Dzuriat

Dzuriat
Menuju Hari H


"Oh begitu." aku bernafas lega.


"Memangnya apa lagi?"


"Oh nggak kok bu."


"Baiklah-baiklah sekarang waktunya kembali memulai rencananya. Kalian mau konsep pernikahannya nanti seperti apa?" tanya Nissa sambil menatap aku dan Ibu bergantian.


"Helwa kemarin berpesan kalo mau menikah yang sederhana saja dan acaranya dipanti."


Nissa manggut-manggut sambil matanya fokus pada kertas dihadapannya yang mengikuti gerak lincah tangannya mendesign baju rancangannya nanti.


"Bagaimana dekorasi acaranya nanti?" tanya ibu.


"Sederhana saja bu. Toh tidak perlu ada pelaminan. Cukup dekorasi minimalis sajalah."


"Sudah kamu siapkan?"


"Alhamdulillah sudah bu."


"Kamu sungguh-sungguh mempersiapkan semuanya dengan baik Hawa." ucap ibu terharu membendung air matanya sambil mengusap pundakku.


Sedangkan Nissa menghentikan jarinya sebentar dan menatap kami berdua.


"Hawa, kenapa Imam membiarkanmu melakukan semuanya ini sendiri? Tega sekali dia." Nissa menggerutu kesal.


"Aku memang ingin melakukannya Nissa." kilahku.


Nissa tidak menanggapi jawabanku, kembali fokus kepada kertas dimejanya.


"Nak, bagaimana dengan Maharnya?"


"Insya Allah sudah siap bu."


"Jika semua sudah kamu siapkan, lantas ibu bisa bantu apa? Masa ibu diam saja? Jangan menanggung semuanya sendiri. Berbagilah pada ibu." sambil menatapku lembut.


"Iya bu, kalau nanti Hawa butuh bantuan ibu pasti bakal Hawa kasih tau kok."


"Bagaiman dengan ini?" Nissa sambil menyodorkan gambar designnya. Aku menerima dan melihat hasilnya.


"Bagaimana menurut ibu, bukankah nanti Helwa akan tampak sangat cantik dengan baju ini?"


Ibu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Setelah mendapat persetujuan ibu, ku foto gambar tersebut dengan ponselku.


"Baiklah, tolong buatkan yang terbaik ya." pesanku pada Nissa sambil menyerahkan kembali rancangannya.


"Nggak perlu khawatirlah. anything for you."


"Thanks."


•••


"Sayang, lihat bagus nggak?" tanyaku pada mas Imam sambil memperlihatkan foto design baju dari Nissa ketika kami dikamar.


"Bagus." jawabnya singkat.


"Mas, aku sudah mempersiapkan semuanya. Tinggal menunggu harinya saja."


"Semangat sekali, sampai sudah semuanya."


"Aku ingin yang terbaik untuk kalian."


"Kamu sudah membicarakannya dengan dia?"


"Sudah mas."


"Sayang.." panggil mas Imam dengan suara sangat lembut


"Iya, kenapa?" sambil meletakkan ponselku dinakas sebelahku dan menatapnya.


"Kemari.." pinta mas Iman sambil merentangkan kedua tangannya.


Aku mendekatkan tubuhku untuk menerima pelukannya.


"Sayang.." panggilnya lagi.


"Hmmm.."


"Aku takut."


Ku angkat kepalaku.


"Takut apa?"


"Takut aku nanti gagal membahagiakan kalian. Takut menyakitimu. Takut tidak mampu-"


"Ssssttt.." sambil kuletakkan jari telunjukku dibibirnya.


"Bismillah, Lillah, Berserah, Allah yang akan menuntun kita." jawabku sambil menenggelamkan wajahku dalam dekapannya. Kutahan sekuat hatiku untuk tidak meneteskan air mata.


"Aku kuat..!! Aku kuat karena-Mu yaa Robbi, maka kuatkanlah aku.." Do'aku dalam hati.


"Sayang, apa kamu memaksa Helwa menerimaku menjadi suaminya?"


"Tentu saja tidak."


"Lalu kenapa dia mau menerimaku, sedangkan aku yakin gadis seperti dia akan sangat mudah mendapatkan suami yang lebih baik dariku?"


"Karena Allah menuntun hatinya. Menunjukkan kepadanya bahwa kamulah Imamnya."


"Apakah dia tau kamulah yang memintaku menikahinya?"


Jawabanku membuat mas Iman terkejut, mengendurkan pelukannya.


"Maksudmu?" sambil menatapku lekat.


" Maksudku-"


FLASH BACK.


Setelah mas Imam setuju untuk menikah lagi. Aku lebih sering datang kepanti. Selain untuk menghibur hatiku dengan anak-anak panti, juga untuk lebih dekat dan mengenal Helwa. Sampai suatu ketika, aku menceritakan sedikit kehidupanku, termasuk masa kecilku, hingga saat aku menikah dengan mas Imam yang selama 8 tahun belum juga dikaruniai anak.


"Mbak Hawa yang sabar ya... Ujian Iman mbak. Jika mbak Hawa dan suami sabar dan lulus ujian dari Allah ini, maka kalian akan termasuk orang-orang yang beruntung dan mulia dihadapan Allah." lembut tutur katanya menenangkan aku.


"Aku tau itu, tapi aku amat tersiksa jika dalam diam dan ketabahan mereka aku melihat kerinduan yang amat sangat dimata mas Imam dan ibu." jawabku lemah.


"Bersyukurlah mbak mereka sangat menyayangi dan memahamimu."


Aku menganggukkan kepalaku mendenhar jawabannya.


"Kenapa tidak mencoba bayi tabung mbak?"


Aku menggelengkan kepalaku,


"Aku takut dengan semua kemungkinan dan resikonya."


Helwa memelukku erat.


Setelah beberapa saat ia mengendurkan pelukannya.


"Aku ingin mas Imam menikah lagi." lirihku.


"Apa?" Helwa terkejut, tapi mampu mengontrol dirinya sehingga tetap elegan dengan intonasi katanya.


"Aku ingin suamiku menikah lagi." ulangku.


"Apa mbak Hawa yakin? Tidak mudah mbak menerima orang lain diantara keharmonisan keluarga kecilmu."


"Aku yakin, aku ingin memiliki anak sekalipun dia tidak terlahir dari rahimku, tapi dia anak, darah daging suamiku. Dengan begitu keluarga kami sempurna dan aku tidak egois. Akan ada yang meneruskan nasab mas Imam, juga ibu bisa menggendong cucu, aku membayangkan dimasa tuanya ibu bermain-main dengan cucu yang dirindukannya pasti sangat bahagia."


Mendengar jawabanku Helwa terdiam dan menghela nafas berat. Aku yakin diapun merasakan sesak yang aku rasakan.


"Bagaimana suami mbak dan Ibu mertua? Apa mereka setuju?"


"Suamiku sudah setuju, tapi aku belum mengatakannya kepada Ibu. Aku akan mengatakannya jika sudah ada calonnya yang pasti." Jawabku sambil menundukkan kepalaku, dan mengusap air mataku dengan tissu yang diberikan Helwa padaku.


"Jika memang begitu, alangkah baiknya jika mbak Hawa baik-baik menyeleksi calon istri untuk suami mbak nanti."


Ku angkat kepalaku, ku tatap wajah Ayunya yang juga ikut sembab sebab ikut menangis.


Aku tersenyum padanya, yaa... tersenyum pada gadis shalihah yang ada dihadapanku.


"Aku sudah menemukan calonnya." jawabku.


"Masya Allah. Apa dia baik?"


"Insya Allah. Dia sangat baik dan shalihah."


"Apa dia bersedia menerima mbak Hawa sebagai istri pertamanya?"


"Insya Allah. Jika memang dia bersedia memjadi istri suamiku, pasti dia akan menerima aku dan menghormati serta menyayangiku." jawabku sambil tersenyum diantara air mataku.


"Alhamdulillah." jawabnya lega.


"Kamu tidak ingin tau siapa dia? Kamu mengenalnya sangat baik, tidak ada yang mengenal dirinya lebih dari kamu mengenalnya."


"Oh ya? Siapa mbak?" tanya Helwa penasaran.


Ku genggam kedua tangannya, kutatap kedua matanya.


"KAMU." jawabku mantab.


Helwa membelalakkan mata bulatnya.


"Apa? Saya?" tanyanya seakan tidak percaya.


"Iya. Kamu." jawabku meyakinkannya.


"Apa tidak salah mbak? Kenapa saya?" tanya Helwa gugup dan binggung.


"Karena kamulah wanita yang terbaik yang ku kenal. Aku yakin jika kamu menikah dengan mas Imam maka kamu akan memberikan dia anak-anak yang shalih dan shalihah."


"Tapi mbak,-"


"Apa kamu bersedia?" belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya sudah kupotong dengan lamaranku.


Helwa terdiam sambil menatap lekat mataku, Menghela nafas lembut.


"Mbak, Helwa nggak pantas untuk suamimu, juga Helwa nggak mau menjadi orang ketiga diantara kalian."


"Helwa sayang, kamu sangat pantas untuk suamiku. Kamu juga bukan orang ketiga yang merusak kebahagiaan kami. Kamu adalah orang ketiga yang akan melengkapi kebahagiaan kami." aku berusaha meyakinkan Helwa.


Helwa terdiam, tampak berpikir dengan keras untuk menjawab lamaranku.


"Helwa, kamu tidak harus menjawabnya sekarang sayang. Seminggu lagi mbak akan kesini dengan keluarga untuk mendapatkan jawabanmu. Bagaimana?" tanyaku sambil membelai lembut kepalanya.


Helwa menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kamu juga harus membicarakan ini kepada Ibumu, kamu harus meminta nasihat dan mempertimbangkannya. Tapi yang kamu harus Ingat, aku sangat mengharapkan kamu bersedia menjadi adikku yang sesungguhnya. Tapi jikapun kamu berkeberatan Insya Allah mbak akan menerimanya dengan lapang hati. Dan tidak akan mengurangi atau merubah hubungan baik kita ini."


Helwa menganggukkan kepalanya lagi.


FLASH BACK END .