
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." suara mbak Sum masih dibalik pintu. Lalu tampak Mbak Sum membukakan pintu.
Ternyata bukan cuma aku, mbak sum pun sampai mulutnya mengangga saat melihat wajah Helwa. Aku tersenyum melihat mbak Sum yang menurutku sangat lucu. Sedang Helwa salah tinggah dilihat mbak Sum dengan ekspresi berlebihan seperti itu.
"Mbak Sum, udah apa lihatinnya. Ngiler tuh." godaku.
"E.ee.eekh.. maaf bu." gagap sambil ngelap mulutnya.
"Becanda mbak."
Mbak Sum terlihat malu dan balik jadi salah tingkah.
"Kenalin mbak ini adikku." aku memperkenalkan Helwa pada mbak Sum. Mereka berjabat tangan. Dan mbak Sum kembali terpesona menatap Helwa.
"Mbak Sum, udah lihatinnya. Helwa emang cantik."
"Iyaa cantik banget." masih belum berpaling matanya dari wajah Helwa.
"Mbak, bisa kita lewat dan masuk sekarang?" sambil menepuk bahu mbak Sum lagi.
"Ee..eeekh iya bu maaf." sambil mundur beberapa langkah.
Ku gandeng Helwa masuk kedalam rumah. Ku lihat Helwa melihat rumahku dan mengamati ruang bawah rumah.
"Rumah mbak Hawa gede banget."
"Alhamdulillah gede. Tapi sepi. Udah sore nih. Ayo kutunjukkan kamarmu. Biar bisa langsung mandi. " sambil melihat jam didinding yang sudah diangka tepat jam 5. Helwa mengangguk dan jalan mengikuti dibelakangku.
"Ini kamarmu." sambil membuka kamar.
"Masya Allah gede banget mbak." Helwa menikmati suasana kamar yang akan dia tempati.
"Dan kamu bisa mandi disini. Tadi aku dah pesan sama mbak Sum supaya siapin semuanya. Tapi kalo masih ada yang kurang panggil aja." sambil menunjukkan intercom ditembok dekat ranjang.
"Iya mbak."
"Ya udah aku kekamar dulu ya soalnya mas Imam sudah pulang." aku pergi meninggalkan dia dikamar.
Aku berjalan kekamar, pasti mas Imam sudah menungguku.
"Bu." panggil mbak Sum dari belakangku dengan jalan terburu-buru.
"Iyaa, ada apa mbak?"
"Itu tadi orang mana bu?"
"Kenapa kok tumben tanya-tanya soal tamuku." tanyaku penasaran.
"Bukan maksud saya kepo bu, cuma penasaran itu artis apa model? Tapi kok saya belum pernah lihat diberita selebritis?" aku nggak bisa menahan tawaku mendengar pertanyaan mbak Sum yang lugu penuh dengan rasa penasaran.
"Looh mbak Sum belum tau ya kalau dia itu artis terkenal? Bahkan bukan cuma artis Indonesia tapi lebih dari artis-artis Indonesia ketenarannya. Penggemarnya juga gak sembarang orang loh mbak."
"Masa sih bu? Hebat yaa?" sambil manggut-manggut.
"Emang artis sinetron apa film?" sambungnya.
"Artis dunia dan akhirat mbak. Penggemarnya bukan sembarang orang. Cuma muslimah dan bidadari surga aja." jawabku tersenyum sambil berlalu meninggalkan mbak Sum yang manggut-manggut dan seakan terus berpikir keras.
"Maksudnya gimana bu?" masih bertanya.
"Nanti atau besok aja mbak kalau mau kepo. Aku mau kekamar dulu." jawabku berlalu.
Ku buka pintu kamarku, mas Imam duduk didekat jendela.
"Sayang, udah lama pulangnya?" sambil aku meletakkan tas ku.
"Udah tadi jam 3." sambil berdiri menghampiriku.
"Mas, ada tamu dibawah?" sambil mencium tangan mas Imam saat bersalaman.
"Siapa?"
"Maksudmu adek yang mana?" serius bertanya.
"Helwa."
"Helwa siapa?"
"Anak bu Umi yang kemarin aku ceritain."
"Oh.. Trus?"
"Ya aku mau bilang sama kamu, kalau Helwa malam ini mau nginep disini. Boleh ya.."
bujukku manja.
"Asal kamu bahagia." sambil mencium pucuk kepalaku.
"Mas udah mandi?"
"Udah, kamu sekarang yang mandi."
Aku mengangguk dan kekamar mandi.
Dikamar mandi sambil berendam, pikiranku melayang.
Kira-kira bagaimana ekspresi mas Imam saat ketemu Helwa tadi? Jangankan laki-laki, wanita saja dibuat terpukau oleh Helwa. Bahkan mbak Sum mengira dia artis.
Bagaimana jika mas Imam tertarik pada Helwa?
Kalau memang mas Imam nanti tertarik pada Helwa akan bagus kalau Helwa yang menjadi istri muda mas Imam. Helwa selain cantik, baik, juga ilmu agamanya Insya Allah cukup untuk bekalnya mendidik keturunan mas Imam. Lagipula Nissa kemarin saat aku minta jadi istri mas Imam malah marah.
Tok.. tok.. tok... Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Sayang mandinya cepetan udah mau adzhan maghrib looh." suara mas Imam memanggilku.
"Iya sayang, aku bilas dulu." sambil bergegas membilas tubuhku yang penuh dengan busa.
•••
Setelah sholat Isya aku dan mas Imam turun untuk makan malam. Sampai dimeja makan seperti biasa sebelum makan nasi, makan buah dulu. Kusiapkan sepiring kecil berisi berbagai macam irisan buah dihadapan mas Iman.
"Mas aku panggil Helwa dulu ya."
Mas Imam mengangguk.
Tok.. tok.. ku ketuk pintu kamar Helwa.
"Helwa, ayo makan malam."
"Iya mbak." Tidak lama kemudian Helwa keluar, pakai baju bluesky yang tadi kubelikan untuknya. Masya Allah, makin cantik.
"Cantik banget pake baju ini." pujiku membuat Helwa tersipu.
"Mbak Hawa bisa aja. Makasih ya udah beliin baju bagus banget buat Helwa." aku mengangguk tersenyum.
" Ayo makan, mas Imam udah nungguin."
"Tapi mbak, aku malu sama suami mbak Hawa."
"Udah ayook, ngapain malu, kamu adikku maka kamu juga adiknya." aku menuntunnya kemeja makan.
Mas Imam masih asyik ngunyah buah dan matanya masih fokus pada layar ponselnya.
"Mas, ini Helwa." aku memperkenalkan Helwa pada mas Imam sambil memegang pundak Helwa.
Mas Imam melihat kami berdua. Tiba-tiba menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah dan diam terpaku.
Matanya tertuju pada Helwa. Entah kenapa hatiku berkecamuk antara senang atau sedih.
Disatu sisi aku bahagia bisa membalas mas Imam yang kemarin malam menertawakanku karena foto kucing dengan membuktikan perkataanku memang benar adanya.
Tapi disisi lain hatiku sakit jika nanti pada akhirnya mas Imam benar-benar tertarik pada Helwa.