Dzuriat

Dzuriat
Kekecewaan yang terus berulang


"Halim, apa kegiatanmu sekarang?"


"Tidak ada bu, cuma mengajar ngaji anak-anak tetangga."


"Waaah keren, kamu alumni pondok mana?"


"Pondok XX bu, asuhan bapak kyai XX".


"Itu kan pondok pesantren ternama. Kamu berapa tahun mondok disana?"


"10 tahun bu."


"Masya Allah, udah banyak hafal kitab-kitab dong."


"Alhamdulillah bu. Tapi belum sehebat ibu."


jawabnya rendah hati.


"Hahahaaa bisa aja, aku dulu mondok cuma 8 tahun kok."


Obrolan kami berlanjut, banyak hal yang kami bicarakan. Dan dibalik sikapnya yang sopan, rendah hati dan lembut itu ternyata Halim cepat sekali bisa akrab denganku.


Akh aku menemukan teman baru yang nyambung banget untuk teman shering.


Sayang besok sudah harus kembali kerumah.


 



 



"Sayang, apa kita harus pulang besok?" tanyaku pada mas Iman yang sibuk memperhatikan layar ponselnya.



"Iya. Kenapa?"



"Apa tidak bisa kita tunda 2 atau 3 hari lagi?"



"Looh bukannya kamu yang kemarin sebelum berangkat mau kita disini cuma sebentar. Inipun sudah lebih dari jadwal looh." tanya mas Imam binggung dengan perubahan sikapku yang tiba\-tiba nggak mau pulang cepat. Padahal aku paling gak betah kalo pergi terlalu lama.



"Aku, ternyata masih betah disini."



"Jangan\-jangan kamu masih kurang puas bulan madunya ya? tanya mas Imam menggodaku.



"Kalo kurang mah gampang. Kita bisa lanjutkan dirumah." tertawa puas berhasil menggodaku, membuat wajahku merah.



" Apaan sih sayang, bukan itu maksudku. Tapi aku merasa senang sekali sama Halimah. Tadi kita shering dan aku merasa kita klik aja."


jawabku semangat.



"Secepat itu? Baru berapa jam kamu kenal dia, langsung berubah pikiran pulang?" mas Imam mengerutkan dahinya. Pasti dia heran karena aku sebelumnya memang tidak mudah akrab dengan seseorang.



Aku menjawab dengan anggukan nyengir, berharap mas Imam luluh


.


"Apa tadi dia memberimu makan sesuatu yang aneh?"



"Ngga sayang. Halimah itu spesial tauk. Aku ajak bicara apa aja dia tu nyambung. Dia gadis yang cerdas." jelasku dengan semangat.



Mas Imam menghela nafas dan diam berpikir sebentar.


"Hawaku sayang, maaf ya aku gak mungkin menunda kepulanganku. Banyak pekerjaan yang menungguku. Atau kalau kamu memang ingin disini beberapa hari lagi gak papa. Biar pak Hasan \(Supir pribadiku\) yang menyusul kamu kemari, siapa tau kamu butuh kemana\-mana sekalian jemput kamu."



Sebenarnya itu solusi yang bijak dari mas Imam. Tapi masa Iya aku membiarkan suamiku pulang sendiri. Aaach...!!



"Gak perlu sayang. Aku merasa itu tidak adil buatmu."



"Aku gak masalah, asal kamu senang." jawab mas Imam meyakinkanku.



"Kapan\-kapan aja kita kesini lagi ya." Pintaku sambil menyender dibahunya bergelayut manya.



Mas Imam tersenyum sambil melirikku.



Sebenarnya aku agak kecewa. Entah kenapa aku menyukai gadis yang baru ku kenal itu. Dia begitu manis dan pintar.



 


~~~~~~~~~~~••••~~~~~~~~~~~~


 



Pagi ini aku sholat subuh dirumah. Sedangkan mas Imam berjama'ah kemasjid. Aku sengaja gak ikut karena mau membereskan pakaikan kami.



Gleeekk..!!



Suara pintu kamar ditutup. Tampak mas Imam yang masih rapi dengan baju putihnya.


"Assalamu'alaikum yaa zaujati."


"Wa'alaikumsalam"



"Sudah siap sayangku...?"



"Iya sudah. Tinggal sarapan dan kita bisa berangkat." jawabku sambil mendekat dan mendekap suamiku.



"Baiklah."



 


~~~~~~~~•••~~~~~~~~~~~~~


 



Hari\-hari berlalu 3 minggu setelah pulangnya dari bulan madu.



Siang ini aku sudah janji mau kerumah Ibu.


Aku sudah masak baby cumi dan pete untuk ibu mertuaku tersayang. Ibu bilang masakanku yang satu ini sangat lezat, belum ada yang mengalahkan rasanya. Hehee... ibu bisa saja bikin menantunya bahagia.


Pak Hasan memarkirkan mobil disebelah 2 mobil Ibu yang berjejer digarasi.


Aku keluar dari mobil, mendapati ibu sedang dihalaman depan memberi makan ikan dikolam air mancur dan menghampirinya.




"Wa'alaikumsalam anakku." jawabnya sambil memeluk dan mencium keningku.



"Ibu sehat?"



"Tentu saja sayang."



"Aku memasak baby cumi dan pete untuk Ibu."


kataku sambil menunjukkan bok yang aku bawa.



"Alhamdulillah, terima kasih nak kamu perhatian sekali pada Ibu. Seperti bisa membaca hati Ibu. Tadi pagi ibu memang ingin sekali makan masakanmu. Ternyata kamu datang dan membawa masakan favorit Ibu." jawab Ibu dengan Semangat.



Kami beriringan berjalan masuk kedalam rumah. Kami duduk dimeja makan, karena disitulah tempat favorit kami ketika dirumah Ibu.



"Bagaimana bulan madu kalian?" tanya ibu sambil tersenyum mengodaku.



"Alhamdulillah bu."



Alhamdulillah sukses?" tanya ibu sambil tertawa lepas.



"Sudah ada tanda\-tanda keberhasilannya belum?" sambung Ibu.



*Jlebb*..!!! Aku tau Ibu tidak bermaksud menyinggung perasaanku. Tapi aku terlalu baper Ibu untuk satu hal ini. Aku terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan ibu.



"Entah bu, aku belum merasakan apa\-apa. " jawabku lemah.



"Kita periksakan saja ke dokter Alen." kata ibu bersemangat.



*Andai aku bisa mengatakan pada ibu. "Ibu tolong jangan siksa hatimu dengan binar matamu yang penuh semangat dan harapan itu. Aku takut mengecewakanmu. Entah yang keberapa puluh atau bahkan ratus kali*."



"Ibu, apa ini tidak terlalu cepat untuk periksa?" aku mencoba menghindari ajakan Ibu.



"Tentu saja tidak. Sudah 3 minggu sayang, apalagi kalian waktu honeymoon kan waktu masa suburmu." Ibu masih bersemangat.



Tubuhku terasa lemas melihat ibu yang masih sangat yakin dan semangat setelah sekian tahun selalu kecewa. Seperti tidak ada putus asanya, membuat aku semakin malu karena kekuaranganku, karena kegagalanku.



Ibu tanggap sekali dengan perubahan wajahku,


"Hawa sayang, maafkan ibu. Ibu tidak bermaksud menyinggung hatimu, maaf kalau ibu terus menerut menekanmu. Tapi Ibu sudah merasa rindu sekali ingin memiliki cucu. Lihatlah rumah ini sepi, apalagi kamu dan suamimu memilih tinggal dirumah sendiri. Bisakah kau bayangkan gimana kesepiannya ibu." jelas ibu lembut dengan mata yang menahan supaya tidak tumpah air mata yang ingin sekali menyeruak mengaliri pipinya.



"Tidak apa\-apa bu, Hawa yang mestinya minta maaf karena Hawa belum bisa membahagiakan mas Imam dan Ibu. Padahal kebahagiaan yang kalian berikan sudah lebih dari cukup."



Ibu memelukku erat...



"*Yaa Allah apa yang harus aku lakukan. Tidak memeriksakan diriku aku membuat Ibu sedih, jika aku pergi dan ternyata aku masih belum hamil aku membuat ibu kecewa*."



"Ibu, jangan menangis. Melihat ibu menangis sangat menyakiti aku bu. Tersenyumlah, karena hanya melihat ibu dan suamiku tersenyum aku bisa kuat dan tenang."


Ibu menyeka air matanya, sambil mengangguk dan memaksakan bibirnya untum tersenyum.



"Baiklah bu, ayo nanti kita pergi ke dokter Alen" Aku tersenyum berharap ibu lebih tenang, dan sekarang aku yang berada dalam kecemasan.



"Hawa, kamu tidak perlu melakukan itu jika tidak ingin. Ibu sangat tau bagaimana perjuanganmu selama ini. Pasti sangat menyakitkan saat kamu terapi dulu, saat kamu *transvaginal*, belum lagi saat kamu harus meminum berbagai macam obat, vitamin, dan herbal."



Aku menunduk malu.... sangat malu...



 


~~~~~~~~~~~•••~~~~~~~~~~


 



**Ditempat praktek dr. Alena Lee SpOG**.



"Pasien atas nama Nyonya Hawa." panggil asisten dr. Alen.


"Iya, saya." aku dan Ibu berdiri dan aku menggandeng tangan ibu masuk kedalam.


"Selamat malam dok." sapaku pada dokter Alen.


"Selamat malam bu, silahkan." dr. Alen mempersilahkan kami duduk dengan ramah.


"Apa keluhannya bu Hawa?"


"Tidak ada dokter, cuma mau periksa bagaimana kondisi rahim saya. Karena saya menghentikan terapi saya sejak beberapa bulan lalu." jawabku. Jujur saja aku binggung untuk mencari alasan kenapa aku kemari. Tidak mungkin aku mengatakan desakan ibu karena 3 minggu yang lalu aku habis pergi dengan suamimu untuk honeymoon. Kutemukan alasan inipun saat aku menunggu antrian tadi.



"Baiklah, silahkan berbaring akan saya periksa."



Aku berdiri dan berbaring diranjang pemeriksaan dibantu asistennya.


dr. Alen memeriksa kandunganku dengan USG dan menghentikan setelah mengambil 2 gambar. Aku kembali duduk disebelah ibu.


"Bagaimana dok hasilnya?" ibu gak sabar.



"Ibu Hawa kenapa menghentikan terapinya?"



"Saya ingin berhenti terapi dulu dok."



"Sebaiknya segera terapi lagi, sayang kalau berhenti. sekarang saya beri resep bisa ditebus nanti." jawab dokter tanpa menjelaskan apapun padaku dan Ibu. Dokter Alen pasti sudah sangat paham dengan masalah kami, karena sejak awal dialah yang menangganiku.



Ku lihat gurat kecewa diwajah ibu.



"*Yaa Allah, inilah yang kutakutkan. Aku takut melihat kekecewaan diwajah ibu* *lagi*."



Setelah keluar dari ruang praktek dr. Alen aku langsung mengajak ibu pulang. Aku sengaja enggan menebus resep dari dr. Alen karena aku sudah merasa bosan, merasa hasilnya sama saja.