
Setelah serangkaian acara pernikahan sederhana mas Imam dan Helwa, kami bertiga kembali kerumah.
Untuk sementara Helwa akan tinggal bersama kami karena memang kami belum sempat menyiapkan tempat tinggal untuknya.
"Helwa, ini kamarmu. Sebelumnya ini adalah kamar yang biasa ditempati ibu kalau menginap disini. Sekarng ini untuk sementara menjadi kamarmu. Maaf ya kami belum menyiapkan rumah untuk kamu." aku menunjukkan kamar Helwa.
"Nggak papa kok mbak. Kenapa Helwa gak dikamar yang dulu Helwa pakai saat nginap disini? Bagaimana kalau Ibu kesini?"
"Ibu jarang kesini. Kalaupun ibu kesini bisa tidur dikamar lain. Sekarang kamu bersihkan dirimu."
"Iya mbak."
Aku keluar meninggalkan Helwa.
"Mbak terima kasih." ucapan Helwa menghentikan langkahku.
Aku membalikkan badanku.
"Terima kasih untuk apa?" tanyaku berpura-pura tidak tau dengan maksudnya.
"Terima kasih untuk semua kebaikan hati mbak Hawa padaku." ucapnya dengan menundukkan pandangannya.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Harusnya akulah yang harus berterima kasih padamu. Mulai sekarang ayo kita berdua bersama-sama untuk mendampingi mas Imam."
Helwa menganggukkan kepalanya.
"Aku ke kamar dulu." pamitku kemudian pergi meninggalkan Helwa.
Aku masuk kedalam kamarku. Kuhempaskan tubuhku keatas ranjang.
"Huuufffhhh..." ku hela nafas panjang untuk melegakan dadaku yang sendari tadi terasa terhimpit bongkahan batu besar.
"Yaa Allah... Jika memang ini sudah suratan takdir darimu maka tuntun hati kami untuk ikhlas menerima dan menjalaninya. Semoga KAU ridho dengan keluarga kami. Aamiin." do'aku dalam hati. Tidak terasa air mataku mengalir. Sesekali ku seka air mataku yang semestinya tidak mengalir ini. Tapi apalah dayaku yang hanya seorang manusia dengan hati yang sangat kecil ini. Semoga kepingan kecil ini bisa menampung luasnya kesabaran, ketabahan, serta keikhlasan.
Aku bangkit dan bersiap mandi.
Didepan cermin wastafel aku berdiri, melihat bayangan diriku.
"*Hawa, jangan pernah menyesali keputusanmu ini. Semua sudah terjadi sesuai keinginanmu. Mestinya kamu bahagia karena Allah memenuhi keinginanmu. Bukankah sebelum ini semua orang menentang keinginanmu ini tapi kamu jugalah yang bersikeras. Apakah sekarang ada kamu menyesal?"
"TIDAK!!! Aku tidak menyesal. Aku hanya butuh waktu untuk bisa terbiasa dengan semuanya!!?"
"Apa kamu sanggup jika malam ini suamimu seranjang dengan wanita yang cantik, lebih muda, lebih menarik darimu. Bagaimana jika nanti suamimu tidak bisa adil dan lebih memilih dia daripada kamu."
"TIDAK MUNGKIN!!! TIDAK MUNGKIN SUAMIKU BERSIKAP SEPERTI ITU!!!
"Bagaimana tidak mungkin sedangkan suamimu hanyalah manusia biasa. Manusia akan terbuai dengan tahta, harta, dan wanita. Sedangkan saat ini suamimu memiliki ketiganya."
"TIDAK!!! Suamiku masih memiliki Iman dan rasa takut kepada Allah*." Batinku bergejolak. Seakan-akan ada dua kubu yang saling berseberangan dan berdebat didalam diriku sendiri.
Kepalaku terasa sangat sakit memikirkan semua itu. Kupijat lembut pelipisku untuk mengurangi rasa sakitnya. Aku baru ingat akhir-akhir ini aku tidak makan dengan teratur, juga kurang istirahat. Sekarang semua tampak gelap, aku tidak lagi mampu menopang tubuhku dan aku masih bisa merasakan saat aku benar-benar kehilangan keseimbangan tubuhku dan kepalaku membentur meja wastafel.
_ _ _ °°°_ _ _
Aku masuk kedalam kamar. Tampak sepi, hanya ada tas yang tadi dipakai Hawa diatas tempat tidur.
Entah kenapa yang ada dihatiku saat ini hanyalah aku begitu merindukan istriku, Hawa.
"Mungkin dia sedang memasak." pikirku, karena biasanya Hawa selalu memasak makan malam.
Aku duduk ditepi ranjang. Terlintas kembali moment hari ini. Aku menikahi Helwa, seorang gadis yang harus aku akui bahwa dia adalah istri idaman setiap laki-laki. Tapi aku merasa semua ini begitu biasa saja. Dimana dijaman ini ada banyak laki-laki dengan tanpa takut dosa berselingkuh karena istrinya tidak menerima polygami. Mestinya aku sebagai seorang laki-laki akan merasa bahagia karena telah menikah lagi dengan wanita seperti Helwa. Bahkan diijinkan dan dipilihkan sendiri oleh istriku untuk berpolygami. Tapi aku justru sebaliknya. Justru rasa cintaku kepada istriku Hawa seakan kian membasar. Bahkan aku begitu ingin bersama Hawa daripada dengan Helwa, istri baruku. Aku seperti masih tidak yakin bahwa aku telah memperistri dua orang wanita yang shalihah.
"*Bagaimana aku harus menjalani semua ini sedangkan aku merasa aku belum siap, aku belum mampu.
Bagaimana aku harus menjaga kedua istriku agar tetap rukun dan tidak cembiru satu dengan yang lain.
Bagaimana aku harus bersikap dihadapan mereka yang bahkan saat ini masi satu atap*." pikiran-pikiran ini terus menerus berputar-putar dikepalaku.
"Yaa Allah bimbinglah hambamu yang lemah ini. Mudahkanlah segala urusanku Yaa Allah." do'aku dalam hati.
Kuhembuskan nafas kasar.
"Sebaiknya aku mandi. Mungkin dengan mandi pikiranku akan lebih fresh." batinku.
Kulangkahkan kakiku kekamar mandi.
Begitu aku membuka pintu, aku melihat Hawa terbaring tidak sadarkan diri dengan dahinya mengeluarkan darah.
"Yaa Allah sayang." teriakku karena terkejut,kemudian aku membopong Hawa keluar dari kamar mandi dan membaringkannya ditempat tidur.
"Mbak Sum... Mbak Sum..." teriakku memanggil mbak Sum.
"Sayang bangun.." aku menepuk-nepuk pipi Hawa yang masih belum sadar.
Tok tok tok...
"Masuk!" mbak Sum datang dengan nafas tersegal-segal.
"Ibu kenapa pak?" tanyanya panik.
"Aku gak tau mbak. Aku mau mandi dan begitu masuk dia udah jatuh dikamar mandi. Panggilkan Dokter segera!"
"Baik pak."
Mbak Sum keluar dan tidak lama kemudian berganti Helwa datang.
"Astaghfirullah..Mbak Hawa kenapa mas?" tanya Helwa panik.
"Aku gak tau. Aku masuk kamar mandi dia sudah jatuh dan tidak sadarkan diri."
"Mbak, mbak Helwa bangun..." suara lembut Helwa berusaha menyadarkan Hawa.
"Sebentar mas, tunggu mbak Hawa dan tolong sambil pijat bagian telapak kakinya." ucap Helwa langsung keluar, aku menuruti permintaannya dan segera ku pijat telapak kaki Hawa yang terasa Dingin.