
Imam melanghkan kakinya kekamar Helwa.
Tapi langkahnya berhenti didepan pintu.
Hatinya merasa bimbang.
Imam menarik nafas panjang dan sejenak kemudian perlaham menghembuskannya.
Tok tok tok...
Imam mengetuk pintu kamar Helwa.
Mestinya tanpa mengetukpun dirinya tau bahwa dia memiliki hak dan kebebasan memasuki kamar istrinya tapi Imam sendiri masih canggung dengan istri barunya. Dia juga takut Helwa belum siap dengan kehadirannya.
Ceklek..
Tampak Helwa membuka pintu kamarnya.
Mereka berdua sama-sama kikuk.
"Kamu belum tidur?" tanya Imam mencairkan suasana.
Helwa menggelengkan kepalanya.
"Boleh aku masuk?"
Helwa menganggukkan kepalanya kemudian mundur dua langkah memberi jalan Imam untuk masuk.
Imam sejenak mengamati kamar Helwa, kemudian duduk ditepi ranjang ditengah-tengah ruangan itu. Sedangkan Helwa hanya bisa berdiri menunduk sambil memilin ujung hijabnya menahan gugup. Baru kali ini disepanjang usianya satu kamar berdua dengan lawan jenis. Sekalipun dia sadar laki-laki itu adalah suaminya.
Imam menatap Helwa sangat intens, bahkan dia bisa jelas mengerti bagaimana istrinya itu sangat gugup diperhatikannya seperti itu.
"Kamu senang tinggal disini?"
"Alhamdulillah." jawab Helwa lirih sambil menganggukkan kepalanya.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu yang lain kamu bisa membelinya bersama dengan Mbak Sum atau dengan Hawa."
"Alhamdulillah semuanya sudah lebih dari cukup untuk Helwa."
"Helwa kemari." Imam menepuk sebelah ranjang tempat dia duduk.
Helwa perlahan melangkah dan duduk disebelah Imam. Tangannya tampak gemetar, bahkan diruangan berAC itu tampak butiran keringat dikeningnya.
"Kamu gugup?"
Helwa menganggukkan kepalanya sambil menunduk,
"Maaf" ucapnya lirih.
"Tidak apa-apa. Jika kamu belum siap kita tidak perlu melakukannya sekarang. Aku kesini juga hanya ingin ngobrol denganmu."
"Mas Imam tidak kecewa ataupun marah?"
Imam menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Akupun belum siap. Bagaimana bisa aku melakukannya malam ini sedang satu istriku yang lain sedang sakit. Bahkan aku saat ini disini juga karena permintaannya." batin Imam.
"Maaf mas. Tapi ini kewajiban Helwa, jika mas Imam-" Helwa menjeda sebentar ucapannya.
"Jika mas Imam membutuhkanku, Itu adalah kewajibanku." lanjutnya kemudian dengan suara bergetar.
"Tidak apa. Sekarang katakan padaku apa yang kamu inginkan dariku sebagai suamimu?"
"Tidak ada mas. Jika mas Imam sudah mengerti hak dan kewajiban kita sebagai suami istri itu sudah cukup."
"Kamu tidak memintaku bersikap sesuatu yang khusus atau memanggilmu dengan panggilan khusus?"
"Helwa, apakah kamu menikah denganku karena paksaan Hawa?"
"Tidak." jawab Helwa dengan cepat.
Imam mengeryitkan dahinya melihat sikap Helwa yang tiba-tiba berbicara cepat.
"Jadi apa alasanmu menerima lamaranku?"
"Itu... itu... emm.."
"Apa kamu memang memiliki rasa suka kepadaku?" tanya Imam sambil tersenyum mengoda Helwa.
Seketika wajah Helwa memerah dan gugup mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Emm.. Helwa, Helwa menerima karena..." Helwa tidak menyelesaikan kalimatnya
"Karena apa? Aku ingin tau." tanya Imam penasaran.
"Emm mas Imam aku ambilkan minum dulu ya didapur." Helwa bangkit dari duduknya berusaha menghindar dari cecaran pertanyaan imam.
"Aku tidak butuh minum. Aku butuh jawabanmu. Jadi duduk kembali dan jawablah." Imam menahan tangan Helwa yang pada akhirnya kembali duduk.
"Jadi apa alasanmu?" ulang Imam.
"Karena wajah mas Imam adalah jawaban dalam Istiqarahku." ucap Helwa malu-malu.
Imam tersenyum, ada rasa bahagia direlung hatinya.
"Lalu apakah setelah akad tadi kamu sudah mulai menyukaiku?"
"Itu, emm... "
"Emm itu apa maksudnya?"
Helwa menganggukkan kepalanya.
"Aku butuh mendengar jawabanmu bukan melihat anggukan kepalamu saja."
"I-iya" jawab Helwa gugup.
Imam tersenyum senang.
"Terima kasih." ucap Imam sambil mengusap kepala Helwa.
"Apa malam ini aku bisa tidur disini?" tanyanya kemudian yang membuat Helwa kembali terkejut.
"Tapi mas, mbak Hawa sakit. Apa tidak sebaiknya mas Imam menemaninya?"
"Apa kamu tidak suka aku ada disini?"
"Maaf mas, bukan itu maksudku. Tapi mbak Hawa mungkin lebih membutuhkanmu saat ini." jelas Helwa.
"Jadi aku kamu ijinkan tidur disini atau tidak? Meskipun kamu istriku jika kamu tidak menginginkanku ada disini aku tidak akan memaksa."
"Menurutku sebaiknya mas Imam bersama mbak Hawa." ucap Helwa.
"Jadi aku tidak boleh disini. Baiklah tadi Hawa menyuruhku kesini dan tidak boleh tidur dikamarnya. Sekarang kamu menyuruhku kesana dan tidak boleh disini. Aku memiliki 2 istri tapi semua menolakku. Aku akan tidur disofa bawah kalau begitu." ucap Imam sambil berdiri dan kemudian melangkah keluar dari kamar Helwa.
Sementara Helwa hanya terpaku mendengar ucapan suaminya.
"Astaghfirullah... Apa yang sudah kulakukan? Yaa Allah aku telah berdosa pada suamiku." Helwa menutup mulutnya dengan kedua tangannya begitu menyadari apa yang terjadi.
"Kenapa mas Imam tidak mengatakan kalau mbak Hawa yang menyuruhnya kemari. Sekarang apa yang harus kuperbuat?" pikir Helwa kacau.