Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Dua Belas


Di salah satu meja yang agak jauh dari posisi meja kepala desa, di sana ada beberapa pemuda dengan pakaian sutra yang bagus. Mereka adalah pemuda-pemuda kaya yang baru lulus menjadi sarjana di kota. Kembali ke desa karena liburan dan ternyata ada yang menikah, jadilah mereka datang karena pengantin pria juga teman mereka.


Meski mereka dari desa, tapi tatapan mereka begitu sombong. Hanya karena mereka orang kaya dan juga sarjana. Memang sih, bagi orang desa siapa pun yang menjadi sarjana sama hebatnya dengan orang yang bekerja di pemerintahan.


Tapi kalau sombongnya seperti mereka, itu yang tidak disukai orang-orang di desa ini. Kecuali si pengantin pria. Dia orang baik. Buktinya dia menjadi guru untuk anak-anak agar bisa membaca dan menulis secara gratis.


Salah satu pemuda yang memakai topi itu meminum tehnya sambil melihat ke arah meja kepala desa. Tatapannya jatuh pada Yoona yang menarik perhatiannya sejak wanita itu masuk ke halaman ini.


"Kau sedang melihat apa, Jungkook? Sedari tadi tatapanmu tidak berubah." tanya Taehyung yang duduk di depan Jungkook, pemuda yang melihat ke arah Yoona.


"Aku baru saja melihat seorang bidadari."


Taehyung mengangkat alisnya. Berbalik badan demi melihat apa yang dimaksud oleh Jungkook. Sejenak kemudian berdecak sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Aku baru tahu kalau desa ini memiliki gadis yang cantik." Taehyung terkagum-kagum.


"Sangat cantik." tambah Jungkook. Menerima satu tuangan teh dari salah satu budak yang punya rumah. Kembali menyesapnya dengan mata yang masih melihat Yoona yang tampak malu-malu mengobrol dengan orang-orang yang satu meja dengannya.


"Kau ingin mendapatkannya?"


Jungkook mengangguk. "Tentu. Sangat sayang jika kecantikannya harus tertutupi oleh pakaian jelek seperti itu."


×××


Pesta sudah berakhir setelah resepsi selesai. Banyak warga yang sudah pergi untuk pulang. Hanya tinggal meja yang berisi si pengantin baru dan keluarganya, dan juga meja yang berisi kepala desa dan yang lainnya.


"Tuan muda Kyuhyun, lebih baik kau ke kamar sekarang. Kau sudah mabuk." ucap Jungsoo, dia masih bisa di sini karena memang dia bekerja untuk keluarga ini. Makanya keluarga yang menikah membiarkan mereka tetap menghabiskan makanan yang masih tersisa cukup banyak.


"Benar," Baekhyun mengangguk membenarkan. Mendekati Kyuhyun yang menatapnya bingung. Baekhyun membuat gerakan dengan kedua tangannya. "Lakukan ini. Kau akan terbang nanti." bisik Baekhyun seperti setan.


Kyuhyun tersenyum tidak jelas. Dia mengerti maksud dari gerakan Baekhyun. Masuk keluar lubang istrinya. Dasar, Baekhyun. Pantas saja pemuda itu memilih menikah muda. Pikirannya sudah kotor sejak sangat muda.


"Baiklah. Aku akan ke kamar. Ayo, istriku. Kita beristirahat terlebih dahulu," ucap Kyuhyun sambil menarik Joohyun untuk berdiri. Kemudian Kyuhyun membungkuk di depan orang tua dan mertuanya. "Ayah, ibu, dan mertua. Kami mohon undur diri. Kami sudah kelelahan."


"Oh, tentu tentu. Kalian tidurlah." Tuan Cho mengangguk dan memberikan izin agar putranya pergi menuju kamar.


Setelah beberapa menit Kyuhyun pergi, semua orang berpandangan dan langsung berlari ke arah kamar kedua pengantin tanpa keributan. Mereka akan melakukan ritual yang biasa dilakukan orang desa ketika ada pengantin baru. Ritual untuk mengetahui seberapa perkasanya si pengantin pria dalam membuat pengantin wanita menjerit di dalam kamar.


"Ayo, Yoona. Kau harus ikut." Taeyeon menarik Yoona yang hanya diam saja sedangkan suaminya sedang menarik Siwon agar ikut mereka.


Semua orang yang berkumpul di sana saling memberikan isyarat satu sama lain untuk tidak berisik atau mereka akan ketahuan nanti. Mereka perlahan naik ke atas tatanan kayu di depan kamar dan menempelkan telinga mereka di dinding kamar yang tipis namun tak tembus pandang itu. Mencoba mendengar apa yang sedang terjadi di dalam.


"Kenapa?"


"Ini terlalu besar."


"Tenang saja. Ini akan muat."


"Kau yakin, Kyuhyun-ssi?"


"Tentu saja. Percaya padaku. Aku suamimu, tidak akan membuatmu terluka."


Dan setelah itu terdengar suara jeritan Joohyun dan geraman puas dari Kyuhyun. Yang di luar yang mendengarnya langsung mengulum bibir. Jadi teringat dengan malam pertama mereka dulu. Wanita mereka menjerit ketakutan karena melihat burung besar penuh bulu.


"Sudah. Sudah. Kita tinggalkan mereka untuk bersenang-senang." ucap nyonya Cho dengan pelan. Mengusir orang-orang untuk tidak menguping lagi. Yang ada para suami meminta jatah mereka jika diteruskan.


Mereka pun kembali sambil mengangguk. Duduk kembali ke meja mereka dan berniat untuk mabuk malam ini. Ya sesekali mabuk tak apalah. Dan mereka terus membicarakan tentang malam mereka dulu. Kadang ada yang menertawakan saat salah seorang bercerita kalau dia sampai lari keluar rumah sesaat setelah suaminya menurunkan celananya.


"Ya kan itu sangat mengerikan. Aku juga tidak pernah melihat wujud kelamin pria. Ku kira tidak akan panjang dan banyak bulu seperti itu." kata wanita yang baru diejek itu. Membela dirinya sendiri.


"Kau benar. Dulu juga saat malam pertama ku dengan Baekhyun pun hampir menangis." cerita Taeyeon. Di meja itu memang hanya ada para wanita. Mereka mengkhususkan diri untuk berbicara dalam satu meja.


"Kenapa?" tanya Miyoung penasaran.


Taeyeon merapatkan tubuhnya dengan yang lain. "Usianya kan sangat muda saat menikah denganku. Tapi tenaganya tidak kalah seperti pria dewasa. Aku saja tidak bisa berjalan selama beberapa hari."


"Sama berarti saat aku dengan suamiku," ucap Miyoung. "Jungsoo-ssi juga seperti itu. Tapi ya mau bagaimana lagi. Aku sangat menyukainya." ucap Miyoung akhirnya sambil malu-malu.


"Ah, Yoona-ssi," panggil salah satu wanita di sana. "Bagaimana denganmu? Bagaimana malam pertama kalian?" tanyanya.


"Ah itu, ku rasa aku tidak perlu menceritakannya." ucap Yoona. Karena memang, tidak ada hal berarti yang bisa dia ceritakan dari hal itu. Karena malam pertama mereka dipenuhi dengan kesunyian tanpa tingkah seperti orang biasa.


"Pasti sangat menyenangkan sampai tidak mau berbagi dengan kita." ucap Taeyeon sambil mengerling jahil.


Andai saja itu benar-benar menyenangkan seperti yang diucapkan oleh mereka.


×××