Dzuriat

Dzuriat
Restu Ibu Bag. II


"Apa Helwa mau menjadi madumu, menjadi istri kedua bagi Imam. Sedangkan untuk gadis sepertinya dia bisa menikah dengan pria lajang, menjadi istri pertama dan satu-satunya." ibu mengkerutkan dahinya.


"Entahlah ibu, tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Apa ibu mau membantu Hawa melamar Helwa untuk mas Imam?"


"Entahlah, ibu perlu waktu untuk berpikir jernih. Ibu shock dengan keputusanmu. Ibu juga perlu bicara dengan suamimu."


aku paham dengan apa yang ibu pikirkan dan ibu rasakan saat ini.


***


Kuhempaskan tubuhku diatas ranjang. Kepalaku berdenyut, terasa berat karena terlalu lama menangis. Terasa menyesakkan dada, aku sangat tau akan resiko ini. Resiko rasa sakit karena keputusanku sendiri yang meminta suamiku menikah lagi itu ibarat aku sedang membelah dadaku dengan pisau berkarat. Sakit, dan tidak mudah.


Tapi disudut hati yang lain aku bersyukur, setidaknya dari pembicaraanku dengan ibu kemungkinan besar ibu akan setuju, meskipun itu juga tidak akan mudah ibu menerimanya dengan ikhlas. Aku tidak mau ada seorangpun iba dengan diriku, aku akan selalu membuktikan bahwa aku tangguh, bahkan disaat aku terdesakpun aku harus tetap kuat, meskipun dengan solusi-solusi yang pahit, konyol, atau entah apalah orang akan mengatakannya.


Kuambil ponselku dari dalam tas, aku ingin memastikan jam berapa mas Imam pulang kerja. Supaya aku bisa bersiap-siap untuk masak makan malam kami.


Aku : Assalamu'alaikum.. Mas nanti pulang jam berapa? Send.


Ku buka menu galeri diponselku. Kulihat foto-foto kenanganku dengan mas Imam dan juga ibu. Akh indah sekali untuk kukenang, betapa beruntungnya aku ditempatkan diantara mereka, yang selalu melimpahiku kasih sayang dan berusaha membahagiakanku. Air mataku kembali mengalir.


Drrttt... drrrtt.. Mas Imam membalasku.


Mas Imam : Wa'alaikumsalam zaujati, aku minta maaf sepertinya gak bisa menemanimu makan malam dirumah. Aku pulang agak terlambat sayang ada urusan yang harus aku kerjakan.


Aku : Baiklah, hati-hati mas. Aku menunggu dirumah. send.


Huufft... Aku beralih WA mbak Sum.


Aku : Mbak Sum, tolong nanti sehabis maghrib buatkan aku bihun goreng dan antar keatas. Bawakan juga jus. send.


Mbak Sum : Siap bu.


Aku bangkit dari ranjang, berendam dan mandi pasti akan membuatku lebih segar.


*Ditempat yang berbeda, disaat yang sama.*


IMAM POV


Aku terkejut ketika membuka pintu kantorku sudah ada ibu yang duduk disofa.


"Selesaikan pekerjaanmu." menoleh kearah Rena, sekretarisku yang berjalan mengikuti dibelakangku.


"Baik pak." sambir berjalan mundur dan berlalu.


Ku hampiri ibu yang sedang melamun, kulihat dari wajahnya ada beban yang sangat berat.


"Akh ibu baru datang. Maaf ibu tidak sadar kamu sudah disini." sambil mengusap lembut rambutku.


"Ada apa bu, kenapa ibu datang kekantorku. Ada masalah apa, ceritakan pada Imam." sambil kurangkul pundaknya.


Ibu menghela nafas berat, diam sesaat sambil menatapku lekat.


"Nak, tadi Hawa datang kerumah," ibu melanjutkan kalimatnya, air matanya mulai mengalir.


"Iyaa bu lalu kenapa?"


"Istrimu mengatakan dia minta ijin dan restuku."


Deg..!! Seketika aku seperti kehilangan keseimbangan. Badanku terasa lemas, pikiranku seketika kosong.


Hawa, kamu kenapa benar-benar nekat. Bahkan tidak kusangka ijinmu hari ini untuk kerumah ibu adalah untuk mengatakan masalah ini pada ibu.


"Lalu apa yang Hawa katakan bu?" tanyaku lemah.


"Dia bilang sudah mengatakan ini padamu. Dan dia sudah menemukan calon untukmu. Dia meminta ibu menemani dia melamar gadis itu untukmu." ujar ibu pelan dan lemah.


Ku hirup nafas dalam-dalam. Ku isi rongga paru-paruku dengan oksigen, aku butuh nafas segar yang harus membuatku tetap waras saat ini.


"Imam, kenapa kamu menyetujui ini? Apa kamu juga menginginkannya?" tatapan menyelidik ibu membuatku merasa bersalah. Haruskah ku ceritakan semuanya agar tidak ada kebohongan yang hanya akan menjadi masalah dimasa depan.


" Imam tidak menyangka Hawa akan seserius dan senekat ini bu. Imam mengiyakan karena tiap membahas itu Hawa selalu memaksa dan akhirnya menangis histeris."


"Apa mungkin selama ini tanpa kita sadari kita terlalu menekan perasaannya?" ibu menerka-nerka.


"Entahlah bu. Lalu siapa gadis yang mau Hawa lamar untukku itu?" kutatap mata ibu, ada penasaran juga didalam hatiku.


"Helwa. Putri sulung bu Umi. Apa kamu mengenal dia?" aku merasa tidak terkejut dengan jawaban ibu. Meskipun tadinya ada rasa penasaran akupun sudah menduga pasti gadis itu pilihan Hawa.


"Baru sekali ketemu bu. Ibu, sebaiknya jangan terlalu memikirkan hal ini. Jagalah kesehatan ibu. Atau sementara ini tinggallah dirumah kami, sambil ibu temani Hawa dan bujuk dia membatalkan rencananya sebelum terlanjur lebih dalam."


"Baiklah, lagi pula sebaiknya kita bicara bertiga supaya lebih jelas. Ibu rasanya belum siap jika harus menerima kamu nanti menikah lagi."


"Imampun sama bu. Imam bahkan tidak ada pemikiran kesitu." Ya sudah sekarang ibu pulang ya, ibu mau diantar pak Andri?" aku coba menghindari obrolan yang akan membuat ibu berpikir lebih berat lagi.


"Nggak usah, ibu diantar sopir ibu kok. Ibu mau pulang kerumah dulu ambil beberapa baju ganti baru kerumahmu."


"Baik bu, ku antar ibu kebawah ya.."


Ku tuntun ibuku berdiri, dan kurangkul sepanjang perjalanan mengantarnya.