
Sebulan sudah berlalu dari pembicaran kami bertiga. Dalam satu bulan ini mas Imam sikapnya berubah dingin kepadaku. Aku memaklumi kekecewaannya. Sempat ingin membatalkan rencanaku karena sifat mas Imam yang menjadi seperti Es, aku merasa seperti kehilangan sosok suamiku yang dulu. Tidak ada mas Imam yang hangat dan selalu menyayangiku. Yang ada mas Imam yang berbicara seperlunya, dan tidak lagi banyak menuntutku, bahkan jarang makan malam dirumah karena alasannya sibuk, meeting, dan semacamnya. Untunglah ada Ibu, yaa sekali lagi harus kubanggakan meskipun Ibu mertua tapi aku bahkan lupa kalau dia Ibu mertuaku. Karena kebaikannya sudah sama dengan Ibu kandungku. Bahkan tidak jarang demi membelaku Ibu menegur sikap mas Imam.
Aku sudah menghubungi bu Umi, dan Helwa jika Kami sekeluarga ditambah Paman (Adik kandung Ibu mas Imam) beserta keluarganya juga akan datang. Aku sudah mengatakan pada Bu Umi menganai tujuan kami nanti datang kerumahnya.
Kami datang hanya dengan 3 mobil.
1 mobil berisi aku, mas Imam, dan Ibu, kemudian 1 mobil keluarga paman dan 1 mobil membawa bingkisan juga kado untuk Helwa.
Kami sampai dirumah bu Umi yang kebetulah berada tepat didepan panti. Kami disambut hangat bu Umi dan saudaranya 5 orang.
Bu Umi memanggil Hawa keluar menemui kami. Semua mata terpana melihat Helwa yang keluar dengan memakai baju warna bluesky. Makeup sedikit lebih tebal dari biasanya tapi tetap terlihat narural, makin cantik dengan slayer warna senada dihijabnya.
Helwa duduk dengan malu-malu disamping bu Umi, wajahnya semakin cantik dan tetap anggun dengan ekspresi malu-malunya itu.
Aku berdebar, kata-kata yang sudah kupersiapkan jauh-jauh hari seperti menguap begitu saja. Seperti janjiku pada syarat mas Imam bahwa aku sendirilah yang harus melamar Helwa, dan aku harus menepati janjiku. Ibu, paman, dan mas Imam bergantian melirikku. Pun begitu keluarga Helwa menanti.
Tanganku rasanya sudah beku, aku kehilangan keberanianku.
Aku harus bisa. Berikanlah hambamu kekuatan ya Allah. Lancarkanlah lidahku berbicara. Bismillah... kutarik nafasku dalam-dalam dan kuhembuskan perlahan.
"Assalamu'alaikum wr. wb." Salamku lancar.
"Wa alaikumsalam wr. wb." semua menjawab salamku
Terima kasih saya sampaikan kapada bu Umi beserta keluarga yang sudah menyambut baik kedatangan kami. Sebelumnya saya meminta maaf jika nanti terjadi kesalahan kata atau sikap dari saya. Langsung saja tujuan kami sekeluarga kesini yang pertama adalah untuk menjalin ukuwah, menjalin tali silaturahim kedua keluarga. Semoga Allah ridha dengan niat baik kita. Aamiin.
Yang kedua adalah-"
Terhenti, karena lidahku mendadak kelu untuk melanjutkan kalimatku.
Yang hadir tampak saling berpandangan satu dengan yang lain. Aku menundukkan wajahku. Tiba2 tangan hangan meremas jemariku seakan memberikan separuh kekuatannya kepadaku. Aku menoleh pemilik tangan itu, Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya seakan sedang berkata, KAMU BISA DAN KAMU KUAT HAWA JIKA INI YANG SELAMA INI KAMU PERJUANGKAN. Kutarik lagi nafasku dalam-dalam, kuhembuskan perlahan.
"Tujuan kami kesini yang kedua adalah untuk meminang dinda Helwa untuk mas Imam. Suami saya. Sangat besar harapan saya dan keluarga agar dinda Helwa mau menerima pinangan kami." aku berhenti dalam akhir kalimat itu. Kulihat Helwa tertegun melihatku. Kulirik mas Imam diam saja, bahkan lesu, seperti tidak ada aliran darah diwajahnya. Semua yang hadir tampak menahan haru. Bahkan Ibu, bibi, dan bu Umi meneteskan air matanya. Aku tidak mau pinangan ini ditolak karena mereka merasa kasihan denganku, yang bahkan melamar sendiri seorang gadis untuk suamiku.
"Dinda Helwa, jadilah adikku yang sesungguhnya. Bukan hanya menjadi adik karena anggapan, jadilah adikku karena kita saling terikat dalam hubungan. Dinda maukan?" Sambil kukembangkan senyum dibibirku, kutahan kuat-kuat air mataku agar tidak terjatuh, kupendam dalam-dalam rasa sakit yang sebenarnya menyayat hatiku saat itu.
"Bagaimana nak? Apa kamu terima pinangannya?" tanya bu Umi pada Helwa sambil memegang kedua bahu Helwa dari samping.
"Alhamdulillah" ucap kami bersamaan rasa lega dan syukur karena moment-moment menegangkan sudah selesai.
"Alhamdulillah, terima kasih sayang." aku sambil berdiri menghampiri Helwa.
Kupasangkan cincin dijari manisnya juga gelang ditangannya sebagai hadiah atas diterimanya pinangan kami. Lalu ku cium kedua pipinya, dan kupeluk erat calon maduku yang cantik.
"Mari pak, bu dinikmati hidangannya." Bu Umi mempersilahkan kami menikmati jamuannya dengan ramah.
***
Sepulang dari rumah bu Umi aku langsung mengikuti mas Imam kekamar. Baru saja masuk beberapa langkah mas Imam berhenti.
Kututup pintu kamar perlahan, dan aku mendekati mas Imam.
"Mas" tiba-tiba mas Imam membalikkan badannya. Lalu memelukku sangat erat, saking eratnya aku sampai agak kesulitan bernafas.
"Apa hatimu tidak sakit" pertanyaan mas Imam diiringi suara tangisannya.
"Sedikit sakit mas. Tapi aku bahagia." sambil membalas pelukannya. Kami berpelukan dan saling menumpahkan kerinduan dan air mata. Yaa kerinduan. Satu bulan kami tidak berpelukan, tidak ada kehangatan dalam hubungan kami.
"Kenapa kamu sekuat ini?" sambil melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipiku. Menatapku penuh cita, tatapan yang aku rindukan akhir-akhir ini akhirnya aku mendapatkannya kembali.
"Aku kuat karena akan ada kebahagiaan yang ada didepan kita. Aku akan terus berjuang untukmu mas."
"Allahhu Akbar! Yaa Allah tlah kau kirimkan aku istri shalihah, kenapa aku harus melukainya?"
"Sssttt.." ku letakkan jari telunjukku didepan bibirnya.
"Suamiku tidak sedang menyakitiku, tapi Allah akan memberikanmu istri Shalihah lagi yang akan menyempurnakan hidupmu. Jadilah suami terbaik buat kami mas." pintaku yang dibalas dengan pelukan kembali, bahkan lebih erat.
"Oh, Hawa... kenapa ada wanita sepertimu. Aku bahkan tidak akan pernah rela menyakiti walau hanya di ujung rambutmu."
Malam ini malam dimana kami berdamai dan menerima kenyataan bahwa akan ada pernikahan didalam pernikahan kami.