
Yoona sebenarnya merasa risih karena Jungkook kian hari kian mendekatinya. Baiklah. Pada awalnya dia baik-baik saja saat Jungkook jadi lebih sering menemuinya. Karena alasan dasarnya adalah Jungkook ingin diajari olehnya tentang sastra.
Namun, akhir-akhir ini Jungkook mulai menunjukkan sedikit maksud yang lain.
Terutama setelah kejadian seminggu yang lalu, saat Jungkook memperkenalkan diri sebagai calon kekasihnya di depan Siwon.
Jungkook kadang tanpa tahu malu datang ke rumahnya sambil membawa bunga. Mengatakan bahwa bunga itu untuk wanita cantik yang ada di depan Jungkook. Yang itu berarti adalah dirinya.
Yoona tak enak hati dengan Siwon. Hubungan mereka berdua sedang baik-baiknya, terutama dengan Siwon yang memberikannya sebuah tusuk konde yang setiap hari dia pakai. Dan juga tak enak dengan para tetangga yang selalu membicarakannya.
"Wanita yang tinggal di rumah paling ujung itu, apakah dia tidak punya malu? Berselingkuh di depan orang banyak dan juga suaminya sendiri."
"Kasihan sekali, suaminya. Dikhianati oleh istrinya. Benar ya. Wanita cantik itu tidak baik. Kelakukannya seperti wanita di rumah bordir."
Dan hari ini, Jungkook mengirimkan sebuah hadiah melalui budaknya. Di depan suaminya. Bungkusan itu dibukanya dan tampaklah sebuah pakaian berbahan sutra. Warnanya cantik. Tapi tidak secantik perasaan Yoona saat ini apalagi dengan tatapan Siwon yang semula hangat menjadi dingin padanya.
"Ku kira kau akan berubah. Ternyata masih sama." Siwon berucap lirih lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Yoona cepat-cepat membungkus kembali baju itu dan memberikan pada budak laki-laki yang masih ada di sana.
"Kembalikan pada tuammu. Dan katakan padanya. Aku tidak ingin dia mengirimkan lagi barang-barang untukku. Aku sudah bersuami. Tidak pantas untukku menerima pemberian dari orang lain." ucap Yoona lalu bergegas pergi, masuk ke dalam kamar dan mendapati Siwon yang sedang berbaring di atas selimutnya.
Yoona mendekat dan duduk di samping Siwon. Dia ingin mengatakan sesuatu. Menjelaskan apa yang terjadi. Tapi lidahnya kelu hanya untuk mengatakan satu kata saja. Kenapa selalu saja begini ketika ada sebuah kesalahpahaman datang? Yoona benci ini.
Terlalu lama Yoona diam membuat Siwon tampak risih. Suaminya itu membuka matanya dan meliriknya dengan tatapan malas. Tatapan itu. Tatapan yang sama yang pernah dia lihat setiap kali dia menerima hadiah dari lelaki lain.
Diam-diam, Yoona selalu melihat reaksi Siwon setiap melihatnya menerima hadiah dari putra mahkota. Membuat Yoona meminta pada pelayanannya untuk mengembalikan hadiah itu kepada putra mahkota.
"Aku akan berkata jujur kepadamu," Siwon mengatakannya sambil menatap Yoona yang masih menunduk. Tidak mau menatapnya. "Yang ku lakukan selama beberapa hari ini bukan untuk memenuhi keinginanmu."
Yoona mengangkat wajahnya. Menatap Siwon dengan penuh pertanyaan. Memenuhi keinginannya yang mana? Ataukah keinginannya malam itu?
"Bahwa aku harus berpura-pura menjadi suami yang sangat mencintai istrinya. Aku tidak berpura-pura dengan hal itu. Aku tidak berpura-pura untuk menjadi suami yang mencintai istrinya. Karena sejak dulu aku pun sangat mencintai istriku."
Tersihir pada mantra tak dapat bergerak. Terkejut, namun tidak bisa mengekspresikan yang lain. Hanya kosong di kepala Yoona. Dia tidak mengerti sepenuhnya. Apa maksud Siwon? Apa maksud suaminya? Kenapa perkataan yang sangat jelas itu tak mampu dia cerna dengan baik.
"Aku tidak pernah tidak mencintaimu. Selalu. Aku selalu mencintaimu meski kau selalu menyakiti aku. Kau berselingkuh dengan Putra Mahkota pun aku tetap diam."
Siwon menatap Yoona yang masih terdiam mendengarkannya. Sungguh dia kecewa. Dia ingin sekali. Ingin Yoona berkata bahwa apa yang dia katakan itu tidak benar. Namun apa? Wanita itu hanya diam tanpa kata.
Sebuah kekecewaan yang besar.
"Minho yang mengatakan semua tentang kelakuan bejat kalian. Aku juga tidak akan percaya dengannya karena aku tahu dia menyukaimu dan membenciku karena aku bersamamu. Tapi apakah aku masih percaya ketika putra mahkota sendiri yang mengatakannya padaku? Mengatakannya tepat di wajahku!"
Setetes air mata keluar dari wajahnya. Kemarahan dan kekecewaan yang dipendam sekian tahun kini tertumpah pada air mata yang mengalir. Bukti bahwa Siwon sudah benar-benar kecewa. Menyerah pada keinginan yang ingin dia kabulkan beberapa hari ini.
Siwon melangkah keluar, namun sebelum benar-benar keluar Siwon sempat mengatakan sesuatu yang mampu membuat Yoona jatuh bersimpuh sambil menangis. Sebuah kalimat yang benar-benar tak ingin terjadi.
"Awalnya ku pikir kita bisa memperbaikinya sehingga tidak ada perceraian. Namun setelah ini aku akan sangat mantap. Setelah semua ini berakhir, Kita akan benar-benar bercerai."
×××