
Selesai sholat aku menenangkan diriku, hanyut dalam dzikir ku ingat Allah, ku agungkan asma-Nya, kuhujamkan kuat-kuat kedalam hatiku bahwa aku hanyalah makhluk kecil, lemah ciptaannya yang harus yakin bahwa semua dalam hidupku telah ada didalam ketetapan-Nya.
Kuangkat kedua tanganku, memohon pada sang pemilik segalanya.
"Yaa Allah, kau maha cinta. Tlah kau anugerahkan cinta yang tulus dari suami dan Ibu. Tak sekalipun mereka meremehkanku meskipun mereka tau akan kekuranganku. Tlah banyak pengorbanan yang mereka berikan untuk kebahagiaanku dan belum sekalipun aku membalas dengan pengorbananku untuk kebahagiaan mereka. Wajah kecewa, rasa lelah menanti, harapan yang tak pasti mereka selalu terbayang, membuatku merasa bagai tak berguna.
Berikanlah aku kesempatan untuk membahagiakan mereka. Pengorbananku ini takkan seberapa karena meski terbalut sakitnya berbagi suami aku yakin KAU takkan membiarkanku menanggung sakit yang tak mampu kulewati. Berikan aku kekuatan, berikah aku jalan agar aku bisa melaluinya. Aamiin." Ku tutup do'aku dengan mengusapkan kedua tanganku kewajahku.
Ketika aku membalikkan badanku, kulihat Nissa menanggis berdiri dibelakangku. Dia mendengar do'aku. Setelah melepas mukena aku merapikan kerudungku. Ku hampiri Nissa yang masih terpaku menangis menatapku lesu.
"Sudah lama disini?"
Nissa tak menjawab, dipeluknya aku erat sekali sampai terasa sesak dadaku. Air mata kami tumpah dalam pelukan.
"Kamu pasti kuat Hawa, Innallaha ma ana."
Aku mengangguk.
•••
Aku sudah selesai masak, mandi dan bersiap duduk didepan menunggu mas Imam pulang.
Mobil memasuki halaman, tampak mas Imam turun.
"Terima kasih pak Andri. Selamat istirahat."
"Siap pak. Selamat istrirahat juga untuk bapak."
Mas Imam berjalan kearahku, menyapaku dengan salam.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Aku berdiri, ku sambut tangannya dan kucium punggung tangannya. Dikecupnya keningku.
"Sayangku capek?" tanyaku berhati-hati. Takut suasana hati mas Imam belum membaik karena sejak dari turun mobil sampai memasuki rumah dan menaiki tangga dia belum tersenyum sama sekali. Dingin, seperti bukan mas Imam suamiku yang hangat dan penyayang.
"Yaa sayang, aku sedikit capek. Kalau gak keberatan nanti sebelum tidur pijitin aku ya." jawabnya sambil menoleh dan tersenyum sambil merangkulku.
Alhamdulillah yaa Allah suamiku yang hangat dan lembut sudah kembali. Syukurku.
Suasana hati mas Imam sepertinya sudah kembali membaik. Saat makan kupandangi dia, Betapa beruntungnya aku menjadi istrinya.
Setelah makan malam kami langsung kembali ke kamar. Seperti janjiku, aku memijiatnya diatas ranjang. Mas Imam sibuk dengan ponselnya dan kedua tanganku sibuk memijat kaki mas Imam.
Sejenak aku ingat pada rencanaku, yang Nissa katakan sebagai ide gila. Dadaku berdebar, antara ingin mengatakannya pada mas Imam atau tidak. Setelah kutimbang-timbang aku memutuskan untuk membicarakannya. Dadaku terasa seperti suara petir yang akan menyambut badai. Tanganku menjadi gemetar. Bismillah.
"Sayang" aku harus hati-hati untuk memulai membicarakan ini, pikirku.
"Hmmm"
"Aku mau bicara sesuatu, apa boleh?" tanyaku ragu-ragu.
"Ya." jawaban yang lagi-lagi singkat menambah tekanan besar dihatiku. Ku pikir apa sebaiknya kuurungkan saja niatku malam ini.
"Mau ngomong apa?" imbuhnya membuyarkan lamunanku.
"Hehee gak jadi." Jawabku ragu sambil mengiggit bibir bawahku. Mas Imam menoleh kearahku.
"Kenapa?" bertanya dengan ekspresi binggung.
"Gak papa sayang."
"Ngomong aja. Malah bikin penasaran."
"Takut kamu marah."
"Ssshh aneh kamu. Memang 8 tahun menikah denganmu pernah aku marah?"
Aku menggelengkan kepala.
"Pernah aku memukulmu?"
Aku menggelengkan kepalaku lagi.
"Jadi katakan!"
"Tapi Sayangku janji jangan marah ya?"
"Tuh kan, gak jadi aja." jawabku dengan kesal.
"Ya aku pasti akan marah kalau kamu mengatakan ada lelaki lain menggodamu atau kurang ajar pada istriku." jawabnya sambil senyum gemas melihat wajahku yang tegang.
"Bukan itu kok. Tapi masalah lain."
"Ya sudah ngomong aja." Jawabnya sambil kembali keposisi awalnya.
Bismillah. Yaa Allah sertai aku dalam ucapanku agar perkataanku tertata dan yang kukatakan Lillahita'ala.
"Sayang, kita kan sudah 8 tahun menikah. Tapi sampai sekarang aku belum juga hamil." Aku memulainya dengan menekan suara hampir disetiap katanya. Dadaku mau meledak rasanya karena jantungku yang berpacu berkali-kali lipat lebih cepat.
"Ya, lalu kenapa? Sudahlah kalau membahas ini hanya akan membuatmu merasa bersalah sebaiknya lupakan saja. Aku sudah bahagia begini denganmu." Jawaban mas Imam seperti skak buat ku. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus terus terang dengan niatku.
"Tapi ada satu cara yang belum pernah kita coba. Aku yakin ini akan berhasil."
"Sesakit inikah rasanya. Baru bicara saja sudah sesesak ini dadaku. Bagaimana nanti jika benar-benar terjadi." tiba-tiba keraguan membayangiku.
Mas Imam seperti kaget dan penasaran,membalikkan badannya yang tadinya tengkurep membelakangiku menjadi berhadapan denganku. Tanganku berhenti memijat kakinya.
"Oh ya? Apa itu?" tanya mas Imam semangat dengan rasa penasarannya.
Aku diam sejenak, hampir menangis mengatakannya. Tapi harus ku tahan. Yaa, supaya mas Imam yakin kalau aku bersungguh-sungguh.
"Mas Imam menikah lagi." Aku mengiggit bibir bawahku dan memejamkan mataku. Takut reaksi mas Imam marah.
"Hahahahahaaaaaa...!"
Aku membuka mataku kaget. Melihat mas Imam kustru tertawa keras dan terbahak-bahak. Sedang aku yang tadinya seperti mau pingsan tegang menjadi binggung dengan tawa mas Imam.
"Kok malah ketawa sih mas?" tanyaku dengan nada marah.
"Iyaa maaf, maaf sayang. Abis kamu lucu becandanya." Mas Imam meraih tanganku dan mendekatkan badannya memelukku.
"Apanya yang lucu!" Aku tersinggung.
Masih dengan suara tawa kecil,
"Kamu ini lucu sekali sayang. Kamu tadi makan apa?"
"Maksudnya?" aku binggung mengangkat kepalaku menatap matanya.
"Mungkin kamu tadi salah makan atau mau minum vitamin tapi salah obat." masih dengan nada mengejek.
"Mas aku gak bercanda." aku berusaha meyakinkan.
"Iya Hawaku sayang, sini peluk aku." memelukku lagi.
"Maafkan aku, aku jarang punya waktu untukmu akhir-akhir ini. Tapi jangan jadikan itu untuk alasan kamu bicara ngaco."
Mas Imam masih menganggap aku bicara ngaco? Justru aku merasa semakin kesal.
"Mas aku serius. Aku ingin kamu menikah lagi." jelasku dengan suara lantang dan mengangkat kepalaku. Entah dari mana aku mendapatkan kekuatan sebesar itu berkata keras dihadapan suamiku. Mungkin berasal dari rasa lelah, kecewa, dan marah pada diriku sendiri.
Terlihat mas Iman kaget mendengar perkataanku. Selama ini tidak pernah aku bicara dengan suara sekeras itu.
"Sudahlah sayang, ayo kita istirahat. Kita sama-sama lelah hari ini. kita bahas lain kali lagi." mas Imam mencoba menghindari emosionalku yang sedang tidak stabil.
"Tidak mas. Aku mau sekarang. Aku ingin mas Imam menikah lagi. Dengan begitu mas Imam akan memiliki anak dan Ibu akan memiliki cucu yang akan meneruskan nasabmu. Sampai kapan kita akan begini terus. Aku lelah mas, aku lelah dengan kekuranganku. Aku lelah terus-terus mengecewakanmu dan Ibu, aku lelah dengan rasa bersalah ini." Aku merancau dengan bercucuran air mata.
Mas Imam memelukku erat sekali meski aku mencoba meronta melepaskan pelukannya tapi aku gagal.
"Sudahlah, bukan salahmu. Ini ujian Allah atas diri kita. Belum saatnya saja." mas Imam masih gigih menenangkanku.
"Tidak sayang. Kamu harus menikah. Aku yang akan mencarikan istri untukmu. Aku yang akan mempersiapkan semuanya. Akan kucarikan mas Imam istri yang sholehah dan subur, yang akan melahirkan banyak anakmu." aku semakin tak terkendali bicara terbata-bata.
"Sudah cukup!! Hentikan!!" teriak mas Imam keras.
Aku yang sudah hilang kendali tidak terhenti dengan teriakannya. Justru semakin menjadi-jadi.
"Besok aku juga akan bicara juga pada ibu. Pokoknya mas Imam harus menikah lagi!!" jawabku tak mau kalah keras.
"Hawa sadar, sadar, istighfarlah sayang." mas Imam menepuk2 kedua pipiku yang berurai air mata dan memelukku erat sekali.
Aku mendengar suaranya berat dan kulihat diapun menangis. Lemas, luluh rasanya diriku melihat suamiku sampai menumpahkan air matanya.
Dibimbing mas Imam aku isfighfar. Setelah aku lebih tenang mas Imam memberiku air minum dan menidurkanku yang sudah seperti tidak punya kekuatan apa-apa lagi.