Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Lima Belas


Rindu itu sebuah penyakit tapi tidak ada obatnya. Dibawa ke tabib pun percuma. Mereka tidak punya racikannya. Hanya satu penyembuhnya, yaitu bertemu dengan orang yang dirindukan.


Dan Siwon sedang merindu saat ini. Duduk di amben sambil menatap langit yang tak tertutup awan. Membuat bulan bersinar dengan sangat terang dengan teman kecilnya yang berkedip-kedip jauh.


Terhitung sudah seminggu dia di sini. Menahan rindu karena berpisah dari sang kekasih. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Apakah Min Young selalu menanti kedatangannya setiap saat? Siwon mengkhawatirkan hal itu karena dia pergi tanpa memberikan salam bahwa dia akan berbakti beberapa waktu dan mereka tidak akan bertemu selama itu juga.


Jika saja desa ini tidak jauh dari ibu kota. Jika saja kekasihnya yang menemaninya. Pasti sekarang Siwon sedang melepas rindu. Menggenggam tangan sang kekasih. Mencium tangannya yang wangi. Rasanya begitu menyenangkan walau hanya membayangkan saja.


Rindu itu memang berat. Dan Siwon harus meminum ramuan pahit bernama kenyataan bahwa dia masih memiliki sekitar 3 minggu lagi untuk berjumpa dengan obatnya. Bisakah waktu berputar lebih cepat mulai sekarang?


"Min Young-ah, bagaimana kabarmu saat ini? Aku sangat merindukanmu." ucap Siwon penuh putus asa. Dia benar-benar ingin bertemu dengan kekasihnya.


Siwon menoleh ke arah kamar yang masih menyala. Yoona belum tidur, Siwon tahu akan hal itu. Wanita itu sedang membaca banyak buku. Entah untuk apa. Sejak dua hari yang lalu selalu membaca buku yang berisi sastra tiongkok. Dari cerita yang Taeyeon katakan padanya, dua hari ini Yoona sering bertemu dengan seorang sarjana saat dia pergi ke ladang.


Belum juga mereka bercerai dan Yoona sudah menemukan seseorang untuk dia nikahi setelah ini.


Siwon tidak tahu bagaimana rupa sarjana itu. Tapi dari gambaran cerita, nampaknya pemuda itu berasal dari keluarga terpandang. Setidaknya jika Yoona menikah dengan sarjana itu, hidupnya akan terjamin dan masih dalan batas bangsawan. Maka Siwon pun takkan khawatir dengan hal itu.


"Siwon-ssi. Kau belum ingin tidur juga? Bukankah besok kita akan mulai berjualan di pasar?"


Siwon tersadar dari lamunannya dan mendapati Yoona berdiri tak jauh darinya. Dia lantas menggeleng sambil tersenyum. "Aku hanya ingin menikmati angin malam sebentar lagi," itulah jawaban yang Siwon keluarkan. "Bagaimana denganmu? Bacaanmu belum selesai?"


"Sudah. Aku sudah selesai dengan itu."


Siwon mengangguk. Sejenak menatap Yoona yang berdiri menunduk di depannya sambil memainkan rok yang istrinya itu gunakan. "Ada apa?"tanya Siwon saat menyadari bahwa gelagat yang dikeluarkan oleh Yoona adalah gelagat orang ingin bertanya namun mulut tak bisa bertanya.


Yoona menatap Siwon ragu. Namun inilah kesempatannya. Mungkin dia tidak akan pernah merasakannya untuk seumur hidupnya setelah semua ini selesai. Yoona harus memanfaatkannya. Ya harus. Karena itu akan menjadi kenangan yang akan dia ingat selamanya.


"Siwon-ssi," panggil Yoona. Kini berani menatap Siwon tepat di matanya. "Sebelumnya aku tidak pernah meminta sesuatu apa pun selama ini. Tapi bolehkah aku meminta satu untuk dikabulkan?" tanya Yoona meminta izin.


Menjadikan hal itu sebagai salah satu bukti bahwa Yoona tidak pernah mencintainya tetapi mencintai putra mahkota.


Dan pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan karena Yoona mengira bahwa yang akan menikah dengannya adalah putra mahkota bukan sang pangeran kedua yang ketika cukup umur nanti akan meninggalkan istana. Melepaskan jabatan sebagai seorang pangeran menjadi seorang jendral.


"Ya. Aku akan mengabulkan apa pun keinginanmu itu."


Seharusnya Yoona gunakan hal itu untuk meminta Siwon jangan menceraikannya. Karena Siwon berkata akan mengabulkan semua keinginannya. Tapi Yoona tidak ingin memaksakan hati. Tahu bahwa dia tidak pernah ada di posisi sepenting itu.


"Aku hanya meminta, bisakah kau menjadi suamiku selama bakti di sini?"


"Bukankah aku memang suamimu?"


Yoona menggeleng. "Kau memang suamiku, tapi bukan itu yang aku maksud," ucapnya. "Tapi aku ingin kau memperlakukanku seperti seorang suami yang sangat mencintai istrinya. Seperti kau memperlakukan kekasihmu dengan penuh cinta. Aku menginginkan itu sebelum kita menyelesaikan bakti ini dan sebelum kita pulang dan bercerai setelahnya." kata-kata di akhir kalimatnya begitu tajam dan berat untuk dikatakan.


Tapi memang itu yang akan terjadi setelah ini. Dan sebelum semua itu terjadi, Yoona ingin menjadikan perpisahan mereka bukanlah sebuah kesedihan, tapi sebuah kebahagian. Sehingga ketika dia menangis nanti, tidak ada penyesalan setelahnya karena Yoona sudah melakukan apa yang tak bisa dia lakukan selama ini.


Yoona menyadari kalau Siwon tak kunjung menjawab. Sepertinya sangat sulit untuk dikabulkan. Si bodoh Yoona. Seharusnya dia tahu diri. Suaminya tidak akan melakukan itu karena hati suaminya tidak akan nyaman bersamanya.


"Lupakan saja, Siwon-ssi. Aku hanya sedang berbicara melantur karena mengantuk," ucapnya sambil tersenyum. "Aku tidur dulu. Jangan terlalu lama di luar, Siwon-ssi. Udara malam tidak baik untuk kesehatan." katanya kemudian dan berbalik menuju kamar. Menghapus setitik air mata yang lolos tanpa Siwon ketahui.


Lim Yoona. Mulai sekarang kau harus sadar diri. Itu kata-kata yang hati Yoona katakan padanya. Jangan serakah untuk apa yang takkan pernah dimiliki.


Siwon menutup matanya dengan sebelah tangannya. Helaan napas keluar berikutnya. Begitu berat seperti perasaannya saat ini. Kenapa Yoona mulai meminta itu ketika mereka akan berpisah?


Ketika Siwon melihat ke arah langit siang yang dipenuhi awan. Maka Siwon dapat melihat wajah seseorang tergambar di sana. Begitu cantik dan manis. Orang yang dapat membuatnya jatuh terlalu dalam. Dalam sebuah cinta dan luka. Tak bisa dia genggam dengan kedua tangannya.


×××