
"Helwa, apa kamu menyukai istriku?"
"I, Iya." gemetar sambil meremas jemariku.
"Apa yang kamu sukai darinya?"
"Mbak Hawa orangnya baik."
"Menurutmu seberapa baik dia?"
Aku binggung haru menjawab apa.
Apa maksud pertanyaannya? Bukankah seharusnya dia yang lebih mengenal istrinya daripada aku. Apa dia tidak suka aku dekat dengan istrinya?
"Jadi menurutmu seberapa baik istriku itu?" dia mengulang pertanyaannya.
"Mbak Hawa baik sekali, randah hati dan suka berbagi, bisa memahami orang lain dengan baik, dan Insya Allah Shalihah."
"Kamu benar. Bahkan jika nanti kamu mengenal dia lebih dekat lagi kamu akan tau dia jauh lebih baik dari yang kamu sebutkan itu."
"Insya Allah."
"Jika suatu ketika Hawa memberikanmu sesuatu yang sangat berharga untukmu. Apa kamu mau menerimanya?"
Pertanyaan macam apa lagi ini. Aneh, sulit dipahami.
"Maaf, maksudnya bagaimana?" tanyaku ragu-ragu.
"Sudah, lupakan saja! anggap aku tidak pernah bertanya seperti itu."
Lagi-lagi aku gagal memahami perkataannya.
"Mbak Hawa please segera kesini, sebelum aku membeku karena badanku terasa dingin semua." teriakku dalam hati.
Imam POV
Sambil menunggu istriku yang memanggil adik barunya (begitulah dia mengatakannya padaku dikamar tadi.) Ku makan sepiring kecil buah yang sudah dia siapkan, sambil aku membuka ponsel, melihat laporan, email, juga percakapan digrup WA staf kantor.
"Mas, ini Helwa." kuangkat kepalaku mendengar suara Hawa.
Aku melihat Hawa sedang mengandeng seorang gadis, gadis yang sangat cantik. Aku harus jujur bahwa gadis itu lebih cantik dari istriku, terlihat sangat anggun dengan balutan busana syar'i. Bukan hanya karena usianya tapi sepertinya gadis itu memiliki aura yang begitu kuat.
"Mas" suara Hawa menyadarkanku.
"Astaghfirullah" Berulang-ulang kubaca Istighfar sambil menundukkan pandanganku.
Tak lama gadis itu sudah duduk disamping Hawa, dan kami makan.
Selesai makan aku sengaja langsung ketaman belakang. Aku mengindari dosaku terulang dengan menatap wanita lain selain istriku karena pesonanya.
Kusandarkan kepalaku disandaran kursi taman, kutatap langit malam, pikiranku melayang-layang seakan mengikuti cahaya bintang.
Bagaimana tidak, sebelumnya Hawa tidak pernah mengajak orang yang baru dikenalnya kerumah. Diapun tidak mudah begitu dekat dan akrab dengan seseorang. Tapi kenapa dia begitu berbeda dengan gadis itu. Bahkan meskipun dia tau aku tidak akan menolak keinginannya dia bahkan tidak ijin kepadaku untuk membawa gadis itu kerumah. Apa karena hawa terhipnotis dengan pesona gadis itu? Ataukah ada hubungannya dengan rencana dia ingin aku menikah lagi? yang bahkan dia juga mengatakan dialah yang akan mencarikan sendiri calon istri untukku. Jika iya, mungkinkah gadis itu yang Hawa pilih untukku? Hawa mengatakan akan mencarikanku istri yang shalihah, sedangkan gadis itu dilihat saja sudah tampak sekali kealimannya.
"Mas" suara Hawa menyapaku, membuyarkan pikiran2 yang baru kubangun dengan segala rasa penasaranku.
Benar, dia datang dengan gadis itu disebelahnya. Kemudian Hawa duduk dikursi sebelahku sedangkan dia duduk disebelah Hawa.
"Kalian gak kekamar?"
"Lho kok kekamar sih mas? Kan kita baru selesai makan, masa mau langsung tidur. Diabet tar." Hawa mencoba mencairkan suasana. Tentu saja istri tersayangku ini sangat tau bagaimana canggungnya aku saat itu.
"Maksudku bukan itu sayang, tapi ke kamar buat ngobrol-ngobrol berdua."
"Tadi kita udah ngobrol-ngobrol berdua. Sekarang sambil nunggu ngantuk kita ngobrol bertiga."
"Bisa aja kamu." gemas mencubit hidung istriku.
"Ih jangan genit. Malu itu ada Helwa."
Kulirik gadis itu hanya tersenyum melihat keromantisan sederhana kami. Kemudian melemparkan pandangannya kekolam.
"Mas, Helwa tu hebat loh. Dia mondok sejak usia 8 tahun. Kemudian melanjutkan kuliah diKairo."
"Oh ya.. Hebat dong." aku menanggapi cerita Hawa sambil melihat gadis itu yang masih memilih melihat kolam.
"Iya. Sekarang dia mau melamar kerja dibeberapa tempat. Helwa pengen membagikan Ilmu yang dia miliki. Tapi sementara ini mau bantu bu Umi urus panti dulu."
"Iya terima kasih."
"Kamu gak perlu sungkan pada kami ya."
"Iya mbak." jawabnya dengan suara pelan.
"Ngomong-ngomong ini kok gak ada cemilan atau minumannya ya. Tadi aku lupa pesan sama mbak Sum. Aku kedapur dulu ya sebentar." Hawa sambil berdiri.
"Tapi mbak, Helwa.."
"Kamu tunggu disini sebentar aja. Masa kedapur aja mau ikut. Tenang aja mas Imam gak bakalan nerkam atau gigit kamu kok."
Gadis itu akhirnya diam dan kembali duduk dikursinya.
"Hawa, apa-apaan ini. Kau jebak suamimu berdua ditaman dengan seorang gadis? Oh No..! Semoga kamu tidak sengaja melakukannya sayang. Jangan-jangan kamu sudah memulai rencanamu beberapa hari lalu dimalam ini? Istriku sayang, hentikan bermain-main bara api, aku tidak mau rumah tangga kita terbakar sayang. Lalu apa sekarang yang harus kulakukan dengan gadis ini. Jika diam, bukankah aku terkesan sombong, atau bagaimana jika nanti dia berpikir bahwa aku keberatan istriku dekat dengannya lalu dia menjauhi Hawa yang bisa membuat Hawa kehilangan kebahagiaannya beberapa hari ini. Mungkin lebih baik jika aku berbasa-basi sambil menyelidiki apakah dia bagian dari rencana konyol istriku."
"Usia kamu berapa?" aku membuka pembicaraan.
"25 mas." dia tampak terkejut dengan pertanyaanku dan menjawab gugup.
"Kok mau kerja, memang belum ada planing menikah?"
To the point ajalah aku menyelidikinya, meskipun terkesan tidak sopan. Daripada kebanyakan basa basi. Pikirku.
Tidak dijawab dengan 1 katapun hanya menggelengkan kepala.
"Sudah punya calon?"
Lagi-lagi menggelengkan kepalanya.
Hei apa dia kehabisan suara, kenapa hanya bisa menggelengkkan kepala. Apa dia sepemalu itu?
Aku tersenyum melihat ekspresi wajahnya yang tegang itu. Terlebih saat aku tidak sadar meliriknya ternyata dia diam-diam mencuri pandang padaku.
"Dari tadi jawabannya menggeleng terus. menggeleng tanda belum ada atau belum mau."
"Belum ada". jawabnya singkat.
"Belum ada karena kamu tolak semua ya?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Yaa ku rasa untuk gadis sepertimu akan banyak laki-laki yang mengejar mati-matian. Bahkan mungkin jika kamu minta mereka untuk nyebur kedalam sumur, mereka akan turuti demi kamu." aku mencoba mengeluarkan sedikit humor murahanku.
Dia tersenyum mendengar perkataanku, mungkin dalam pikirannya aku adalah laki-laki genit, mata keranjang, atau perayu. Tidak apalah dia berfikir begitu, setidaknya jika bemar dia bagian dari rencana Hawa maka dia akan langsung Ilfeel denganku.
Dan lagi-lagi dia tertangkap mencuri pandang padaku.
Heuuft, gadis ini sepertinya masih terlalu polos.
Helwa, apa kamu menyukai istriku?"
"I, Iya." jawabnya gugup.
"Apa yang kamu sukai dari istriku?"
"Mbak Hawa orangnya baik."
"Menurutmu seberapa baik dia?" aku penasaran menunggu jawabannya yang justru diam.
"Jadi menurutmu seberapa baik istriku itu?" ku ulangi pertanyaanku.
"Mbak Hawa baik sekali, randah hati dan suka berbagi, bisa memahami orang lain dengan baik, dan Insya Allah Shalihah."
"Kamu benar. Bahkan jika nanti kamu mengenal dia lebih dekat lagi kamu akan tau dia jauh lebih baik dari yang kamu sebutkan itu."
"Insya Allah."
"Jika suatu ketika Hawa memberikanmu sesuatu yang sangat berharga untukmu. Apa kamu mau menerimanya?" aku mencoba memancingnya.
"Maaf, maksudnya bagaimana?"
"Sudah, lupakan saja! anggap aku tidak pernah bertanya seperti itu." kurasa Hawa tidak memiliki rencana seperti kecurigaanku dengan gadis ini. Mungkin Hawa menyukainya memang sebatas menganggapnya adik. Tidak lebih.