
Siwon menyusuri jalan menuju rumah kepala desa. Setelah dia berulang kali bertanya kepada warga yang berpapasan dengannya. Katanya rumah sang kepala desa itu lebih besar dari rumah yang lain dan terdapat pohon sakura di halamannya. Hanya tinggal lurus saja dan Siwon akan sampai.
Kadang Siwon akan mendapati kakek-kakek yang sedang memikul keranjang berisi hasil panen. Kadang juga akan menemukan anak-anak yang saling berlarian sambil membawa alat pancing. Di istana mana mungkin dia akan mendapati pemandangan seperti ini atau bahkan kota di sekitar istana.
Siwon menemukan rumah yang ditunjukkan. Mendekat dan menyapa seorang pria paruh baya yang sedang membenarkan pakaiannya yang terikat agak kendor. "Permisi, Apakah benar ini rumah kepala desa?" tanya Siwon pada pria paruh baya itu.
"Ya. Ini memang rumah kepala desa, rumahku," jawab si pria paruh baya, kepala desa Lee Jang Rin. Melihat pemuda di depannya yang sepertinya masih berusia sekitar 20 tahunan. Dan wajahnya agak familiar. Wajah yang dua hari yang lalu dikirimkan oleh istana kepadanya. "Pangeran kedua, Choi Siwon?" tanya Kepala desa Lee sambil berbisik.
"Ya."
Kepala desa Lee lalu membuka pagar rumahnya dan mempersilahkan Siwon untuk masuk. "Masuklah ke dalam. Kita akan berbicara di dalam saja. Tadinya saya ingin bertemu dengan Anda di rumah Anda. Tapi Anda sudah ke sini terlebih dahulu."
"Jangan terlalu formal padaku, kepala desa. Dan memang seharusnya aku yang datang menemuimu. Aku yang bertamu di desamu ini."
"Tadi tidak bingung mencari rumahku?" tanya Kepala desa Lee setelah mengangguk untuk tidak berbicara terlalu formal dengan Siwon. "Sudah sarapan apa belum? Jika belum aku akan meminta istriku untuk menyiapkan makanan untukmu."
"Tidak perlu. Aku sudah sarapan tadi." ucap Siwon.
Mereka berdua duduk di teras depan kamar. Istri kepala desa, yaitu nyonya Wong menyuguhkan mereka berdua teh khas desa mereka. "Minumlah. Teh ini buatan desa kami. Hasil tanam para warga," ucapnya.
Siwon meminum teh tersebut. Dan benar. Rasanya sangat enak. Belum pernah dia merasakan rasa teh seperti ini. Sepertinya, ketika dia pulang ke istana nanti dia akan membawa beberapa bungkus daun teh lalu meminta pelayan di rumah untuk selalu membuatkannya setiap hari.
"Kepala desa Lee, aku ingin bertanya. Apakah di sini ada pekerjaan yang bisa aku lakukan? Aku akan bekerja apa saja."
Kepala desa Lee mengangguk kemudian terlihat berpikir. "Di sini kebanyakan orang-orangnya adalah petani dan penggembala. Jika kau ingin, kau bisa mengurus salah satu ladang ku. Ada ladang dekat dengan rumahmu dan aku menanami ladang itu dengan ubi. Kau mau untuk bekerja di sana?"
Siwon tanpa ragu mengangguk.
×××
Siwon pulang dengan wajah penuh lelah. Bekerja di ladang ternyata sangat berat. Tapi uang hasil kerjanya tak sebanding dengan banyaknya keringat yang keluar. Dia jadi sadar, kenapa banyak petani yang akhir-akhir ini tidak lagi memberikan upeti ke negara.
Kekeringan dan gagal panen adalah penyebab utamanya.
Kepala desa Lee tadi sempat bercerita bahwa sudah dua bulanan ini hujan tak juga turun. Membuat beberapa ladang kekeringan air. Hanya dengan menggunakan air dari gunung saja yang bisa mereka andalkan.
Saat sampai di rumah dia melihat rumah begitu sepi. Tidak ada orang. Bukankah petang hampir tiba? Apakah Yoona masih membantu rumah yang akan mengadakan pesta pernikahan itu?
"Maafkan aku karena baru pulang." ucap Yoona saat melihat Siwon sudah duduk di depan kamar. Ini pasti karena dia terlalu sibuk membantu hingga lupa kalau suami mungkin sudah pulang.
"Dari rumah itu?" tanya Siwon.
Yoona mengangguk lalu duduk di dekat Siwon. Meletakkan keranjang kecil yang tertutup oleh kain lalu membukanya. Membuat mata Siwon terbuka dengan sangat lebar. Yoona mengulum bibirnya menahan senyum, seperti dugaannya. Siwon pasti akan menyukainya.
"Ikannya besar sekali?" ucap Siwon takjub. Ada 1 ikan bakar di dalam keranjang. Baunya sungguh sangat enak. Tercium dengan jelas dan bisa dia duga rasanya pasti sangat enak.
"Hum," Yoona mengangguk mengiyakan. "Salah satu anaknya yang masih kecil pulang dari sungai sambil membawa ikan. Ada 5, besar-besar semua. Dan sebagai upah karena aku membantu mereka, mereka memberikan kita 1 ikan bakar. Kesukaanmu." cerita Yoona.
Siwon tidak bisa untuk tidak berhenti tersenyum. Di istana dia sangat jarang makan ikan karena memang kebanyakan bahan yang masuk ke istana adalah daging. Dan ketika lauk ikan, Siwon pasti akan menambah nasi yang banyak untuk menghabiskan 3-4 ekor ikan, baik bakar maupun yang dibuat sup.
"Nasinya masih ada?" tanya Siwon.
"Ya, masih ada."
Siwon segera bangkit dan turun memakai sepatu jeraminya. Berlari ke arah dapur dan mengambil panci yang masih berisi nasi, dan juga mangkok nasi serta sumpit. Membawanya kembali ke tempat Yoona yang menahan senyum dengan tingkah Siwon yang seperti anak kecil takut ikannya hilang.
"Aku sudah sangat lapar. Di kebun benar-benar melelahkan." keluh Siwon seraya mengambil nasi dan memasukkannya ke dalam mangkok yang dia pegang.
"Di kebun mana?" tanya Yoona penasaran.
"Dekat sini, di tengah gunung."
"Mau aku bawakan makan siang setiap harinya?"
Siwon menyuapkan nasi dan ikan ke dalam mulutnya. Rasanya benar-benar enak walau nasinya dingin. "Kau tidak keberatan?" dan gelengan Yoona menjawab pertanyaannya. Siwon tersenyum lalu tangannya terulur untuk menyuapi Yoona. Tampak telihat wanita itu terkejut dengan perlakuannya. "Jika kau tidak makan, semua nasinya akan habis olehku."
Menahan mati-matian untuk tersenyum, Yoona membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
Salah satu keinginan Yoona akhirnya terkabul di 29 hari menuju perpisahan mereka.
×××