
Apa yang bisa dilakukan Yoona saat dia akan diceraikan? Tidak ada. Yang bisa dilakukannya hanya menangis tanpa kata. Mengunci pintu kamarnya agar tidak ada satu pun orang yang datang menemuinya.
Hatinya sedang menangis. Menangisi nasib buruk yang menimpanya. Tentang suaminya yang memilih kekasihnya dan meninggalkannya.
Yoona tidak masalah. Sungguh. Jika ada wanita lain yang menghangatkan ranjang Siwon. Yoona tak masalah. Jika dia harus mencium wewangian perempuan pun tak masalah.
Tapi diceraikan? Tidak. Yoona mohon jangan. Ayahnya akan malu. Seluruh keturunan Lim akan mengutuknya karena membawa sial. Menjadi janda di usia 18 tahun apalagi jika kau bekas seorang pangeran, sulit untuk mendapatkan suami.
Karena bagi masyarakat, janda dari pangeran atau raja tidak akan bisa dinikahi kerena tidak akan ada yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari mantan suami mereka.
Dan merupakan sampah yang tidak berguna.
Tidak. Masih ada satu cara yang dapat Yoona lakukan. Yoona bukan tidak peduli dengan Siwon atau membebaskannya berbuat sesuka hati. Tapi dia punya hak. Hak untuk mempertahankan pernikahannya.
Yoona segera membenahi penampilannya yang buruk. Bergegas keluar dengan disambut raut wajah khawatir dayang-dayangnya karena tidak keluar selama berhari-hari.
"Katakan ke kediaman Yang Mulia Raja. Aku akan datang dan ingin bertemu dengannya." ucap Yoona seraya melangkah menuju gerbang.
Kasim pembawa pesan pun langsung berlari dengan sangat cepat untuk menyampaikan pesan ini ke kediaman sang raja. Tak lama setelah pemberitahuannya, Yoona dan rombongannya telah datang.
"Silahkan, nyonya Lim. Raja sudah menunggu Anda." kepala Kasim Kim memberikan jalan untuk Yoona masuk ke kamar sang Raja yang sudah menunggu menantunya.
Yoona masuk dan memberikan salam kepada ayah mertuanya yang sedang membaca dokumen-dokumen negara. Setelah pintu terbuka, Yoona langsung bersujud membuat sang raja, Choi Kiho, yang awalnya fokus dengan dokumennya langsung berdiri dan menghampiri Yoona.
"Kenapa kau bersujud seperti itu? Apakah kau sakit?" tanya Kiho. Meski dia memiliki banyak menantu dari anak-anaknya yang lain, tapi Yoona adalah menantu kesayangan. Bukan karena hubungan diplomatik. Tapi karena Yoona adalah menantu pilihan yang dipilih oleh ibu suri.
"Yang Mulia pasti lebih tahu apa yang membuat saya sakit," ucap Yoona yang mampu membuat Kiho terdiam menatapnya. "Yang Mulia, saya mohon. Bantulah menantu ini untuk tidak bercerai dengan pangeran."
Kiho menarik napasnya dalam-dalam. Berkata pada Yoona dengan penuh keputusasaan, "Yoona. Aku sudah membicarakan hal ini dengan Siwon. Tapi dia kukuh dengan pendiriannya."
"Yang Mulia. Aku akan baik-baik saja jika pangeran ingin memiliki banyak kekasih atau pun istri. Saya tidak akan melarangnya. Itu haknya. Tapi jika saya akan diceraikan, apakah benar jika saya hanya diam dan menerima? Yang Mulia. Anda sendiri yang datang ke rumah saya dan melamar saya untuk untuk pangeran Siwon. Anda pula yanh membawa saya pergi dari rumah untuk tinggal di sini dan menikah dengan pangeran. Yang Mulia dulu pernah membuat janji bahwa Yang Mulia akan mengabulkan segela keinginan saya,"
Yoona kembali bersujud di depan Kiho sambil menahan tangis yang berdesak-desakan ingin keluar. "Maka sekarang saya mohon. Bantu menantu ini agar tidak bercerai dengan pengeran. Saya mohon, yang mulia!" tangis yang terbendung akhirnya jebol juga.
×××
Tidur Kiho rasanya tak tenang. Berulang kali dia terbangun dari tidurnya. Karena di dalam tidurnya dia selalu terbayang wajah sang menantu yang menangis dan memohon kepadanya dengan wajah penuh keputusasaan.
Sang raja pun akhirnya berdiri dan keluar dari kamar sang selir yang dia datangi malam ini.
"Aku hanya ingin keluar berjalan-jalan di taman. Jangan membuat keributan dengan hal ini." katanya sebelum para kasim miliknya membuat kegaduhan karena dirinya terbangun di tengah malam.
Disusurinya taman istana yang ada di sebelah timur. Tempat yang pertama kali akan terkena sinar matahari. Hanya lentera yang dibawa oleh kepala Kasim lah yang meneranginya karena bulan sedang marah kepadanya karena tak becus menjadi raja ataupun seorang mertua yang baik untuk menantunya.
Kiho menghentikan langkahnya dan berdiri di atas jembatan yang terbentang di atau danau kecil yang dihiasi oleh bunga teratai. Andai bulan tak marah pasti akan cantik pemandangannya.
Matanya menatap ke arah dua kediaman yang bersisihan di depannya. Kediaman sang pangeran ke-2 dan kediaman menantu Lim.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya. Kiho bukannya tidak tahu bahwa pangeran ke-2 memiliki perempuan lain di luar sana. Dia hanya membiarkan karena baginya itu bukan masalah. Namun setelah pernyataan pangeran ke-2 yang meminta perceraian untuk Lim Yoona, saat itulah dia sadar, dia terlalu bodoh dengan membiarkan semuanya terjadi.
"Jika hamba yang rendahan ini boleh memberikan saran kepada Yang Mulia."
Kiho berbalik dan menghadap kepala Kasim Kim yang menunduk ke arahnya. "Katakan." perintahnya memberikan izin.
"Saya pernah masuk ke dalam perpustakaan dan menemukan sebuah catatan dari salah seorang cendekiawan yang menghabiskan hidupnya untuk berkeliling dunia dengan kedua kakinya. Dalam bukunya, beliau menuliskan bahwa beliau pernah datang ke suatu tempat yang dapat membuat pasangan yang ingin bercerai akhirnya tidak jadi bercerai."
Kiho mendekati kepala Kasim Kim. Merasa tidak percaya. Dia sepertinya belum pernah membaca buku seperti itu atau karena dia yang terlalu sibuk dengan urusan negara. "Katakan dengan lebih jelas."
Kepala kasim Kim tersenyum menatap lampu yang ada di tangannya dan mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah sang raja. "Pangeran hanya belum tahu dengan dirinya sendiri."