Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Enam


Siwon membuka matanya perlahan saat sayup-sayup terdengar suara keramaian dari luar. Perlahan duduk dan menatap ke sekeliling. Yoona sudah menghilang dari kamarnya setelah semalam mereka tidur dalam satu selimut.


Tidur dengan saling membelakangi untuk berbagi tempat.


Siwon menoleh ke arah samping selimut. Di situ sudah terdapat dua set pakaian rakyat biasa, bukan pakaian sutra yang biasa dia gunakan. Satu set pakaian berwarna putih yang sebagai dalaman dan baju tidur, dan satu set lainnya pakaian berwarna buru laut. Biasanya yang akan menyiapkannya adalah dayang Jeo yang selalu menyiapkan segala keperluannya.


Rasanya aneh ketika orang lain yang melakukannya meski itu adalah Yoona sendiri.


Segera dia berganti pakaian. Tidak mungkin dia keluar dengan pakaian sutranya. Orang-orang akan curiga. Ada bangsawan di daerah mereka tapi tinggal di rumah kecil. Pasti mereka akan berpikir bahwa mereka adalah utusan istana.


Siwon keluar setelah rapi dengan pakaiannya. Sambil mengikat baju biru yang belum diikatnya dengan benar, dia melihat Yoona sedang berbicara dengan beberapa wanita di dekat pagar rumah kita.


"Jadi itu suamimu, ya?" tanya salah satu wanita yang sedang memegang gagang sapu. Menunjuk ke arah Siwon yang sedang duduk di depan kamar sambil memakai sepatu jeraminya.


"Ya." jawab Yoona tampak malu di depan wanita-wanita yang tiba-tiba datang ke rumahnya untuk berkenalan karena ada orang baru di desa mereka.


"Dia sangat tampan." jawab wanita lain yang memegang ember kayu. Dia mau mengambil air di sungai, katanya tadi saat berkenalan dengan Yoona.


"Itu pantas untuk seorang gadis yang cantik medapatkan pemuda yang tampan. Memangnya kau, gigi saja hitam dua." sahut wanita yang memegang sapu, mentertawakan si pembawa ember yang sedang mencibir.


"Kau juga. Wajahmu yang penuh arang." ejek si pembawa ember tak terima.


"Berarti aku itu pandai memasak."


"Makananmu mana ada yang enak. Suami mu saja sering ke bar hanya untuk makan daripada makan di rumah."


Siwon hanya sayup-sayup mendengar percakapan mereka. Retinanya melihat ke arah Yoona yang sedang menutup mulutnya menahan tawa. Mungkin senang melihat pertengkaran dua orang di depannya.


Ekspresi itu, baru pertama kalinya Siwon lihat semenjak Yoona menginjakkan kakinya ke istana. Biasanya wanita itu hanya akan tersenyum simpul dan bertutur kata ketika memang diinzinkan.


"Sudah-sudah. Pagi-pagi jangan bertengkar. Suamiku sudah bangun. Kami harus sarapan sekarang. Kita bicara lagi nanti." ucap Yoona walau tak rela harus menghentikan pembicaraan mereka. Karena di mana lagi dia bisa berbicara dengan santai. Dayang-dayang di istana terlalu kaku.


Tapi suaminya sudah bangun. Dan Yoona tahu benar bagaimana Siwon. Suaminya itu tidak suka bila menunda sarapan.


"Hah... padahal kami masih ingin berbicara denganmu. Baiklah. Kita bisa bicara lagi nanti."


"Kau datang saja ya nanti ke rumah yang di halamannya terdapat pohon apel. Kita akan membantunya untuk membuat makanan."


"Ya. Besok malam akan ada pesta pernikahan anaknya. Jadi semua orang di sini akan membantunya."


"Baiklah. Aku akan datang nanti."


"Baguslah. Kami pergi dulu. Salam untuk suamimu ya." ucap dua wanita itu lalu pergi setelah Yoona mengangguk.


Yoona berbalik dan mendekati Siwon yang berdiri di dekat amben. Tersenyum pada Siwon dan hendak berlalu ke dapur untuk mengambil sarapan yang dia buat sejak fajar. "Duduklah dulu. Aku akan mengambilkan makanannya di belakang."


Yoona kembali ke amben dengan membawa satu panci dari tanah liat lalu meletakkannya di atas meja kecil di depan Siwon. Membuka tutupnya dan keluarlah kepulan asap dari nasi putih.


Siwon hanya melihatnya ketika Yoona kembali ke dapur dan membawakan kembali beberapa makanan. Seperti sayur dan dua telur rebus. Dan juga satu kendi berisi teh.


Setelah menyiapkan semuanya di atas meja, Yoona menyendokkan nasi ke dalam mangkuk kecil dan memberikannya pada Siwon. "Hanya ini yang saya siapakan hari ini. Hanya itu saja yang ada di dalam dapur. Mungkin nanti saya akan berbelanja di pasar untuk membeli bahan baru."


Siwon menanggapinya dengan anggukan. Mengambil sendok lalu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Mencoba sayur sup lalu mengangguk. Rasanya enak. Siwon merasa sedang memakan sarapannya saat di istana.


Karena Siwon tidak tahu. Bahwa Yoona lah yang selalu memasakkan makanan untuknya setiap hari sejak Yoona berusia 13 tahun. 3 tahun setelah menikah dari Siwon.


Siwon menatap Yoona yang tidak ikut sarapan. Malah dia sedang sibuk mengeluarkan beberapa sayuran dari dalam keranjang. "Apa yang sedang kau lakukan?"


Yoona menoleh dan menunjukkan keranjang di tangannya. "Saya sedang memilih sayuran mana yang harus saya masak lebih dulu dan sayuran yang bisa saya simpan buat besok." jawab Yoona.


"Bisakah kau tidak menggunakan cara bicara yang formal denganku? Kita sedang tidak ada di istana dan jangan menggunakan bahasa formal. Aku bukan pangeran sekarang." Siwon berkata untuk mengoreksi cara bicara Yoona. Jika orang lain mendengar akan berpikir bahwa Yoona adalah budaknya bukan istrinya.


"Maaf." Yoona meminta maaf. Pasti Siwon kesal dengannya. Dia salah lagi. Kalau seperti ini, Siwon pasti akan tetap menceraikannya setelah semua ini berakhir.


Siwon hanya berdehem kecil untuk menjawab permintaan maaf Yoona. "Kenapa kau tidak ikut makan?" tanyanya kemudian karena Yoona tidak ikut makan dengannya dan malah sibuk dengan kegiatan lain daripada mengisi perutnya.


"Saya, ah, maksudnya aku akan makan nanti. Aku belum lapar." jawab Yoona agak tergagap di awal. Masih belum terbiasa untuk mengambil dirinya sendiri dengan kata aku karena sudah terbiasa berbicara pada Siwon dengan kata ganti saya.


Siwon memandang Yoona curiga. Tak percaya dengan kata-kata istrinya itu. "Apakah hanya ada satu mangkuk dan satu sendok saja di dapur?" tanyanya dan anggukan kecil dari Yoona membuatnya menghela napasnya.


Ayahnya benar-benar. Antara niat atau tidak memberikannya sebuah rumah.


×××