Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Delapan


Menjadi putri dari bangsawan Lim membuat Yoona sejak kecil sudah didikte dengan peraturan dan etiket yang tinggi. Yoona kecil selalu berada di ruangannya. Membaca banyak buku sampai gurunya pun menyerah untuk mengajarinya.


Yoona terlalu cerdas untuk anak usia 8 tahun.


Jadilah ayahnya mengirimnya ke istana. Masuk ke sekolah kerajaan bersama anak-anak bangsawan elit. Anak-anak raja dan anak-anak mentri. Dan Yoona menjadi satu-satunya anak gadis di antara puluhan anak laki-laki.


Tuan Lim, ayah Yoona membelikan sebuah rumah di dekat istana yang nantinya akan dihuni oleh kakak Yoona, Lim Yunho dan juga Yoona. Hanya mereka berdua dan para pelayan dan budak. Tuan Lim tidak bisa meninggalkan rumahnya karena pekerjaannya.


Sejak muda, sudah banyak menteri yang melirik Yoona dan menginginkannya untuk menjadi menantu mereka. Yoona cantik, pintar, berwawasan luas, etiket yang melebihi kelas putri kerajaan, dan juga memiliki kebaikan hati yang jarang dimiliki oleh para putri bangsawan.


Lamaran terus datang ke rumah tuan Lim. Namun tuan Lim menahan semua surat lamaran itu. Dia berkata, biarkan Yoona tumbuh sedikit lagi agar lebih matang untuk menikah. Mungkin 2 sampai 3 tahun ke depan.


Seorang gadis bangsawan berusia 11 tahun sudah harus menikah karena jika tidak akan dianggap membawa nasib buruk bagi keluarga itu.


Kegiatan Yoona setiap hari hanya belajar di kelas lalu mengurung diri di dalam perpustakaan istana. Membaca berbagai buku. Baik buku yang diperuntukan untuk anak seusianya dan juga buku untuk orang yang lebih dewasa. Bahkan Yoona bisa menghapalkan satu buku yang dipelajari oleh putra mahkota yang baru lulus kemarin.


Srang. Srang. Srang. Suara peraduan pedang terdengar sangat nyaring di telinganya. Dan itu membuat Yoona sedikit terganggu. Selama dia belajar di perpustakaan, Yoona baru mendapatkan gangguan seperti ini.


"Ada apa?" tanya Yunho, menatap adiknya yang sedikit cemberut dan menutup buku yang sedang dia baca.


Dengan bibir maju, Yoona berucap dengan nada kesal, "Aku tidak bisa belajar. Suara di luar benar-benar berisik, kakak."


Yunho terkekeh melihat sikap adiknya yang satu ini. Siapa yang akan menebak kalau putri bangsawan Lim bisa cemberut dan kesal karena hal sepele seperti ini. "Itu hanya suara orang yang sedang berlatih pedang. Sudah belajar lagi sana."


"Tidak bisa." ucap Yoona semakin kesal. Berjalan ke arah jendela perpustakaan yang tertutup. Membukanya dan pemandangan di mana asal suara itu berada. Di sana ada sebuah taman yang kosong, tidak ada pohon atau pun bunga. Sepertinya taman yang belum jadi.


"Ah, putra mahkota sedang berlatih ternyata," ucap Yunho yang sudah berdiri di belakang Yoona. Yunho tertawa lirih seraya berkata, "Putra mahkota salah memilih orang untuk menjadi lawan berlatihnya."


Yoona melirik kakaknya sekilas lalu kembali menghadap ke depan. Menatap orang asing yang sedang berlatih pedang dengan putra mahkota. "Dia siapa?"


"Kau tidak mengenalnya?" dan Yoona yang menggeleng menjadi jawabannya. "Dia pangeran kedua, Choi Siwon. Sang jendral kecil."


"Dia jenderal?" tanya Yoona tak percaya.


"Hahahaha... bukan. Itu hanya julukan yang diberikan oleh orang-orang untuknya. Karena di umurnya yang keenam dia sudah bisa mengangkat pedangnya."


Yunho mengangguk. "Kau lihat, umurnya baru 11 tahun dan dia sudah bisa mengalahkan putra mahkota yang usianya sudah 17 tahun. Benar-benar seorang jenderal kecil."


Yoona mengangguk dan melihat pertarungan antara dua saudara itu. Dan tak lama kemudian seperti yang dikatakan oleh Yunho. Jendral kecil itu berhasil mengalahkan putra mahkota, siswa terbaik di kelas.


Sosok jenderal kecil itu benar-benar mampu membuat Yoona terpaku. Di setiap kelas usai, bukan perpustakaan yang Yoona tuju, melainkan lapangan latihan para prajurit. Hanya untuk melihat dari balik dinding, sosok yang surat lamarannya diterima beberapa hari yang lalu.


Yoona menyukai sosok Siwon saat usianya masih 8 tahun. Orang yang berhasil membuatnya beralih dari perpustakaan.


×××


Yoona menutup bukunya. Malam sudah semakin larut tapi dia malah sibuk membaca. Tidak, lebih tepatnya dia sedang mengakali diri sendiri agar tidak terlibat suasana canggung karena harus tidur di atas satu selimut dengan suaminya.


Siwon sudah tidur sejak tadi. Sepertinya benar-benar kelelahan karena untuk pertama kalinya berperang dengan rumput liar bukan prajurit. Yoona mendekat setelah mematikan lilin di meja belajar, sehingga kamar itu hanya diberi pencahayaan dari lampu teplok di dinding.


Yoona berbaring di samping Siwon. Menatap wajah pria itu dari samping. Wajah yang dia sukai sejak 10 tahun yang lalu. "Kenapa aku bisa jatuh cinta pada orang sepertimu, suamiku?"


Ingin sekali. Sejak dulu. Sejak dia berusia 16 tahun ketika pernikahan mereka sudah sangat sah, untuk melakukan hubungan yang lebih intim seperti pasangan suami-istri pada umumnya bukan hanya status saja, Yoona ingin menyebut Siwon bukan dengan embel-embel Yang Mulia atau pun pangeran. Tapi suamiku.


Seperti wanita-wanita lain yang memanggil suami mereka demikian.


Sebuah panggilan hak kepemilikan akan suami mereka.


Yoona mencoba lebih dekat hingga hidungnya bersentuhan dengan lengan Siwon. Memejamkan matanya dan mencium bau yang sangat disukainya saat pertama kalinya dia tidur dalam pelukan Siwon di malam pertama mereka. Wangi khas seorang pria, tapi wangi Siwon berbeda tidak seperti wangi pria lainnya.


Begitu menenangkan dan juga begitu tajam. Melemahkan para wanita yang menciumnya secara langsung.


Beruntunglah kekasih Siwon itu, dia dapat mencium wangi Siwon setiap waktu nanti tidak seperti dirinya yang selama 8 tahun bersama Siwon hanya sekali tidur dalam dekapan sang suami.


Itu pun karena keterpaksaan dari ritual malam pertama kerajaan.


"Meski hanya sebulan, bolehkah aku berharap kalau kau akan bersikap baik kepadaku seperti kau bersikap pada kekasihmu? Walau sebentar, ku mohon berikan aku kenangan yang indah." bisik Yoona hampir tak terdengar sebelum kantuk merenggut kesadarannya.


×××