Dzuriat

Dzuriat
Kedatangan Ibu.


Namaku Hawa. Sekarang usiaku 32 tahun. Dan suamiku Bernama Imam usianya sekarang 38 tahun. Kami selisih usia 6 tahun. Aku beruntung menjadi istrinya, karena selain penyayang suamiku sangat pengertian dan bertanggung jawab. Rumah tangga kami sangatlah bahagia, hanya saja satu yang kurang melengkapi hidup kami. Yaitu ANAK.


Tok tok tok...


"Bu, ada Nyonya dibawah." Suara Mbak Sum membuyarkan lamunanku.


"Yaa mbak sebentar lagi saya keluar".


Jawabku sambil berdiri dari kursi rias, sambil memakai kerudung dan melangkah keluar.


Dibawah ada sosok ibu mertuaku yang sudah duduk disofa sambil memainkan HPnya.


"Maaf, ibu sudah lama?" tanyaku sambil bersalaman mencium tangan dan kedua pipi wanita yang sangat aku hormati, karena orang tua satu-satunya yang kumiliki karena ayah dan ibuku sudah meninggal. Begitupun ayah mertuaku.


Sebenarnya hubunganku dengan ibu mertua cukup baik, bahkan harmonis.


"Baru saja sayang." jawabnya sambil mengusap kepalaku.


"Ibu, maaf ya kemarin tidak jadi kerumah ibu. Hujan dan angin aku takut pergi sendiri bu."


"Gak papa sayang, ibu tau itu. Makanya ibu mampir kesini tadi habis senam sama teman2."


"Baiklah, terima kasih ibu terbaikku sedunia."


kataku sambil tersenyum sumringah.


"Hawa,.." Panggil ibu perlahan.


"Iya bu, ada apa?" Jawabku dengan mata berbinar & bibir tetap tersenyum bahagia.


"Apakah bulan ini kamu sudah haid?" tanya ibu mertuanya dengan nada berhati2. Ia paham sekali meskipun sederhana tapi pertanyaan ini bisa membuatku, menantu kesayangannya bersedih.


Seketika rona wajahku berubah, darah seakan enggan mengalir ditubuhku, aku hanya bisa menunduk malu, karena lagi-lagi aku mengecewakannya.


Berat bibirku untuk menjawab kenyataan. Tapi aku sadar harus menjawab pertanyaan ibu mertuanya seberat apapun itu.


"Maaf bu, sekarang Hawa sedang haid"


jawabku lirih.


Menghela nafas berat. Tapi wanita itu sadar seberat apapun dia ingin menimang cucu, tetap akulah yang lebih berat menerima kenyataan. Tidak mungkin dia menambah kesedihanku, yaitu menantu satu-satunya yang dulu dia sendiri juga yang mendukung pilihan putranya.


"Sudahlah nak mungkin bulan depan, atau entah kapanpun itu ibu akan berusaha sabar menunggu benih Imam ada didalam rahimmu. Jangan sedih yaa, terus berikhtiar dan berdo'a." sambil mengusap bahuku memberi dukungan.


Kupaksakan kepalaku yang berat untuk menoleh pada ibu sambil tersenyum, lalu mengangguk.


Obrolan kami terus berlanjut sampai makan siang dan sore hari ibu pulang.


Aku melambaikan tangan saat mobil itu berjalan meninggalkan rumah, setelah sebelumnya bersalaman, mencium tangan dan kedua pipi ibu.


Menghela nafas dan kembali kecewa.


Maafkan aku ibu, aku tau betapa ibu ingin menimang cucu. Meskipun ibu selalu berkata sabar dan selalu menghiburku, juga menasehatiku untuk terus berjuang. Akh... Yaa Allah kapankah kiranya aku akan hamil. Banyak sudah cara yang kulakukan tak juga aku mengandung.


 


••••~


 


Mobil hitam memasuki halaman rumah. Aku sudah menunggu suami tercintaku sambil duduk dikursi halaman dekat pintu masuk rumah.


Setelah keluar dari mobil dan menaiki beberapa anak tangga Mas Imam menghampiriku.


Aku menyambut suamiku dengan bersalaman mencium tangan dan dibalas mas Imam dengan mencium lembut keningku.


Saat pulang Imam selalu mengabari aku terlebih dulu, dan sudah menjadi kebiasaan aku akan menunggunya didepan pintu.


"Sayang, tadi ibu kesini." Aku memulai pembicaraan memberi tahu suamiku kedatangan ibu tadi pagi.


"Oh ya... apa ibu mau nginap?" tanya mas Imam sambil merangkul bahuku dan beriringan jalan masuk kedalam rumah.


"Ngga sayang, ibu pulang sore."


"Apa yang kalian bicarakan?"


"Kami ngobrol2, makan2, nonton TV, yaach seperti biasanyalah."


"hmmm" gumam mas Imam.


"Sayang, sudah ku siapkan air hangat untuk kamu mandi." kataku sambil memberikan senyum termanisku.


"Makasih istriku, kamu emang terbaik dalam mengurusku " Jawab mas Imam sambil mengecup penuh kasih keningku.


Wanita mana yang tak bahagia memiliki suami lembut dan penuh kasih sayang sepertimu, suamiku...