
Angin malam berhembus dengan sangat kencangnya. Namun agaknya itu tidak mempengaruhi sang nyona muda untuk berdiri di atas beranda kediamannya. Malam makin larut bersama dengan suara-suara anjing yang saling bersahutan.
"Nyonya Lim. Bukankah lebih baik Anda menunggu di dalam saja?"
Yoona, sang nyona muda hanya melirik tanpa berbalik. "Tidak. Aku akan menunggu di sini sebentar lagi." tolaknya pada dayang Cho, dayang yang setia menemaninya sejak pertama kalinya dia menginjakkan kakinya ke istana ini.
"Tapi udara semakin dingin, nona. Setidaknya Anda harus menggunakan selimut sutra ini."
Namun Yoona mengabaikannya. Dinginnya udara takkan mampu mengalahkan kegundahan hatinya. Matanya masih tetap menatap ke arah gerbang kediaman sang pangeran yang bersisihan dengan kediamannya.
Sang pangeran, tidak, suaminya belum pulang. Setahunya, Siwon hanya memiliki jadwal untuk berlatih pedang sebelum dia diangkat sebagai jenderal nantinya. Harusnya sudah selesai sejak petang tadi, namun suaminya tidak ada tanda-tanda kehadiran Siwon memasuki kamarnya sendiri.
Baru saja Yoona akan menyerah dan memilih masuk ke dalam kamar, matanya sudah melihat siluet suaminya baru saja masuk ke dalam kediamannya. Dengan sebuah senyuman lebar yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
×××
Lim Yoona tahu. Tahu semuanya. Pernikahannya tak pernah memiliki dasar cinta. Hanya sebuah perjodohan untuk memperkuat ikatan antara distrik selatan dan tongkat pemerintahan. Dan Yoona pun tahu. Suaminya tak pernah sedikit pun mencintainya.
Bahkan malam pertama mereka satu tahun yang lalu pun tak meninggalkan bekas yang berarti dalam pernikahan mereka.
Dan senyuman Siwon di pagi ini membuat Yoona sedikit risih saat mereka sarapan bersama di beranda kediaman Siwon. Indra penciumannya pun dapat mencium bau wewangian perempuan.
Siwon tidak akan mandi sebelum sarapan dan belajar. Dia hanya akan mandi ketika bayang-bayang matahari mengenai tombak di arah jam sembilan. Ini masih pukul 7 pagi.
Wewangian yang bukanlah wewangian dayang-dayang sang pangeran. Bukan pula wewangian dari dirinya. Ini wewangian perempuan lain.
Mereka tidak tinggal dalam kediaman yang sama dan tak mungkin kamar Siwon memiliki bau dirinya ketika bahkan dirinya tak pernah sekali pun memasuki kamar itu.
"Sepertinya hari Anda kemarin sangat indah, pangeran. Apa saja yang Anda lakukan?" tanya Yoona sambil menuangkan secangkir teh buatannya pada Siwon setelah sarapan mereka selesai.
"Ya, Anda benar. Saya tahu semuanya. Tapi ada yang saya tidak tahu. Kegiatan apa lagi yang Anda lakukan setelahnya," Yoona melirik ke arah Siwon yang terdiam tanpa bergerak. "Sepertinya Anda bertemu dengan seseorang hingga Anda terus tersenyum sejak tadi. Apakah dia cantik?"
Siwon menatap Yoona yang sedang menatapnya. Tangannya mengibas ke arah dayang-dayang yang sedari tadi mereka sarapan berada di sana. Ada pembicaraan yang tak boleh didengar oleh orang lain.
"Kau tahu?" tanya Siwon. Dia menebak kalau Yoona sudah tahu, tapi melihat mata Yoona yang membulat membuat tebakannya salah total. Yoona tidak tahu apa pun ternyata.
Setelah mencoba mengontrol diri, Yoona pun menjawab, "Tidak. Saya hanya menebak. Alasan kenapa Anda selalu pulang terlambat dan ada wangi perempuan di tubuh Anda pagi ini. Sepertinya malam Anda kemarin sangat indah."
Siwon menutup bukunya. Meletakkannya di sisi kanan meja. "Ya. Aku memiliki perempuan lain di luar sana. Dan seperti tebakanmu, semalam aku telah menghabiskan waktu dengannya."
Jujur sekali dan sangat menyakitkan. Wajah Siwon yang datar menatapnya menambah sakit di hatinya. Tapi ini konsekuensinya sebagai istri seorang pangeran. Harus siap jika sang suami memiliki kekasih lain di luar sana.
"Apakah Anda akan menjadikannya selir Anda?" tanya Yoona.
"Tidak."
Jawaban Siwon begitu aneh baginya. Sangat telihat bahwa pangeran muda itu sangat mencintai kekasihnya. Lantas kenapa tak ingin menjadikannya selir. Apakah mereka akan melakukan hubungan percintaan tanpa ikatan pernikahan.
"Aku akan jujur padamu sekarang. 8 tahun sudah kita menikah. Tapi tak pernah ada sedikit pun rasa kepadamu."
Ini menyakitkan. Sungguh. Yoona rasanya ingin menjerit. Sudah ia duga. Sejak pernikahannya dimulai, sang suami tak pernah memiliki rasa untuknya. Tak pernah ada tatapan cinta yang dia terima. Tak pernah ada sentuhan sayang. Hanya sentuhan antara pangeran dan putri. Hanya itu.
"Dan aku jatuh cinta pada kekasihku. Aku tidak ingin menahanmu di sini, kau pantas mendapatkan yang lain yang akan mencintaimu dengan sepenuh hatinya. Aku akan mengatakannya pada ayahanda, bahwa aku ingin menikah dengan kekasih ku dan bercerai darimu. Jadi lebih baik kau siap-siap untuk meninggalkan kediamanmu beberapa hari ke depan."
Setelah mengatakan itu, Siwon pergi meninggalkan Yoona yang menggenggam erat gelas teh di tangnnya. Saking eratnya genggaman itu mampu membuat gelas itu pecah dan jatuh berserakan dengan darah yang berceceran di atas lantai.