Dzuriat

Dzuriat
Ananda Helwa Ayutia


Pak Hasan memarkirkan mobil dihalaman yang lumayan luas.


"Pak tolong turunkan barang-barangnya dan bawa masuk ya." kataku sebelum keluar mobil.


"Siap bu."


Aku turun dari mobil. Tumben sepi sekali. Batinku. Aku melangkah menuju pintu yang terbuka.


"Assalamu'alaikum." Salamku dari depan pintu.


"Wa'alaikumsalam." datang wanita setengah baya keluar.


"Masya Allah anakku." Wanita itu berjalan cepat kearahku, lalu menyambutku dengan pelukan hangat. Kucium punggung tangannya saat kami bersalaman, dia membalas mencium kedua pipiku.


"Ibu apa kabar?"


"Baik nak, kenapa lama sekali tidak kesini. Tiap bulan hanya pak Hasan yang kemari?." tanyanya sambil menuntunku untuk duduk disofa.


Dibelakang kami pak Hasan sibuk bolak-balik mengangkat Kardus besar.


"Maafkan Hawa ibu."


"Tidak apa-apa nak, kami disini rindu padamu.Terutama anak-anak. Kamu ingat Salsabila?"


aku mengangguk sambil terus tersenyum.


"Sekarang dia sudah diadopsi. Sebelum diadopsi dia ingin sekali bertemu denganmu." sambung ibu.


"Benarkah? Aku minta maaf untuk itu." sambil meremas hangat tangan Bu Umi.


"Tidak apa-apa. Dia beruntung diadopsi keluarga yang baik. Meskipun dibawa keluar kota tapi dia sekarang sudah bahagia dan sudah terjamin masa depannya."


"Anak-anak kemana bu kok sepi?" tanyaku.


"Mereka sedang istirahat siang. Kamu tidak buru-buru kan?"


"Nggak kok bu."


"Setidaknya tunggu mereka bangun dan temui mereka. Pasti mereka bahagia."


"Pasti bu." aku tetap dengan senyuman yang mengembang.


"Helwa, Helwa..." Bu Umi memanggil seseorang.


"Iyaa bu." suara seorang gadis menyahut dari dalam.


Kemudiam seorang gadis cantik datang menemui kami. Aku terpaku, terpesona dengan kecantikan dan keanggunannya.


Wanita yang masih muda, bertubuh tinggi semampai, berbalut gamis warna purple dengan kerudung panjangnya yang bagian depan sampau bagian paha atasnya dan bagian belakang sampai hampir kelututnya.


Cantik sekali, alisnya tebal hitam, matanya bulat bersih dengan bulu mata yang lentik, hidungnya mancung dan bibirnya kecil merah. Dengan dandanan yang sangat natural soft sangat anggun kurasa siapapun yang memandang akan terpana. Seperti aku saat ini.


"Kenalkan ini bu Hawa." bu Umi memperkenalkan kami ketika aku masih terpada padanya.


Gadis itu maju beberapa langkah dan berhenti tepat didepanku, lalu mengulurkan tangannya.


"Salam kenal bu Hawa, saya Helwa." aku gagap mendengar dia memperkenalkan diri. Kusambut uluran tangannya.


"Pantas aku baru melihatnya bu."


Helwa tersenyum.


Masya Allah indah sekali ciptaan-Mu yaa Robb.


"Helwa buatkan minum untuk bu Hawa."


perintah bu Ummi.


Helwa mengangguk dan melihat kearahku sambil tersenyum.


"Bu Hawa mau minum dingin atau hangat." lembut dan sopan sekali.


"Kalo boleh dingin aja, soalnya cuacanya lumayan panas."


"Baik bu. Tunggu sebentar saya buatkan."


Helwa langsung permisi kebelakang.


"Ibu, berapa usia Helwa?" tanyaku sambil kembali menghadap bu Umi.


"Sekarang sudah 25 tahun."


"Apa dia sudah punya calon suami?"


"Entahlah, sepertinya belum. Dia belum membicarakan itu pada Umi. Kenapa nak? Apa kamu punya calon untuknya?" tanya bu Umi sambil tersenyum.


"Insya Allah bu." jawabku ragu.


Helwa kembali membawa nampan berisi 2 gelas jus jambu merah. Dan meletakkan 1 diletakkan di meja depan bu Umi dan satu didepanku.


"Silahkan diminum bu, maaf cuma seadanya."


"Iya, terima kasih. Maaf jadi ngerepotin kamu."


"Sama sekali nggak ngerepotin kok bu." jawabnya sopan.


"Ibu beberapa kali cerita mengenai bu Hawa padaku. Terima kasih ibu sudah menjadi donatur tetap dipanti ini. Jazzakillah Khaiiran bu."


"Aamiin, tabarokallah. Oh ya panggil saya mbak Hawa aja, supaya lebih akrab." pintaku.


Helwa mengangguk.


"Bu, bolehkan aku numpang sholat Dzuhur disini? Sudah jam 1 lebih aku belum sholat Dzuhur."


"Tentu saja boleh anakku. Kamu sudah seperti putri ibu sendiri. Helwa antar kakak barumu." bu Umi meminta Helwa mengatarku dengan candaannya.


"Mari mbak."


Aku berdiri mengikuti langkah Helwa.


•••


Puas sudah aku bermain-main dan membagikan makanan juga hadiah buku dan mainan kepada anak-anak panti yang jumlahnya sekitar 50 anak. Begitupun untuk pengurus2 panti juga kubelikan 1 set gamis dengan khimar untuk masing2 muslimah juga baju koko muslim untuk penjaga dan tukang kebun panti. Sebelum pulang aku bertukar nomer WA dengan Helwa, dan menyerahkan amplop berisi cek untuk bu Umi. Ternyata benar kata teman-temanku, Panti Asuhan adalah salah satu tempat terbaik untuk orang yang sedang bersedih karena suatu ujian. Karena disitu aku melihat bagaimana anak-anak tetap kuat melewati hari-hari mereka tanpa orang tua kandungnya. Dan akhlak mereka terdidik untuk saling menyayangi, menjaga, dan berbagi. Akupun kembali pulang setelah mendapatkan mood booster dari panti asuhan ini.