Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Dua Puluh Tiga


"Kau senyum-senyum seperti orang gila itu kenapa?" tanya Baekhyun. Pria muda itu risih karena sedari tadi Jungsoo sedang tersenyum tanpa ada alasan. Padahal Jungsoo sendiri yang mengajak dirinya dan juga Siwon untuk menemaninya ke pasar. Katanya ada beberapa barang yang ingin dibeli.


Tau-taunya sepanjang perjalanan mereka menuju pasar malah Jungsoo seperti orang gila. Memang sih, di desa mereka ada rumor yang beredar.


Dulu ada seorang istri yang ditinggal suaminya karena suaminya selingkuh dan mencampakkannya. Karena kesal dan putus asa, istri tersebut bunuh diri dengan menggantung dirinya di pohon dekat pemakaman. Katanya, arwahnya masih sakit hati, jadilah masih suka mengganggu saat malam tiba.


Dan tadi mereka melewati pohon itu.


"Memangnya aku tidak boleh tersenyum?" tanya Jungsoo masih dengan senyumannya. Tangannya memukul kepala Baekhyun yang ada di sisi kanannya. "Dan panggil aku kakak. Aku ini lebih tua darimu." tegurnya karena Baekhyun kadang kurang ajar kepadanya.


"Iya, kakek." Baekhyun mengatupkan kedua telapak tangannya di atas kepalanya lalu membungkuk. Benar-benar membuat orang naik darah.


"Kakak bukan kakek!"


"Memangnya ada bedanya?"


"Ya beda. Kakak itu berarti aku lebih tua beberapa tahun darimu. Kalau kakek berarti aku ayah dari ayahmu."


"Sama saja menurutku. Sama-sama tua!"


"Ya! Kurang ajar!"


Siwon hanya tersenyum kecil melihat dua orang itu bertengkar. Di mana sekarang Jungsoo sedang mengunci Baekhyun di ketiaknya. Menceramahinya dengan berbagai hal tentang sopan-santun. Walau Siwon yakin, Jungsoo pasti tahu kalau Baekhyun itu hanya sedang bercanda.


"Rohnya berpindah." celetuk Baekhyun yang masih dikunci pergerakannya oleh Jungsoo.


"Roh apa?" tanya Jungsoo heran. Melepaskan kunciannya sambil merapikan pakaiannya yang kusut bertambah kusut karena bergelut dengan tetangga kurang ajar.


Baekhyun mencibir tanpa suara. "Roh apa? Tentu saja roh yang tadi merasukimu sampai-sampai senyum-senyum tidak jelas." jelasnya.


Siwon mengibaskan tangannya. "Tidak. Bukan begitu," ucapnya agar mereka tidak ngawur lagi. "Aku hanya teringat dengan saudara-saudaraku saja." katanya memberitahu apa yang sempat ia bayangkan tadi.


"Ah, pasti kau orang yang tidak pernah terpisah dari saudara-saudaramu itu, ya?" tanya Jungsoo. Dia mengerti karena dia pun dulu demikian saat memutuskan keluar rumah setelah menikah. Sempat rindu dengan suasana ramai rumah karena keributan yang dibuat oleh saudara-saudaranya. Padahal mereka masih satu desa.


"Tidak juga," Siwon memandang langit malam yang berhias bulan. Sangat cantik. "Kami bahkan jarang menghabiskan waktu bersama layaknya saudara. Bahkan bisa dikatakan, kami saling bermusuhan satu sama lain."


"Persaudaraan yang sangat buruk. Pasti mengesalkan tinggal dalam satu rumah namun saling bermusuhan." Baekhyun berkata. Tidak bisa membayangkan jika dirinya menjadi Siwon. Tumbuh besar dalam perseteruan antar saudara.


Siwon mengangguk pelan. Membenarkan perkataan Baekhyun. Persaudaraan di keluarga kerajaan benar-benar buruk. Tidak sebaik yang dibayangkan oleh orang-orang. Saudara pun rasanya seperti musuh. Jangankan hal-hal yang besar. Hal kecil pun bisa memicu pertingkaian.


"Tusuk kondemu terlihat baru." Siwon berkata di tengah sarapannya bersama Yoona. Seperti rutinitas mereka biasanya. Sarapan bersama sebelum sibuk dengan tugas masing-masing.


Ternyata yang dikatakan oleh Minho semalam adalah benar.


"Aku sudah selesai. kau habiskanlah sarapanmu." Siwon pergi begitu saja tanpa menoleh, tanpa tahu bahwa Yoona ingin berkata lagi tentang tusuk konde yang digunakan oleh istrinya itu.


Dan istrinya pun menjadi musuh atas sebuah pengkhianatan. Perselingkuhan yang dilakukan di dalam istana. Membuatnya malu karena Minho tahu tentang hal itu. Mungkin tak butuh waktu yang lama untuk seluruh istana tahu hal ini.


"Tumben sekali kau ingin menemaniku bermain panah. Bukankah kau lebih suka berlatih pedang?" tanya Putra Mahkota, Choi Kangta, sambil membidik titik sejauh 200 m di depan sana.


"Tidak juga. Aku juga suka memanah. Walau tidak sesering Anda." jawab Siwon. Melepaskan busur panahnya dan mengenai titik yang akan Kangta bidik hingga membuat sang putra mahkota menurunkan panahnya karena terlalu terkejut.


"Sepertinya ada yang ingin kau bicarakan padaku. Ada apa?" tanya Kangta. Sepertinya dia tahu bahwa Siwon datang menemuinya karena ada hal yang ingin dibicarakan dengannya. Sesuatu yang serius sampai tidak menitipkan pesan pada kasimnya.


Siwon menatap Kangta tanpa ekspresi. "Untuk apa Anda memberikan istriku sebuah tusuk konde? Bukankah Anda tahu, hanya seorang suami yang boleh memberikan tusuk konde kepada istrinya, atau seorang kekasih pada kekasihnya."


Kangta mengangkat sebelah bibirnya. Tersenyum. Tapi sangat mengejek artinya. "Apakah salah jika aku memberikan sebuah tusuk konde untuk orang yang aku cintai?"


Dan orang yang dia hormati karena merupakan calon raja pun mengkhinatinya dengan menyimpan rasa pada istrinya. Siwon tidak benar-benar percaya pada Minho, namun pengakuan putra mahkota dan Yoona benar-benar membuat Siwon jatuh. Jatuh sedalam-dalamnya pada jurang yang sangat dalam.


Sakit hati atas sebuah pengkhianatan.


"Aku ingin menghadiahkan tusuk konde untuk istriku. Dia baru saja dikabarkan mengandung," ucap Jungsoo sambil melihat-lihat beberapa tusuk konde yang dijual oleh seorang bibi di pasar. Semua barang yang dia butuhkan sudah dia beli. Sekarang waktunya untuk memilih oleh-oleh untuk istri.


Apalagi hari ini adalah hari membahagiakan untuk Jungsoo karena istrinya akhirnya hamil setelah dua tahun mereka menikah.


"Istrimu hamil?" tanya Siwon. Dan anggukan dari Jungsoo menjawab pertanyaannya. Pasti temannya saat ini sedang bahagia. Seperti yang pernah dia mimpikan sebelum pengkhianatan itu terjadi. "Aku turut bahagia mendengarnya."


"Kalian pilihlah satu untuk istri kalian. Aku akan membelikannya karena kalian sudah mau membantuku berbelanja malam ini." ucap Jungsoo, memaksa dua orang itu untuk memilih hadiah untuk istri-istri mereka.


Siwon mengambil sebuah tusuk konde dengan bentuk kepalanya adalah bunga sakura. Benar-benar detail untuk kelopaknya. Dan warnanya begitu cantik. Pasti Yoona akan semakin bersinar jika memakainya. Siwon akan memilih ini untuk diberikan pada Yoona, tusuk konde pertama dan terakhir darinya.


Karena meski sakit hati karena pengkhianatan, Siwon tetap menyayangi dan mencintai Yoona dengan caranya sendiri. Menjaga nama baik Yoona agar tidak buruk di mata orang-orang karena berselingkuh dengan Putra Mahkota. Maka dari itu, Siwon menceraikannya dengan caranya mencari wanita lain sebagai alasan yang kuat.


Sebelum Yoona mencintai Siwon saat melihat Siwon bertarung dengan putra mahkota di belakang perpustakaan, Siwon yang lebih dulu mencintai Yoona sejak mengetahui nama sang gadis di aula pembelajaran.


Dan semakin jatuh cinta pada sosok yang diam-diam mengintainya.


×××