
Selama 2 hari, raja dari kerajaan Joseon itu tidak menunjukkan diri. Rapat pun ditunda hingga hari ini penasehat Park mengatakan rapat akan dilakukan oleh besok. Alasannya sangat sederhana.
Raja sedang melakukan sesuatu untuk menyelamatkan sebuah ikatan yang terjalin lama.
Tak ada yang tahu. Bahkan pangeran Siwon dan Yoona yang tiba-tiba dikumpulkan di kediaman ibu suri. Mereka didatangi oleh kasim utusan raja Kiho. Meminta mereka untuk segera datang ke kediaman ibu suri. Ada hal penting yang akan dibicarakan.
Apakah ini terkait dengan perpisahan mereka sebagai sepasang suami istri?
"Yang Mulia Ibu suri! Pangeran Siwon dan nona Lim sudah datang!" kata dayang tua yang bertugas di depan kamar sang ibu suri kerajaan.
"Suruh mereka masuk." suara di dalam menyahut untuk memberikan mereka sebuah izin untuk masuk.
Dayang tua menggeser pintu kamar ibu suri. Dari tempat mereka berdua berdiri, dapat dilihat bahwa ada tiga orang di dalam kamar itu. Ibu suri, Raja Kiho, dan selir Jaejeong. Mereka pun masuk dan sesaat kemudian pintu ditutup oleh dayang tua.
Siwon dan Yoona duduk bersimpuh lalu bersujud dan kemudian berdiri lagi. Sebuah ritual penghormatan untuk orang yang lebih tua dan jabatan lebih tinggi dari mereka. Tak ada satu pun di antara keduanya yang ingin berdiri karena jika belum disuruh takkan berani mereka melakukannya. Hukuman cambuk akan siap menanti meski kau adalah anggota kerajaan sekali pun.
"Duduklah kalian berdua." perintah ibu suri yang duduk di depan sendiri. Menyuruh cucu dan cucu menantunya untuk duduk di depannya.
Pangeran dan nona Lim ini memposisikan diri untuk duduk di depan ibu suri. Di samping kiri Yoona ada ibu mertuanya yang menatapnya sendu. Dan di samping kanan Siwon ada sang raja yang tak mengeluarkan raut wajah apa pun.
Tatapan sendu itu mengingatkannya pada perceraian yang diinginkan oleh pangeran. Apakah keputusan akhir sudah dibuat dan dirinya harus mengalah?
"Aku sudah mendengar niatanmu, pangeran. Bahwa kau ingin bercerai dengan cucu menantu Lim. Tapi aku ingin kau menjelaskan padaku, alasan apa yang membuatmu ingin berpisah dengan Yoona." ucap ibu suri. Mengetuk-ngetukkan jari telunjuk yang dihiasi cincin giok di atas meja kecilnya. Menanti sang cucu menjawab pertanyaannya.
Siwon menatap neneknya yang tetap awet muda meski usianya sudah hampir 85 tahun di tahun kelinci air ini. Kemudian Siwon berkata dengan sangat mantap, "Kami menikah bukan karena dasar cinta namun karena keuntungan pemerintahan. Dan kami juga menikah di usia yang terlalu muda. Aku sudah mencoba untuk mencintai istriku. Namun aku tidak bisa hingga beberapa waktu lalu aku bertemu dengan seorang gadis. Dan aku jatuh cinta dengannya dan ingin menikah dengannya."
"Lalu kenapa kau ingin menceraikan cucu menantu, pangeran?!" tanya ibu suri geram. "Kalau kau mencintai gadis itu terserah. Mau menikahinya pun terserah. Tapi kenapa harus bercerai dengan cucu menantu? Apakah kau tidak memikirkan tentang perasaannya?!" akhir ibu suri dengan menggebrak mejanya dengan penuh kekesalan.
Besan Lim memintanya untuk segera menyelesaikan ini atau dengan tangan sang besan, cucunya akan dibunuh dengan tidak terhormat. Kepala dan tubuh yang terpisah.
"Aku memikirkannya, ibu suri. Dia akan lebih baik tidak bersamaku daripada berpura-pura mencintaiku. Itulah alasanku untuk bercerai dengan Yoona."
Yoona ingin berteriak di telinga Siwon. Meneriakkan dari mana pikiran bodoh Siwon berasal. Dia tidak mencintai Siwon? Dari mana pangeran itu melihatnya? Apakah rasa cintanya tidak pernah terlihat? Tidakkah cukup dengan sakit hati karena akan diceraikan dan kini suaminya menuduhnya hanya berpura-pura mencintai.
Lebih baik Yoona menyerahkan nyawanya pada ayahnya. Terserah ayahnya akan membunuhnya dengan cara apa. Daripada dia hidup karena ketidak percayaan suaminya terhadap perasaannya.
Kiho mendesah. Benar kata kepala Kasim Kim. Siwon itu belum mengerti tentang dirinya sendiri dan juga orang lain. Siapa pun yang melihat Yoona akan tahu dengan jelas bagaimana perasaan itu terpancar dengan sangat besarnya.
"Jika keputusanmu seperti itu, baiklah."
Ucapan raja Kiho membuat Yoona meremat pakaian sutra yang dia gunakan. Dia ingin berbicara namun mulutnya terkunci oleh sesuatu yang tak kasat mata. Membuatnya hanya bisa diam dengan kepala yang terus menunduk.
Berbeda dengan Siwon yang tersenyum. Wajahnya tampak puas dengan keputusan ayahnya. Tak sabar dia untuk segera bertemu dengan gadisnya dan mengatakan semuanya yang sudah dia janjikan.
"Tapi sebelum kalian berpisah, ada sesuatu yang harus kalian lakukan," Raja Kiho berucap membuat senyum Siwon sedikit demi sedikit memudar. "Sebelum kau menjadi jenderal, Aku ingin kau melakukan bakti pada negara. Berbaurlah dengan masyarakat miskin selama sebulan."
"Baiklah. Akan aku lakukan." terima Siwon siap dengan keinginan ayahnya.
Kiho menggeleng. "Tidak. Bukan kau. Tapi kalian. Kau dan Yoona, kalian berdua yang akan melakukannya. Tempat tinggal dan semuanya sudah aku siapkan. Aku hanya akan memberikan sedikit uang untuk modal kalian. Tapi kalian tidak boleh menggunakan uang itu untuk membeli perabotan rumah apa pun. Uang yang kalian hasilkan dari pekerjaan kalian nanti hanya akan kalian gunakan untuk membeli bahan-bahan makanan dan juga untuk membantu masyarakat."
"Apa-apaan itu, Yang Mulia?" tanya Siwon tidak mengerti.
"Jika kalian berani melanggarnya maka masa kalian berbakti akan bertambah sebulan. Dan Siwon, dengarkan aku. Setelah kalian pulang nanti, kau boleh memberikan jawabanmu padaku. Apakah kau akan tetap kukuh bercerai atau kau akan berubah pikiran."