
Setelah mengantarkan Ibu pulang, aku kembali kerumahku. Mobil mas Imam sudah terparkir digarasi yang berati dia sudah dirumah.
"Terima kasih pak. Bapak boleh pulang dan istirahat."
"Siap bu, sama-sama. Selamat istirahat." jawab pak Hasan. Aku tak menyahutnya, aku sedang tidak fokus dengan perkataannya.
Aku masuk rumah disambut mbak Sum.
"Bapak sudah pulang mbak?"
"Sudah bu."
"Sudah makan?"
"Bapak bilang sudah makan diluar, ibu mau saya siapkan makan?"
"Nggak usah mbak, aku sudah makan tadi." Aku berbohong, aku hanya makan siang tadi. Bahkan saat pulang ibu kuajak makan tidak mau. Akupun jadi tidak berselera makan.
"Aku kekamar dulu mbak, selamat istirahat."
"Iya bu, terima kasih. Selamat istirahat."
Aku langsung berjalan kelantai atas.
Ku tarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan kuulang sampai 3 kali sebelum aku membuka pintu. Aku membuka pintu sangat pelan, takut mas Imam sudah tidur. Kulihat mas Imam lagi duduk dikursi dekat jendela, sadar dengan kedatanganku mas Imam menoleh.
"Kok baru pulang dari rumah Ibu?" tanya mas Imam..
Aku yang sadar akan kesalahanku yang tidak terlebih dulu mengabarinya aku diam sambil berjalan mendekatinya perlahan.
"Maaf sayang, tadi ibu..."
"Ibu mengajakmu ke dokter Alen?" belum selesai bicara mas Imam memotong pembicaraanku. Mas Imam tau, karena saat aku dalam perjalanan pulang mas Imam pasti menelfon ibu.
Aku mengangguk lemah & menunduk. Takut akan kesalahanku, juga takut suamiku akan bicara apa lagi.
"Maafkan aku mas," kataku lirih.
"Kenapa minta maaf? Jika membahas ini kamu selalu minta maaf. Ini semua sudah kehendak Allah kita sampai saat ini belum dipercaya memiliki anak." kata-kata mas Imam memang selalu baik dan seakan tegar.
Tapi tidak seperti ini sebelumnya. Biasanya dia mengatakannya dengan menyentuhku, menganggam erat tanganku atau memeluku. Tapi sekarang dia hanya mengatakannya sambil menatap jauh keluar jendela.
Aku istrimu mas. Aku tau kamu sangat kecewa, tapi aku harus bagaimana lagi.
Kau seakan tegar dan sabar tapi jauh didalam hatimu aku tau kamu sudah lelah menunggu.
Yaa Allah, aku dilimpahi kasih sayang dan kecukupan. Tetapi aku tidak mampu membahagiakan orang yang melimpahiku dengan kasih sayangnya dan menjagaku selama ini. Ku mohon Yaa Robb berikanlah benih cinta kami didalam rahimku.
"Sudahlah, kamu pasti capek. Bersihkan badanmu dan ayo kita tidur."
Entahlah perasaanku yang terlalu sensitif ataukah memang mas Imampun sedang lelah. Aku merasa suamiku berbeda. Aku bangkit dari dudukku dan pergi kekamar mandi.
Ku isi bathup dengan air hangat dan aroma terapi lavender. Berharap berendam bisa membuatku lebih tenang dari semua lelah ini.
Sambil berendam kupejamkan mataku, kuingat masa kecilku, yang bahagia meski hidup dalam kesederhanaan. Aku merindukan Abah dan Ummiku.
"Yaa Allah tempatkanlah kedua orang tuaku disurgamu." Do'a dalam batinku.
"Mas Imam apa yang harus kulakukan. Haruskah kurelakan kau memiliki wanita lain sebagai istrimu selain aku. Yang akan meneruskan garis keturunanmu, yang akan membahagiakanmu dan mengusir sepi ibu. Tapi aku tak sanggup jika harus melihat ada wanita lain yang menemani tidurmu, mengukir senyum diwajahmu, dan terpahitnya membagi perhatianmu padanya..!!
Tapi aku tidak boleh egois. Sudah bertahun-tahun suamiku dan Ibu menantikan si kecil hadir diantara kita.
Tapi bagaimana jika nanti mas Imam dan ibu lebih sayang pada istri barunya yang sudah memberikan keturunan pada mas Imam dan mereka melupakan aku..??
Hey... Mana mungkin. Bahkan selama ini berapa puluh kali atau bahkan berapa ratus kali mereka kecewa. Hampir setiap bulan dalam 8 tahun ini mereka berharap dan berakhir kecewa. Jahat sekali jika aku tetap egois tidak mau berkorban untuk pengorbanan mereka selama ini."
Aaaaaaaaaakkhh.... Aku bisa gilaa. Batinku terus bergejolak.
Aku menyudahi berendamku, ku bilas dan kembali kekamar.
Mas Imam sudah tidur, ku dekati dia. Kupandangi wajahnya, aku ingin sekali berteriak dan berbicara apa saja. Tapi lidahku terasa kelu, hatiku sakit sekali, dadaku terasa sesak. Air mata deras mengalir dipipiku, Aku mengusap rambut suamiku, ku cium rambut dan ku genggam tangannya.
"Robbi... Aku seprti tak sanggup lagi menyakiti suamiku dengan kekecewaan. Beri aku petunjukmu, Beri aku jalan bagaimana aku harus melangkah.
Aku terus memeluk suamiku, sesekali kupandangi wajahnya. Pikiranku terus melayang, sampai aku lelah sendiri dan tertidur.
•••
"Sayang, nanti aku makan malam diluar. Kamu tidak perlu menunggu aku makan malam." kata mas Imam setelah selesai sarapan sambil berdiri.
Aku menyusul dia dan mengangguk.
Ku antar suamiku kepintu depan.
"Apa nanti kamu pulang sangat malam?"
"Sepertinya begitu, aku mau bertemu pak Rudi jam 8 dan aku tidak bisa memastikan selesai jam berapa. Kamu istirahat dulu saja."
"Bukankah kemarin kamu habis dari rumah Ibu dan pulang malam? Sekarang mau pergi lagi?" Deg...! Jantungku serasa seketika berhenti.
Kenapa mas Imam menjawab seperti itu? Kenapa tiba-tiba suamiku berubah, apakah masih kesal karena aku pulang malam? bukankah dia juga tau alasan aku pulang malam?
"Kalau kamu tidak mengijinkan aku tidak akan pergi." kataku sambil menunduk, sedih dan pilu rasanya. Selama ini suamiku selalu hangat, tidak pernah sekalipun acuh atau marah sebesar apapun salahku.
"Pergilah kalau itu membuatmu senang. Aku ijinkan." jawab mas Imam tanpa senyum.
"Aku berangkat dulu. Nanti hati-hati saat pergi." pesannya sambil mencium keningku, tapi terasa hambar, tak sehangat biasanya.
Pak Andri membukakan pintu, mas Imam masuk mobil dan aku menunggu sampai mobil keluar dari gerbang.
**Siang hari dirumah Nissa**
"Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu Hawa?" Nissa berteriak keras.
"Kamu boleh sedih tapi jangan gegabah mengambil keputusan." imbuhnya dengan nada masih keras.
"Apa dayaku Nissa, aku merasa tidak punya Pilihan lain." jawabku lemah.
"Pasti ada solusi lain Hawa. Hentikan ide gilamu itu!!"
Aku diam menangis, sedangkan Nissa yang biasanya bersikap lembut, riang, dan menyenangkan tiba\-tiba bisa berubah bersikap keras dan tegang kepadaku. Kenapa orang\-orang yang biasanya begitu lembut dan menyayangiku berubah sikapnya kepadaku."
"Aku tak punya siapa\-siapa lagi Nissa untuk aku bicara selain kamu, cuma kamu sahabat terbaik yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Kamupun tau kamulah yang selalu kupercaya diantara teman2ku yang lain. " aku memelas kepadanya. Dia tetap kukuh dan tidak bergeming.
"Hawa, apa sudah kamu bicarakan dengan Suami dan ibu mertuamu tentang ini?" menatapku tajam.
Aku menundukkan wajahku dan menggelengkan kepala.
*Ssshhh*...!!
"Ada baiknya kamu tidak mengatakan pada mereka, dan kamu lupakan ide gila ini."
"Nissa kumohon bantulah aku. Cuma kamu yang bisa kupercaya membantuku. Bukankah kamu sudah memiliki 3 anak?" belum sempat melanjutkan kalimatku lagi\-lagi Nissa memotong perkataanku dengan kalimat tegasnya.
"Tidak!! Lupakan..!!"
"Nissa, apa lagi yang bisa kuperbuat? Siapa yang bisa menolongku?" tangisku semakin pecah.
Nissa menghampiriku, memelukku erat. Aku tau dia tidak akan pernah benar\-benar tega kepadaku.
"Hawa, kamu tenanglah dulu. Bersihkan kotoran dihatimu, jernihkan pikiranmu. Ber*Istighfarlah*. Ada baiknya sekarang kamu wudhu. Insya Allah itu akan membuatmu lebih tenang. Atau setelah wudhu sholatlah 2 raka'at dan mintalah ketenangan hati dan pikiranmu agar kamu bisa mencari solusi terbaik sesuai petunjuk Allah." Mata kami saling bertatap. Kulihat matanyapun sembab. Aku mengangguk dan pergi wudhu dan sholat dirumah Nissa.
**FITRIA ANNISSA**, *adalah satu\-satunya sahabat yang kupercaya menjaga semua rahasia dan keluh kesahku. Bagiku dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia seorang janda dengan 3 orang anak. Usianya 4 tahun lebih tua dariku. Suaminya meninggal karena sakit jantung, dan sampai saat ini dia belum menikah lagi. Dia wanita yang luar biasa tangguh, sosok ibu terbaik untuk ketiga anaknya. Meskipun dia bercerita dulu menikah muda diusia 16 tahun, tapi dia adalah istri yang taat pada suaminya dulu. Menjadi single parent tentu tidak mudah meskipun dirumah dibantu ART dia tetap harus bekerja dibutik pakaian muslimah miliknya. Sebelumnya aku sudah menduga Nissa pasti akan menolak ideku dengan ingin menjadikan dia sebagai maduku. Yaa.. kubayangkan akan sulit tetapi akupun ingin suamiku memiliki anak, dan ibu memiliki cucu. Toh anak mereka nanti juga akan menjadi anakku juga, seperti sekarang ketiga anak Nissa sangat dekat denganku. Kupikir jika Nissa dan mas Imam menikah maka anak mereka akan lebih dekat denganku.
Lagipula Nissa wanita yang subur, karena diusianya yang dulu 33 tahun dia sudah memiliki 3 orang anak. Jika menikah dengan suamiku pasti mereka akan segera mendapatkan keturunan. Semua ini berkecamuk dalam pikiranku, seperti perang batinku. Sakit sudah pasti sangat sakit jika aku harus berbagi suami. Tapi apa iya aku harus egois memiliki mas Imam seorang tapi aku tidak memikirkan perasaannya dan Ibu. Jahat sekali*\*..!