
PERHATIAN!!!
Untuk para pembaca novel Dzuriat.
Dalam episode *TAMAN* ini aku membuat jadi 3 versi ya. Yaitu Versi Hawa, Versi Helwa, dan Versi Imam.
Akan ada beberapa dialog yang sama tapi dari sudut pandang tokoh yang berbeda.
Jika ada kekurangan atau masukan tolong tulis dikolom komentar ya. Dan tolong dimaklumi kalau tulisanku kurang rapi atau ada kesalahan kata atau penulisan. Selamat membaca kembali dan ikuti terus ya.. Jangan lupa vote dan likenya.
Salam cinta dariku.
***
HAWA POV
"Mas!" aku memanggil mas Imam yang masih terhipnotis dengan Helwa.
"Astaghfirullah." bisik mas Imam sambil menundukkan pandangannya.
"Ayo duduk disebelahku." aku menuntun Hwa yang terlihat canggung.
Aku dan Helwa duduk bersebelahan, kulirik mas Imam masih menundukkan matanya dengan bibir komat kamit tapi jelas sedang beristighfar.
"Mas, ini Helwa. Putri sulungnya bu Ummi." aku kembali memperkenalkan.
Mas imam menganggkat wajahnya dan menganggukkan kepalanya.
"Helwa, ini suamiku, mas Imam." Helwa mengangguk pula pada mas Imam.
Kenapa mereka berdua canggung sekali. Apa karena baru kenal? Batinku.
Akhirnya kami sama-sama diam selama makan.
Setelah selesai makan mas Imam lebih dulu pergi ketaman belakang.
"Mbak Sum"
"Iyaa bu." sambil menuju meja makan.
"Sudah selesai makan. Tolong bereskan ya."
"Siap bu." sambil kembali terpaku melihat Helwa.
"Terima kasih mbak Sum. Masakannya lezat sekali." mendengar pujian Helwa mbak Sum segera sadar dari kekagumannya.
"I.. iya sama-sama non Helwa." tersipu malu.
"Ayo kebelakang."
"Iya mbak."
••.
Ditaman belakang mas Imam duduk dikursi panjang sambil menyenderkan kepalanya dengan santai menatap langit.
"Mas" mas Imam menoleh kearah kami. Kemudian duduk tegak dikursinya.
"Kalian gak kekamar?"
"Lho kok kekamar sih mas? Kan kita baru selesai makan, masa mau langsung tidur. Diabet tar." yang membuat kami bertiga sama-sama tersenyum.
"Maksudku bukan itu sayang, tapi ke kamar buat ngobrol-ngobrol berdua."
"Tadi kita udah ngobrol-ngobrol berdua. Sekarang sambil nunggu ngantuk kita ngobrol bertiga."
"Bisa aja kamu." mas Imam mencubit hidungku karena kursi kami bersebelahan.
"Ih jangan genit. Malu itu ada Helwa." Helwa hanya tersenyum melihat keromantisan sederhana kami. Kemudian melemparkan pandangannya kekolam.
"Mas, Helwa tu hebat loh. Dia mondok sejak usia 8 tahun. Kemudian melanjutkan kuliah diKairo."
"Oh ya.. Hebat dong." mas Imam sambil menatap Helwa yang masih menatap kolam.
"Iya. Sekarang dia mau melamar kerja dibeberapa tempat. Helwa pengen membagikan Ilmu yang dia miliki. Tapi sementara ini mau bantu bu Umi urus panti dulu."
"Kalau perlu bantuan apa-apa kamu bilang aja sama kami. Insya Allah kami bantu sebisa kami." mas Imam berpesan pada Helwa.
"Iya terima kasih."
"Kamu gak perlu sungkan pada kami ya." pesanku.
"Iya mbak."
"Ngomong-ngomong ini kok gak ada cemilan atau minumannya ya. Tadi aku lupa pesan sama mbak Sum. Aku kedapur dulu ya sebentar." sambil berdiri.
"Tapi mbak, Helwa.." Helwa ikut berdiri mau mengikutiku.
"Kamu tunggu disini sebentar aja. Masa kedapur aja mau ikut. Tenang aja mas Imam gak bakalan nerkam atau gigit kamu kok."
Helwa akhirnya diam dan kembali duduk dikursinya sedangkan aku berlalu meninggalkan mereka.
•••
Helwa POV
Mbak Hawa mengetuk pintuku. Memanggilku untuk makan malam bersama. Sesampainya dimeja makan aku melihat seorang laki-laki yang sedang memainkan ponsel ditangannya sambil mulutnya sibuk mengunyah. Lalu mbak Hawa memperkenalkan aku dengannya.
Dia kemudia mengangkat wajahnya. Menatapku lama sekali sampai mulutnya berhenti mengunyah. Astaghfirullah, malu sekali rasanya. Kenapa dia melihatku seperti itu.
"Mas!" kemudian mbak Hawa memanggilnya kembali. Lelaki itu kemudian menundukkan pandangannya dan dan berkali-kali istighfar.
Mbak Hawa mengajakku duduk disebelahnya. Kemudian memperkenalkan aku lagi dengan lebih detile.
"Mas, ini Helwa. Putri sulungnya bu Ummi." begitupun sebaliknya dia memperkenalkan aku kepada suaminya.
"Helwa, ini suamiku, mas Imam."
Aku dan lelaki itu saling mengangguk saja sebagai isyarat kami menerima perkenalan itu.
Setelah itu kami makan, tanpa berbicara, tanpa ada obrolan. Kami sama-sama menikmati makanan dipiring masing-masing.
Setelah makan mbak Hawa mengajakku ketaman belakang rumah. Taman itu lumayan luas, penerangannya lumayan bagus, sangat bersih dan tertata. Ada kolam renang diujung taman itu, dan ada tempat duduk ditengah taman yang hanya berjarak sekitar 2 m dari kolam. Ternyata suami mbak Hawa sudah duduk dikursi itu.
Mas" mbak Hawa menyapa suaminya.
"Kalian gak kekamar?"
"Lho kok kekamar sih mas? Kan kita baru selesai makan, masa mau langsung tidur. Diabet tar." Kami bertiga tersenyum, bisa aja mbak Hawa kalo bercanda.
"Maksudku bukan itu sayang, tapi ke kamar buat ngobrol-ngobrol berdua."
"Tadi kita udah ngobrol-ngobrol berdua. Sekarang sambil nunggu ngantuk kita ngobrol bertiga."
"Bisa aja kamu." mas Imam mencubit hidung mbak Hawa.
"Ih jangan genit. Malu itu ada Helwa." mbah Hawa malu-malu menatapku. Aku hanya bisa tersenyum, kemudian melemparkan pandanganku kekolam. Merasa seperti jadi pengganggu keromantisan suami-istri ini.
"Duh mbak Hawa, kalau mau bermesraan jangan ajak aku dong. Aku jadi malu seperti obat nyamuk. Apalagi tatapan mata suamimu itu membuat aku malu dan takut." Batinku.
"Mas, Helwa tu hebat loh. Dia mondok sejak usia 8 tahun. Kemudian melanjutkan kuliah diKairo." mbak Hawa menyanjung-nyanjungku dihadapan suaminya.
Hentikan ini mbak Hawa. Tidak boleh menyanjung wanita lain dihadapan suami. Mbak Hawa apakah lupa dengan itu.
"Oh ya.. Hebat dong." komentar suaminya.
"Iya. Sekarang dia mau melamar dibeberapa tempat. Helwa pengen membagikan Ilmu yang dia miliki. Tapi sementara ini mau bantu bu Umi urus panti dulu."
"Kalau perlu bantuan apa-apa kamu bilang aja sama kami. Insya Allah kami bantu sebisa kami." akhirnya suaminya mbak Hawa membuka suara untukku.
"Iya terima kasih."
"Kamu gak perlu sungkan pada kami ya." pesan mbak Hawa.
"Iya mbak."
"Ngomong-ngomong ini kok gak ada cemilan atau minumannya ya. Tadi aku lupa pesan sama mbak Sum. Aku kedapur dulu ya sebentar." Selesai dengan kalimatnya mbak Hawa sambil berdiri. Akupun ikut berdiri, bagaimana bisa mbak Hawa meninggalkan aku berdua saja ditaman dengan suasana seperti ini.
"Tapi mbak, Helwa.." aku berusaha protes tapi belum sampai menyelesaikan kalimatku sudah dipotong mbak Hawa.
"Kamu tunggu disini sebentar aja. Masa kedapur aja mau ikut. Tenang aja mas Imam gak bakalan nerkam atau gigit kamu kok."
Masalahnya bukan diterkam atau digigit, tapi Ikhtilat mbak... Bukan mahrom.
Tapi aku sangat merasa takut untuk memprotes kembali mbak Hawa akhirnya aku membali duduk.
Hanya berdua ditaman, dengan suasana sepi, dan cahaya lampu yang menciptakan kesan romantis, ditambah suara gemricik air terjun buatan disisi kolam.
Kenapa aku harus terjebak dalam situasi ini.
Beberapa saat kami berdua sama-sama diam. Sumur hidupku baru ini pertama kali aku berdua dengan lawan jenisku, suami orang pula. Jangankan memulai pembicaraan, masih bisa bernafas dengan baik saja rasanya aku sudah bersyukur. Kurasa diapun ada rasa tidak nyaman berdua denganku. Jika aku balik kekamar apa nanti nggak dicari mbak Hawa?.
"Usia kamu berapa?" Aku menoleh kaget mendengar suami mbak Hawa tiba-tiba bertanya.
"25 mas." jawabku gugup.
"Kok mau kerja, memang belum ada planing menikah?"
Kenapa sih harus tanya masalah pribadi. Tolong dong basa-basi dengan topik lain.
Aku menggelengkan kepalaku sebagai isyarat jawaban.
"Sudah punya calon?"
Aku menggelengkan kepalaku lagi.
Kulirik wajahnya dia tersenyum, tampan sekali.
Astaghfirullah. Sadar Helwa! Tundukkan pandanganmu. Dia suami kakak barumu!.
"Dari tadi jawabannya menggeleng terus. menggeleng tanda belum ada atau belum mau."
"Belum ada".
"Belum ada karena kamu tolak semua ya?"
"Kenapa bertanya seperti itu?" heran.
"Yaa ku rasa untuk gadis sepertimu akan banyak laki-laki yang mengejar mati-matian. Bahkan mungkin jika kamu minta mereka untuk nyebur kedalam sumur, mereka akan turuti demi kamu."
Aku tersenyum mendengar perkataan humornya. Yang kukira awalnya adalah orang yang genit dan acuh ternyata humoris. Aku akhirnya memberanikah diri sedikit mengangkat wajahku untuk menatapnya. Kulihat dia masih tersenyum sambil menundukan wajahnya. Mungkin supaya tidak terkesan dia perayu ulung. Wajahnya penuh kharisma, sangat tampan, mbak Hawa beruntung memiliki suami dia. Apalagi aku tau beberapa sifat dan cerita tentangnya dari mbak Hawa tadi siang.
Tanpa ku duga dia mengangkat wajahnya dan menatapku. Tapi saat mata kami saling bertatap aku salah tingkah tertangkap basah diam-diam mencuri pandangnya. Dadaku tiba-tiba berdebar, dan aliran darahku seperti terhenti beberapa detik. Aku gelagapan dibuatnya, menunduk adalah satu-satunya caraku menghindari tatapannya.
Astaghfirullah. Ampuni aku Yaa Robb...