
Setelah Siwon pergi ke ladang dan setelah rumah rapi, Yoona memutuskan untuk pergi ke pasar antar desa. Dia ingin membuat beberapa makanan yang enak dan banyak. Hari ini, adalah panen ubi yang sudah dijadwalkan. Jadi banyak yang membantu Siwon di ladang.
"Paman, berapakah harga ayam ini?" tanya Yoona pada bibi penjual ayam. Yoona berjongkok untuk melihat beberapa ayam yang sudah dipotong-potong.
Paman itu meletakkan pisaunya yang sangat besar itu di sisinya lalu menunjuk ke arah jam yang diinginkan oleh Yoona. "Satu kilo harganya 4 Yang."
Yoona mengambil dompet kainnya dan melihat isinya. Di sana ada sekitar 20 keping uang Yang. Jika diambil 4 keping, berarti uangnya tersisa 16 Yang. Siwon belum memberikannya uang karena ubi-ubi kepala desa baru dipanen hari ini. Mungkin baru dijual beberapa hari ke depan.
"Bagaimana kalau 2 Yang, paman?"
"2 Yang kakekmu yang menjualnya! Harga ayam sekarang mahal."
"4 Yang itu terlalu mahal untuk 1 kilo ayam. Tidak ada yang membelinya." Yoona masih mencoba menawar walau ini pertama kalinya untuknya.
"Tidak ada. Harganya tetap 4 Yang."
"Ayolah, paman. Kau jual padaku harganya 2 Yang."
"4 Yang."
"2 Yang, paman."
Paman itu menoleh ke sekitar dan mendapati dirinya menjadi tontonan oleh orang-orang di sekitar. Pertengkaran hanya perkara harga ayam benar-benar membuat mereka begitu berminat untuk mendengarkan kelanjutannya. Tidak. Ini tidak baik untuk usahanya. Bisa-bisa tokonya gulung tikar karena semua orang mencoba untuk menawar dengan harga murah untuk ayam dagangannya.
"Baiklah. Aku akan memberikan ayam ini dengan harga 3 Yang. Tidak ada penawaran lain atau lidahmu ku potong dengan pisau ini?"
Yoona mengangguk dengan wajah ngeri karena pisau yang diangkat oleh paman itu. Walau hatinya sedang menjerit kesenangan karena berhasil menghemat 1 Yang untuk tidak keluar.
Yoona memberikan 3 keping uang tembaga itu dan menerima potongan ayan yang dibungkus dengan daun. Memasukkannya ke dalam keranjang dan kemudian pergi setelah berpamitan. Membeli bumbu-bumbu dapur lainnya yang dia butuhkan untuk memasak.
"Sepatu! Sepatunya, nona, nyonya! Harganya murah dan kualitasnya sangat bagus! Ayo dilihat jika tidak percaya!"
Yoona mendekati sebuah toko yang ramai oleh pembeli yang rata-rata adalah perempuan. Di sana menjual berbagai sepatu dengan warna dan corak yang cantik. Salah satunya adalah sepatu dengan warna merah muda dengan corak bunga sakura. Sangat cantik dan indah.
Jangan pejamkan matamu sepanjang malam
Tetaplah menatapku agar aku senantiasa terjaga
Jangan pula berpaling muka begitu kejam
Pada telaga di matamu
Biarkan aku berkaca
"Syair yang sangat indah." Puji Yoona sambil bertepuk tangan ringan
Jungkook menoleh kepada Yoona dan melemparkan sebuah senyuman. "Aku tidak tahu kalau kau tahu bahwa itu syair." katanya demikian.
"Siapa pun akan tahu hanya dari nada yang digunakan," Yoona mengatakannya sambil mengingat bahwa putra mahkota sangat ahli dalam bersyair. Hampir setiap acara kerajaan, putra mahkota pasti diminta untuk membacakan beberapa syair yang mampu membuat wanita-wanita jatuh cinta kepadanya.
Sayangnya Yoona sudah mencintai Siwon lebih dulu. Bahkan sampai sekarang pun sepertinya tidak ada yang bisa.
"Beberapa bangsawan bahkan tidak bisa membedakan antara itu adalah syair atau mantra," tukas Jungkook. "Tapi aku salut denganmu. Kau sangat berwawasan luas." puji Jungkook.
Yoona hanya tersenyum. "Aku hanya suka membaca buku saja. Jadinya sedikit tahu tentang syair." jelasnya.
"Wah, hebat. Apakah aku meminta pertolongan padamu? Sebentar lagi ada perjamuan para pejabat dan kami para sarjana diminta untuk datang dan membacakan mereka beberapa syair. Tapi aku merasa kalau caraku membacanya tidak baik."
"Tidak," Yoona menggeleng, tidak terima dengan ucapan Jungkook yang merendahkan dirinya sendiri. "Kau adalah orang yang pandai dalam membaca syair." katanya jujur.
"Benarkah?" tanya Jungkook lalu mengulum senyum saat Yoona mengangguk. Ternyata saran Taehyung sangat berguna.
"Ku lihat gadis itu sepertinya gadis berpendidikan." ucap Taehyung di perjalanan pulang mereka dari pesta. Hanya tinggal mereka berdua, yang lain sudah masuk ke rumah masing-masing.
Jungkook mengangguk. "Ku rasa juga demikian. Tapi pakaiannya, dia seperti dari rakyat miskin."
"Bisa jadi, dia sebelumnya tinggal di kota dan bekerja di rumah seorang bangsawan."
"Lalu apa hubungannya?"
"Katanya kau siswa paling cerdas tenyata tidak," ejek Taehyung yang mendapatkan tatapan tajam dari Jungkook. Taehyung hanya tertawa dengan hal itu. "Maksudku, dia sering melihat bagaimana bangsawan bertingkah laku sehingga dia pun jadi seperti berasal dari bangsawan dengan etiket yang tinggi. Dan mungkin anak dari bangsawan itu mengajarinya caranya membaca dan menulis."
"Itu mustahil."
"Kalau begitu buktikan saja. Jika kau bertemu dengannya, bacakanlah sebuah sajak. Siapa tahu dia mengerti dengan yang kau baca."
Dan benar. Yoona mengetahui apa yang dia baca. Sebuah syair tentang seorang pria yang begitu mendambakan wanita yang dia cintai.
"Jadi kau mau membantuku agar aku tidak membuat malu keluargaku?" tanya Jungkook. Cukup lama menanti jawaban sampai Yoona akhirnya mengangguk dengan ragu. "Jeon Jungkook." Jungkook memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"Lim Yoona." jawab Yoona tersenyum dan mengabaikan tangan yang terulur meminta jabatan tangan dengannya.
×××