
"Aku melihat bintang!" seru Jungsoo yang sedang dirangkul oleh Miyoung dengan susah payah. Jungsoo menunjuk jalanan yang sedang mereka lalui. "Lihat, bintangnya bertebaran di sini!"
"Itu kerikil, suamiku."
"Tidak. Itu bintang."
"Jelas-jelas itu kerikil," ucap Miyoung sewot. Kesal dengan suaminya yang kalau mabuk selalu seperti ini. "Kan sudah ku bilang untuk tidak minum terlalu banyak."
"Siapa yang minum banyak? Aku tidak minum banyak. Hanya 7 botol saja." elak Jungsoo sambil mengibaskan tangannya ke udara.
"Benar! Kita itu tidak mabuk! Kita tidak minum banyak!" Baekhyun turut berkata dalam rangkulan Taeyeon. Dia benar-benar sudah mabuk berat. "Benar kan, Kak Choi? Kita itu tidak mabuk?"
Yoona yang memapah Siwon pun melihat ke arah Siwon. Pria itu mengangguk dengan semangat. "Kita tidak mabuk." lalu Siwon melepaskan tangannya yang ada di leher Yoona, mendekati dua pria yang juga melepaskan diri dari rangkulan istri mereka.
Lalu tiga pria itu pergi saling berangkulan satu sama lain dan bernyanyi bersama dengan suara sumbang. Entah lagu apa, yang jelas mereka terus berjalan dengan sesekali berjalan serong ke kanan dan ke kiri dengan tidak jelas.
"Bintang kecil di langit yang biru!"
"Hei, bintang itu hanya ada di malam hari. Langitnya hitam."
"Bintang kecil di langit yang hitam!!!"
"Tidak pas liriknya."
"Ya sudahlah. Apa saja!"
Lalu ketiga pria itu tertawa dengan sangat keras sampai kucing yang lewat pun langsung lari ketakutan. Benar-benar. Sejak kapan mereka menjadi sedekat itu?
"Bahaya." ucap Taeyeon.
"Kenapa?" tanya Yoona bingung, sambil sesekali matanya menatap Siwon. Takut-takut Siwon akan menabrak tembok. Karena seingat Yoona, ini adalah pertama kalinya Siwon mabuk berat seperti ini.
"Firasat ku mengatakan kalau mereka akan menjadi teman baik."
"Bagus kalau begitu. Jadi Siwon-ssi tidak akan seperti orang asing di sini." ucap Miyoung.
Miyoung mengangguk sambil meringis. "Untuk tang satu itu aku percaya padamu." ucapnya.
Taeyeon melangkah mendekati tiga pria yang sudah menggila itu. Menarik Baekhyun menuju rumahnya yang sudah terlihat. "Aku pulang dulu. Kalian berhati-hatilah." pesan Taeyeon.
×××
Yoona dengan susah payah menutup pintu kamar karena beratnya tubuh Siwon yang harus dia bawa. Dia menidurkan Siwon di lantai. Lalu mengambil selimut dan bantal kemudian menatanya agar Siwon bisa tidur di sana.
"Siwon-ssi. Bangunlah sebentar dan tidurlah di atas selimut." ucap Yoona. Menggoyangkan tubuh Siwon agar terbangun dari tidurnya.
Siwon menghiraukan panggilan itu. Dia bangun bukan untuk berpindah ke atas selimut, melainkan untuk menarik Yoona ke dalam pelukannya. Memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di dada wanita itu.
"Siwon-ssi..." panggil Yoona dengan nada tergagap. Dia tidak menyangka dengan yang dilakukan oleh Siwon saat ini.
"Sssst... diamlah. Aku sangat mengantuk," ucap Siwon yang kembali memeluk erat Yoona yang masih dalam posisi duduk. "Aku mengantuk sekali."
Yoona menatap wajah Siwon yang ada di pelukannya. Perlahan tangannya terulur untuk mengelus wajah tampan. Wajah yang tidak pernah ia pandang lebih dari tiga detik setiap kali mata itu terbuka.
"Yoona..." panggil Siwon. Matanya masih terpejam erat. Entah dia memanggil Yoona dalam keadaan setengah sadar atau sedang bermimpi di dalam tidurnya.
"Ya, Yang Mulia." Yoona menjawab. Mengelus kerutan yang ada di dahi Siwon. Kenapa usianya yang masih muda sudah memiliki kerutan seperti ini. Apakah dia terlalu banyak berpikir saat di istana?
Siwon mengeratkan pelukannya. "Kenapa kau selalu membuang pandanganmu ke arah lain setelah bertatap muka denganku selama tiga detik?"
Yoona sedikit tersentak ketika mendengar pertanyaan itu. Apakah selama ini Siwon menyadarinya? Yoona mengira bahwa Siwon tidak pernah tahu dengan kebiasaannya yang satu. Memang benar, dirinya tak pernah menatap suaminya lebih dari 3 detik setiap kali bertatapan muka dengan suaminya itu.
"Apakah kau sebenci itu denganku? Jika kau membenciku, Kenapa menerima lamaran Yang Mulia untukku bukannya menerima lamaran untuk putra mahkota?" Siwon masih berbicara dalam tidurnya. "Kau terlihat bahagia saat putra mahkota datang berkunjung ke kediamanmu."
Yoona mengambil napas dalam-dalam. Rasanya sesak dengan pertanyaan yang terakhir. Siwon berpikir bahwa dia membencinya dan mencintai putra mahkota. Sekalipun tidak pernah ada nama putra mahkota yang ada di hati dan pikiran Yoona.
"Aku tidak membencimu, Yang Mulia. Justru aku sangat mencintaimu. Alasan kenapa aku tidak pernah berani bertatap muka denganmu adalah karena aku takut kau tidak nyaman. Aku bisa merasakan ketidaknyamananmu itu. Dan juga karena aku takut. Takut bahwa aku menemukan bahwa bukan diriku lah yang ada di dalam pandanganmu, Yang Mulia. Dan ternyata benar. Tidak ada aku di sana."
×××