
Jam 8 malam aku dikejutkan mbak Sum yang mengatakan Ibu datang membawa koper besar. Aku lari menuruni anak tangga, kulihat Ibu masih diruang tamu dengan koper disebelahnya.
"Ibu, kok malam-malam kesini? Ada apa kok bawa koper?" aku menghampiri ibu sambil salam padanya.
"Nggak apa-apa sayang. Sementara waktu Ibu mau tinggal disini. Bolehkan?" aku agak terkejut.
Tumben sekali.
"Boleh banget dong bu. Tapi ada apa kok tumben? Biasanya aja kami paksa-paksa ibu nginap disini nggak pernah mau."
"Imam yang meminta Ibu." aku terkejut kali ini.
Kenapa mas Imam tiba-tiba meminta ibu untuk tinggal sementara disini.
"Mas Imam?"
Ibu mengangguk sambil tersenyum mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
"Mbak Sum"
"Iyaa bu." sambil berlari kecil khasnya menghampiri kami.
"Tolong bawa koper ibu, dan ajak Eno (ARTku yang lain) menyiapkan kamar untuk Ibu."
"Siap bu." mbak Sum berlalu membawa koper ibu.
"Ibu kok kesininya malam sekali? Kenapa tidak sore atau kabarin Hawa dulu?"
"Nggak papa kok sayang, Ibu memang sengaja agak malam biar nanti bisa langsung tidur."
"Ibu sudah makan? Mau Hawa siapkan makan malam untuk Ibu?"
"Nggak usah. Tadi sebelum sampai sini Ibu udah makan dijalan. Ya udah Ibu mau kekamar dulu. Kamu juga istrirahat saja."
"Baik bu, Ibu juga istirahat ya." ku antar Ibu kekamarnya dan aku kembali kekamarku.
Malam berlalu, aku ketiduran dan tidak tau mas Imam pulang jam berapa. Aku terbangun suara adzhan subuh, kulihat mas Imam sudah tidur dengan piyama disebelahku.
***
Diruang kerja, dilantai atas dekat dengan kamar kami. Aku, mas Imam, dan Ibu berkumpul. Mas Imam duduk dimeja kerjanya sedangkan aku dan ibu duduk disofa. Suasana sangat tegang, aku sudah memiliki firasat bahwa kami akan membahas soal lamaran dan pernikahan mas Imam dan Helwa. Keputusanku yang terlalu berani, meminta suamiku untuk menikah lagi.
"Hawa anakku." kata-kata lembut ibu memecahkan keningan ruangan yang kedap suara.
"I-iya bu." gugup.
"Sekarang kita sudah bertiga. Kita harus bicara saat semuanya ada. Kemarin kamu datang dan meminta ijin juga restu Ibu agar suamimu menikah lagi. Sekarang bisa kamu jelaskan pada kami kenapa kamu begitu memaksa suamimu untuk menikah lagi. Menikah itu bukan perkara main-main nak."
Aku menghela nafas, ruangan ini serasa membuat dadaku sesak, meskipun sebenarnya sejuk karena AC.
Aku diam, berusaha mengumpulkan tenaga dan bahasa yang baik dalam situasi ini.
"Benar Hawa, katakan pada kami. Kenapa kamu senekat ini." mas Imam sambil menatap tajam mataku, seakan menyayat hatiku.
"Itu bukan alasan yang logis!" mas Imam sinis sambil memalingkan wajahnya.
Ibu mengusap bahuku, berusaha menguatkanku.
"Tidak logisnya dimana mas? Kita jangan saling membohongi hati dan pikiran kita sendiri. Ayolah kita mengakuinya sebentar saja, berapa persen kemungkinan aku bisa mengandung anakmu? Sangat kecil sekali mas. Aku sudah merasakan tersiksanya terapi, meminum obat, vitamin, dan banyak usaha lainnya sudah kutempuh selama beberapa tahun ini. Dan pada kenyataannya tidak ada perubahan yang baik didalam rahimku. Aku lelah mas, aku tersiksa, saat terapi bukan cuma hatiku yang sakit, tapi bagian tubuhku juga merasakan nyeri. Sedangkan tersiksaku tidak menghasilkan apa-apa, tidak merubah apa-apa." tangisku pecah. Ibu memelukku erat, kubenamkan wajahku didalam pelukannya.
"Sayang, kita bisa bersabar beberapa waktu lagi. Baru 8 tahun nak, masih banyak waktu bisa kalian manfaatkan untuk bersama."
Aku sudah bosan bu dengan kalimat bijaksana ini yang justru makin lama seperti belati menusuk hatiku.
"Tidak bu. Ku mohon mengertilah. Ibu tidak taukah tersiksanya aku. Hampir setiap saat aku selalu mengecewakan harapan kalian. Aku menjadi merasa lemah dan tidak berguna sebagai wanita." kuangat wajahku dan kuyakinkan ibu dengan mata tulusku.
Yah meskipun sebenarnya sakit juga.
"Sudah, jangan bicara tambah ngelantur."
"Mas Imam, bukannya malam itu mas Imam sudah setuju? Bahkan kita kadang membahasnya mas Imam tidak menolaknya."
"Itu karena aku malas berdebat denganmu. Aku tidak menyangka kamu sampai seserius ini." menatapku penuh dengan kekecewaan.
"Ibu, tolong pahamkanlah mas Imam. Mengapa tidak mengerti juga denganku." sambil kuremas jemari ibu.
Hanya Ibu yang bisa membantuku, begitulah pikiranku.
"Bukan kami yang tidak mengerti kamu, tapi kamu yang tidak mengerti dirimu sendiri. Jangan menyulut api dalam rumah tangga kita." Sambil kembali menatapku.
Sakit sekali rasanya kata-kata mas Imam yang dia lontarkan padaku. Selama ini aku selalu mendapatkan perlakuan hangat dan bahasa yang manis. Bukan kata-kata yang menikam seperti ini.
"Iya nak, nanti kamu akan tersakiti sendiri oleh keputusanmu. Bagaimana Imam bisa adil sedangkan dia sendiri belum siap."
"Aku rela, aku ikhlas mas Imam menikah lagi. Aku yakin pernikahan mas Imam tidak akan melukaiku, justru akan menyempurnakan keluarga kita mas."
Mas Imam semakin geram mendengarku terus menerus membantahnya dan Ibu.
"Baiklah, terserah padamu. Nasihat dan perkataanku dengan ibu bahkan sudah tidak bisa kamu dengar. Baik, aku akan menikahi siapapun yang menjadi pilihamu. Tapi kamu yang memilihnya, kamu yang melamarnya, dan kamu yang mendampingiku saat menikahinya. Jika perlu kamu juga yang siapkan malam pengantinku dengannya." Sarkas mas Imam sambil berjalan keluar dari tempat kerjanya.
"Baik mas. Kuterima semua syarat darimu." Mas Imam menghentikan langkahnya mendengar jawabanku.
"Dan jangan pernah kamu menangis ataupun cemburu saat aku bersamanya. Jangan pula pasang wajah sedihmu jika nanti kamu baru sadar bahwa suamimu bukan hanya milikmu."
"Baik mas, aku mengerti."
"Hawa!! Istighfar nak. Jangan mengenggam api nak akan terbakar tubuhmu nanti." ibu setegah berteriak.
"Do'a dan ridha suamiku dan Ibu yang akan memadamkan api itu." jawabku mantab.
"Maafkan Imam bu, Iman gagal mendidik istri Imam."
Kemudian Mas Imam melanjutkan langkahnya meninggalkan kami.
Ibu menangis memelukku.