
"Untuk apa semua daftar ini, ayahanda?" Siwon bertanya sambil membuka buku yang diberikan ayahnya. Buku itu berisi daftar anak pejabat, baik daerah maupun menteri.
"Usiamu sudah 11 tahun, sudah saatnya untuk kau menikah," ucap Kiho. Meneliti wajah Siwon yang nampak terkejut dengan ucapannya. "Kau adalah pangeran dari selir tingkat tinggi. Dengan begitu kewajibanmu untuk menikah sama dengan Putra Mahkota. Paling lambat saat kau berusia 15 tahun."
Siwon mengangguk. Dia mengerti maksud dari ayahnya. Membuka lembar demi lembar halaman pada buku yang di tangannya. Hingga is berhenti pada lembar di mana nama gadis yang disukainya ada di sana.
Yoona dari hwangsa Lim. Anak kedua dari bangsawan Lim di daerah selatan. Tidak ada kekuasaan di istana. Dikirim ke aula pembelajaran di istana atas izin dari raja Kiho. Telah menamatkan buku tingkat tinggi setelah enam bulan belajar.
"Ayahanda. Aku memilih Yoona dari hwangsa Lim."
Gerakan Kiho yang hendak meminum tehnya terhenti di udara. Terkejut karena anaknya baru saja menyebutkan nama yang dia dengar tadi siang. "Kau yakin akan memilih putri keluarga Lim?" tanya Kiho memastikan.
"Ya. Tentu saja, ayahanda. Aku yakin dengan hal itu." Siwon menjawab dengan penuh kesungguhan.
Kiho tak yakin akan mengatakannya, namun dia harus. Tak ingin membuat Siwon berada pada sebuah situasi bernama pilih kasih jika dia menolak tanpa alasan keinginan Siwon. "Putra mahkota sudah melamarnya."
Siwon menatap Kiho dengan raut terkejut. Apakah dia telah tertinggal satu langkah oleh saudaranya? "Mereka sudah bertunangan?"
"Tidak. Lebih tepatnya belum. Aku belum mengirimkan surat lamaran kepada mereka. Putra mahkota baru mengajukannya hari ini."
"Kalau begitu, bukan masalah jika aku juga mengirimkan surat lamaran untuk keluarga Lim bukan?" tanya Siwon.
"Kau tidak masalah dengan itu? Mungkin setelah ini putra mahkota akan membencimu, entah hasilnya putri itu akan menerima putra mahkota atau dirimu. Apakah kau tetap ingin melakukannya?"
Sejenak Siwon diam. Dia dan putra mahkota tidak pernah bertengkar sebelumnya karena Siwon selalu mengalah dalam hubungan persaudaraan ini. Tidak pernah ada rasa iri atau dendam.
Dan mungkin ini akan menjadi awal hubungan mereka akan rusak ke depannya. Tapi Siwon tidak ingin mengalah untuk yang satu ini. Jika nanti Yoona tidak menerimanya, maka Siwon akan memilih untuk tidak akan pernah menikah dan mengebiri dirinya sendiri.
Meski hukum mengebiri diri sendiri bagi keluarga kerajaan adalah sebuah hukuman karena menghina pemberian seorang raja.
"Ya, Aku yakin."
×××
Betapa senangnya Siwon saat itu. Yoona menerima lamarannya dan mereka bertunangan sejak itu. Namun mereka tidak dekat, seperti tunangan pada umumnya. Siwon yang lebih serius berlatih agar semakin kuat dan Yoona yang belajar terus-menerus. Tak ada waktu untuk mereka habiskan berdua untuk saling mengenal satu sama lain.
Dan itu berakibat pada pernikahan mereka.
Siwon selalu ragu untuk mendekati Yoona. Selalu bingung untuk memulai sesuatu, bahkan untuk sebuah perbincangan. Jika Yoona tidak bertanya, pasti dia hanya akan diam.
Dia masih dalam masa sakit hati yang mendalam pada istrinya karena istrinya itu berselingkuh dengan Putra Mahkota.
Andai putra mahkota tidak membenarkan tindakannya yang selalu memberikan Yoona hadiah dengan alasan cinta, maka Siwon tidak akan sakit hati.
Jika saja Putra Mahkota mau berbohong sedikit. Mengatakan kalau itu hanya sebagai formalitas dan tanda kasih sayang dari kakak ipar kepada adik iparnya. Tapi tidak. Putra mahkota malah mengatakan tindakannya benar.
"Apa yang salah dari aku yang selalu memberikan Yoona hadiah? Aku hanya memberikan hadiah pada wanita yang aku cintai. Yoona juga tampak bahagia saat menerimanya."
Pintu ruangan terbuka. Menampilkan Yoona yang sangat cantik malam ini dengan balutan pakaian sutra berwarna pink. Wajahnya dirias dengan begitu cantik, lebih cantik dari riasan di hari biasa.
Siwon hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata. Membiarkan Yoona duduk di depannya sambil menunduk. Siwon meraih botol arak dan langsung meminumnya tanpa perantara gelas yang sudah disediakan.
Ingin sekali Siwon mengatakan bahwa dia marah. Marah pada istrinya yang berani berselingkuh di belakangnya. Di dalam istana. Mempermalukan namanya yang begitu mencintai istrinya.
Kenapa Yoona menerimanya jika tidak bisa membalas perasaannya? Siwon yakin. Yoona salah menerima surat lamaran. Yoona ingin menerima putra mahkota, namun malah tanpa sengaja salah mengambil surat lamarannya.
Untuk apa Siwon memiliki Yoona kalau hanya raganya bukan hatinya? Siwon selalu mengharapkan sebuah rumah tangga yang penuh kasih dan cinta. Jika hanya salah satu pihak, apakah rumah tangga itu akan berjalan baik?
Siwon hanya ingin Yoona mencintainya. Hanya itu.
Siwon sudah benar-benar mabuk. Yoona sudah berusaha menghentikannya namun tidak didengarkan. Dan 4 botol arak sudah berserakan di samping Siwon.
Siwon bangkit berdiri dan berjalan sempoyongan mendekati Yoona. Menarik istrinya untuk berdiri lalu menciumnya dengan kasar. Tangannya menyentuh Yoona secara acak, tidak ada kelembutan. Mencari-cari ikatan untuk melepaskan baju sialan yang menyembunyikan tubuh indah istrinya.
Dalam satu hentakan, Siwon mengangkat tubuh polos Yoona yang sudah tidak tertutup apa pun. Membawanya ke atas ranjang yang sudah disiapkan. Tanpa melepaskan pakaiannya, Siwon hanya menurunkan celananya sedikit. Menampilkan kejatannya yang sudah cukup lama hanya bermain dengan sabun dan air hangat.
Tanpa persiapan, penyatuan itu diawali dengan jeritan Yoona. Sakit saat sebuah selaput dalam dirinya telah diterobos paksa. Namun tak lama setelahnya isakan tangis itu sedikit demi sedikit diselingi oleh desahan saat Siwon memompa dirinya tanpa henti. Dengan begitu kasar.
Sebuah bentuk kemarahan Siwon yang membuat malam pertama mereka menjadi hari terburuk.
Siwon semakin marah saat Yoona tidak mau memandangnya selama mereka berhubungan badan. Yoona bahkan tidak memanggil namanya sama sekali. Dan karena amarah itu, Siwon mencabut kejantanannya saat hampir mencapai puncaknya dan mengeluarkan benih-benihnya di luar.
Siwon tidak ingin membebankan Yoona untuk mengandung anaknya jika hatinya saja tidak bersamanya.
×××