tau rumah mbak Hawa.


Aku nyaris melompat membaca balasan Helwa saking semangatnya. Tapi kutahan, aku gak mau mas Imam menertawakanku lagi.


Aku : Kalau mau lusa aku jemput ya.


Helwa : Apa Nggak merepotkan mbak Hawa?


Aku : Sama sekali nggak. Kebetulan aku ada perlu beli sesuatu untuk hadiah temanku yang tadi ta'aruf dan minggu depan khitbah. Jadi bisa sekalian jemput kamu, kan bisa kamu bantuin pilih kado juga. Aku merayunya.


Helwa : Besok Helwa ijin ibu dulu ya. Kalau diijinkan dengan senang hati.


Aku : Oke adikku yang manis. Selamat malam dan istirahat. Assalamu'alaikum.


Helwa : Wa'alaikumsalam kakak terbaikku.


Yesss akhirnya Helwa mau juga datang kerumah. Aku senyum-senyum bahagia. Terlebih membaca balasan terakhir Helwa, aku merasa sudah benar2 memiliki adik meskipun kami baru kenal tadi siang.


Ternyata gerak gerikku chat dengan Helwa tidak luput dari perhatian mas Imam.


Aku menoleh kearahnya. Saat saling bertatap,


"Kamu baik-baik saja?"


Aku heran dengan pertanyaannya.


Waspada jangan-jangan mas Imam mau menertawakan aku lagi.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Aku tidak berubah jadi Zombie." jawabku sambil senyum-senyum.


Mas Imam melihatku dengan heran membuat aku gemas.


"Sayang, kamu lucu kalo ekspresinya seperti itu. Bikin gemas." sambil mencubit pipinya.


Mas Imam membuka matanya lebar melihat aku sebahagia itu.


"Udah akh ayok tidur." ajakku seperti tanpa dosa kepada mas Imam yang masih binggung dengan tingkahku.


Akhirnya mas Imam menarik selimut dan mencium pipi juga keningku. Aku tersenyum bahagia. Gak sabar nunggu lusa.