Dzuriat

Dzuriat
Menjemput Helwa.


Hari sabtu jam 10 pagi.


Aku sudah siap pergi menjemput Helwa.


"Mbak Sum..."


"Iya bu." Dari arah dapur lari kecil kearaku.


"Mbak tolong masak yang enak yaa untuk makan malam nanti. Soalnya bakal ada tamu istimewa. Oh ya siapkan kamar itu (Sambil menunjuk kamar tamu dilantai bawah yang paling besar diantara kamar tamu yang lain.) Yang bersih dan rapi, oh ya kasih aroma therapi juga. Kali aja nanti tamunya mau nginep sini." pesanku.


"Tamunya bapak bu?"


"Bukan, adikku?" jawabku santai yang auto bikin mbak Sum kepo.


"Maaf bu, bukannya ibu cuma punya kakak yang tinggal didesa. Itupun kata ibu kakak seayah beda ibu?" Mbak Sum binggung.


( Note: Bukan mbak Sum tidak sopan karena tanya2 sama majikan lho ya readers, soalnya mbak Sum sudah seperti keluarga sendiri bagi keluara kami. Jadi dia tau banyak hal dari keluarga ini.)


"Adik baru mbak Sum." sambil memakai kaos kakiku.


"Perempuan bu?"


"Ya iyalah mbak. Ya sudah pokoknya siapkan semuanya. Aku mungkin pulang setelah Ashar. Aku berangkat dulu ya mbak. Assalamu'alaikum" sambil membuka pintu.


" Wa'alaikumsalam."


Aku berjalan menghampiri pak Hasan yang sudah siap dipintu mobil.


"Silahkan bu."


"Terima kasih pak Hasan." sambil masuk kedalam mobil.


"Pak ke panti dulu ya."


"Siap bu."


Pak hasan mengemudikan mobil menuju panti asuhan untuk menjemput Helwa.


Sepanjang perjalanan aku kembali memikirkan bagaimana mengatakan pada Ibu soal rencanaku untuk menyuruh mas Imam menikah lagi. Meskipun hubungan kami sangat baik, aku takut itu justru kedepannya akan menjadi masalah. Mungkinkah ibu menyetujui rencanaku yang sudah ditolak mas Imam beberapa hari lalu?


"Sudah sampai bu." pak Hasan membuyarkan lamunanku.


"Eekh iya pak. Makasih." sambil turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam anakku. Ayo masuk" bu Umi menyambutku. Kujabat tangannya dan kucium dibalas dengan ciuman darinya dikedua pipiku.


"Sudah bersiap-siap, tunggu saja sebentar lagi kesini. Hawa, Ibu titip Helwa ya. Dia jarang sekali keluar dari panti. Setiap pergi selalu sama Ibu. "


"Iyaa, Ibu sudah seperti ibuku sendiri dan Helwa seperti adikku sendiri."


"Terima kasih. Kalian cepat sekali akrab."


"Karena Helwa cantik, baik adab dan akhlaknya, juga berilmu bu jadi tiap Hawa ajak ngobrol apa aja merasa nyambung. Mungkin itu yang membuatku nyaman kalau didekatnya bu. Ibu beruntung punya anak sholihah." pujiku.


"Aakh mbak Hawa berlebihan." suara Helwa menyahut dari dalam.


Seperti pertamakali bertemu, aku terpaku, terpesona dengan keindahan ciptaan Allah satu ini.


Helwa sangat cantik pakai baju panjangnya yang menutup auratnya dengan baik. Warna babypink berpadu garis merah kecil dibagian samping membuatnya nampak anggun. Dan aku suka sekali dandanannya yang natural, dengan alisnya yang tebal asli tanpa lukisan, dihiasi senyum mengembang dibibirnya.


Masya Allah indah sekali ciptaanmu yaa Robbi.


"Tu Sudah siap." bu Umi menyentuh pundakku membuyarkan pandanganku yang sedang mengagumi Helwa.


"Oh ya bu, apa boleh nanti Helwa menginap dirumahku?"


"Tapi aku belum persiapkan baju untuk ganti mbak." protes Helwa.


"Kalau Helwa mau, dan asal dengan kamu, pasti ibu ijinkan." tersenyum.


"Bagaimana Helwa? Nginap dirumah mbak ya. Pleasee.." bujukku.


"Ya mbak gak papa. Tapi Helwa siapin baju dulu ya."


"Nggak usah. Nanti beli aja, kan sekalian nanti temani aku beli kado dulu sebelum pulang kerumahku."


"Tapi mbak,-"


"Sudah nurut aja." ku potong kalimatnya sebelum selesai bicara. Akhirnya Helwa mengangguk setuju.


"Kalau begitu kita berangkat dulu ya bu." pamitku sambil berdiri, dan bersalaman bergantian dengan Helwa.


"Assalamu'alaikum" aku dan Helwa bersamaan.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati."


Ku gandeng tangan Helwa keluar.


Hari ini aku bahagia banget, Aku mengajak Helwa beli kado buat Yeni. Lalu shoping dan membelikan beberapa baju syar'i untuk helwa,kupilihkan baju dengan warna yang cocok untuk kulit dan usianya. Juga piyama panjang untuk dia tidur nanti malam plus kupilihkan dia flatshoes warna hitam. Lalu kami makan-makan bersama sambil ngobrol. Dan tidak lupa waktu sholat dzuhur dan ashar kami sholat berjama'ah tepat waktu. Didalam perjalanan pulang bahkan kami masih terus ngobrol dan tertawa berbagi cerita pengalaman-pengalaman manis kita saat masih kecil sampai remaja. Sedangkan ku lihat pak Hasan hanya menjadi penonton dan terlihat dari kaca depan sesekali dia merilik sambil tersenyum. Mungkin pak Hasan baru kali ini melihatku sebahagia dan seheboh ini dimobil. Karena sebelumnya meskipun Nissa adalah teman terdekatku, aku dengan Nissa ataupun teman-temanku yang lain tidak pernah bercanda dan heboh ria didalam mobil. Paling juga ngobrol biasa dan sesekali tertawa. Helwa sungguh sudah membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Entah karena kami memang nyambung, atau aku yang mengimbangi usia mudanya membuat aku kembali seperti seusia Helwa.