Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Tujuh Belas


Meski hanya sandiwara namun semuanya terasa nyata.


Teramat sangat nyata. Sampai jika ini hanya mimpi, Yoona berharap tidak pernah terbangun dari tidurnya yang sangat indah.


Siwon benar-benar memperlakukannya dengan sangat manis hingga membuat Yoona hampir menangis. Menangis karena bahagia. Diperlakukan seperti seorang istri dari orang yang menjadi suaminya.


Siwon tidak melepaskan Yoona sampai Baekhyun memanggil dari luar rumah. Apakah mereka sudah bangun apa belum. Padahal saat ini matahari baru juga terbit. Belum terlalu terang cahaya di luar.


"Siwon-ssi, kak Byun datang." bisik Yoona mencoba melepaskan pelukan Siwon. Walau batin tak rela karena jika demikian waktunya untuk bersama Siwon berkurang. Tapi jika tidak segera menemui tamu mereka, bisa-bisa orang itu masuk.


"Kak Choi, Kak Lim? Apakah kalian belum bangun?" teriak Baekhyun lagi.


Akhirnya dengan terpaksa, Siwon melepaskan pelukannya bersama Yoona. Mendengus sebelum duduk dan berdiri, keluar dari kamar untuk menemui Baekhyun sebelum orang itu berteriak lagi dan membuat warga lainnya terganggu.


"Iya, aku sudah bangun," ucap Siwon yang keluar dari kamar dengan muka bantal. Melihat ke arah Baekhyun yang berdiri di halaman rumahnya dengan pakaian yang sudah rapi dan tampak bukan seperti orang bangun tidur. "Kau sudah rapi di jam segini?" tanyanya heran.


Baekhyun berdecak. "Tentu saja. Ini sudah kebiasaan sejak kecil. Tidak bisa bilang bahkan jika aku berniat untuk kesiangan pun tidak bisa." kata Baekhyun memberi tahu. Wajahnya terlihat agak kesal saat memberitahunya.


"Kebiasaan?" topik ini sepertinya mampu membuat Siwon terbangun sepenuhnya dari rasa kantuknya. "Bagaimana bisa menjadi kebiasaanmu?" tanya Siwon penasaran.


Selama ini tidak pernah yang namanya Siwon bangun ketika subuh atau fajar. Dia selalu bangun ketika matahari sudah agak naik sedikit. Mungkin antara jam 7 atau jam 8 dia baru bangun. Tapi ini, orang di depannya sudah dalam keadaan rapi di subuh hari.


"Ibuku selalu memukul bokongku sejak kecil untuk membangunkanku jika aku bangun telat sedikit," Baekhyun bercerita. "Kalau pakai tangan tak masalah. Dia pakai rotan yang sangat tipis dan panjang. Aku tidak ingin mengingat rasanya. Jadilah aku selalu bangun sebelum subuh agar aku tidak mendapati bokongku sakit karena itu. Tapi ibu bukan orang yang kejam. Dia hanya mau aku tidak menjadi pemalas saja."


Berbeda dengan dirinya. Sejak dia lahir, dia hanya tidur dalam gendongan ibunya dapat dihitung dengan jari. Karena ketika dia lahir sudah diberikan kepada para pelayan untuk membesarkannya. Hanya saat makan malam atau sarapan dia akan bersama sang ibu kadang juga dengan sang raja. Itu pun jika raja tidak sibuk.


"Eh, kenapa jadi membicarakanku?" tanya Baekhyun heran. Setelah menampar pipinya agar fokus dengan tujuannya, Baekhyun pun berkata, "Kak Choi. Kita akan menjual semua ubinya hari ini, 'kan? Aku sepertinya tidak bisa membantumu berjualan di pasar karena aku dan Taeyeon akan pulang ke rumah ibuku. Aku lupa kalau sekarang hari kami untuk menemuinya."


"Lalu bagaimana dengan ubi-ubinya? Aku tidak akan kuat membawanya seorang diri ke pasar."


Baekhyun menunjuk ke arah gerobak di luar pagar Siwon. "Aku meminjam dari keluarga Cho. Kakak bisa membawa ubi dengan itu. Tenang saja, aku akan membantumu membawanya. Hanya saja aku tidak ikut berjualan saja."


"Baiklah. Aku akan berjualan dengan Yoona saja." angguk Siwon. Kini berjalan kemudian duduk di amben yang juga diikuti oleh Baekhyun.


"Kak Lim belum kelihatan. Apakah dia belum bangun?"


"Dia sudah. Aku hanya menahannya saja."


Baekhyun menyeringai. "Dasar pengantin baru, tidak mau dipisahkan."


Andai Baekhyun tahu, bahwa mereka sebenarnya adalah pasangan yang sudah menikah lebih dari 8 tahun.


×××