
Seminggu sudah pangeran kedua dan istrinya meninggalkan istana. Dan itu sedikit memberikan pertanyaan di istana. Ke manakah dua orang itu pergi?
Kiho sendiri pun tak memberikan penjelasan lebih. Hanya mengatakan bahwa mereka berdua sedang pergi untuk menghabiskan waktu berdua. Namun memang bisa dipercaya? Semua anggota kerajaan pun tahu dengan benar dengan keadaan keduanya. Tidak ada cinta dalam pernikahan.
Kiho mengurut dahinya. Dia sedang dipusingkan oleh permasalahan yang lahir setelah mengasingkan putra keduanya agar tidak bercerai.
"Bagaimana kabar pangeran kedua dan juga nona Lim?" tanya Kiho pada prajurit yang bersujud di depannya.
"Mereka baik-baik saja, Yang Mulia."
"Bukan itu maksudku," Kiho menggeleng. "Apakah hubungan mereka ada kemajuan?" tanyanya kemudian, menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dia tanyakan.
"Yang Mulia Pangeran kedua dan Nyonya Lim, mereka tampak lebih mesra dari sebelumnya. Pangeran kedua menjadi lebih memperhatikan Nyonya Lim."
Kiho tersenyum dengan informasi yang diberikan oleh prajurit yang dia suruh untuk mengawasi anak dan menantunya dari jauh. Rasa syukur memenuhi hati Kiho. Karena akhirnya hubungan keduanya membaik.
Bolehkan sang raja menyimpulkan bahwa setelah pulang, anak dan menantunya tidak akan bercerai?
"Baiklah. Kau boleh pergi. Tetap berikan kabar terbaru tentang mereka kepadaku." ucap Kiho.
Prajurit itu menunduk hormat pada Kiho sebelum akhirnya keluar dari ruangan sang raja. Di jalan dia bertemu dengan sang ratu yang tampak buru-buru memasuki kediaman sang raja. Dia hanya menunduk lalu pergi untuk kembali ke desa di mana pangeran kedua berada.
"Yang Mulia, Yang Mulia Ratu ingin bertemu." beritahu kepala Kasim Kim dari luar.
Kiho yang bersiap-siap untuk kembali ke kamar dan tidur namun pemberitahuan kedatangan sang ratu membuatnya kembali duduk. "Suruh dia masuk." ucapnya mempersilahkan. Dalam hati sedang bertanya, apa yang membuat ratunya ingin bertemu dengannya di malam yang sudah larut ini.
Seo Han Jae, sang ratu pun masuk dengan tergesa kemudian duduk di depan Kiho dengan wajah yang pucat pasi. Kemudian menunduk kemudian menangis dengan keras.
Kiho yang panik pun segera mendekati Han Jae dan memeluk ratunya itu. "Ada apa? Kenapa kau menemuiku seperti ini?" tanya Kiho.
"Yang Mulia, tolong Putra Mahkota ku..." Han Jae berkata sambil terisak.
Kiho memejamkan matanya. Begitulah keadaan istana saat ini setelah kepergian Pangeran Kedua dan Nyonya Lim. Istana kacau balau dengan perebutan tahta.
Karena jika putra mahkota telah tiada. Hak menjadi raja akan jatuh kepada pangeran kedua. Bukan karena urutan kelahiran. Namun karena pangeran kedua adalah anak dari selir utama tingkat 1, yang memiliki otoritas sebanding dengan sang ratu. Sedangkan pangeran yang lain tidak bisa mendapatkan kekuasan atas semua itu.
Bukan berarti selama ini tidak ada rencana pelengseran putra mahkota. Mereka bahkan berulang kali mencoba untuk membunuh pangeran kedua terlebih dahulu untuk mempermudah pangeran-pangeran itu merebut tahta. Namun mereka tak pernah dapat membunuh Siwon.
Karena Siwon memiliki kekuatan dari keluarga Lim. Keluarga Lim yang telah menolong agar nyawa Siwon tidak terlepas dari tubuhnya.
Untuk itulah, Siwon dan Yoona tidak boleh terpisah. Hutang yang begitu besar telah Siwon tanggung sejak pernikahan itu terjadi. Tak peduli apakah Siwon mencintai Yoona atau tidak. Mereka harus tetap bersama.
×××
Selir San, selir utama tingkat tiga. Sedang duduk di dalam kamarnya. Jarinya yang berhias cincin giok pemberian sang raja mengetuk meja dengan tempo yang sedang. Tak lama pintu kamarnya terbuka dan menampakkan pangeran kelima, Choi Min-ho.
"Ibu memanggilku?" tanya Min-ho setelah duduk di depan San. Pangeran muda yang usianya 20 tahun saat ini. Anak pertama dari sang raja dengan selir San dan Pangeran kelima di negeri ini.
"Kita harus segera merencanakan sesuatu untuk melancarkan jalanmu menuju tahta," selir San berkata sambil mantap putranya. "Aku dulu sudah membunuh bayi Pengeran Ketiga dan bayi Pengeran Kempat saat mereka baru lahir untuk mempermudah jalanmu jika dua orang itu sudah kita singkirkan."
"Tapi bagaimana caranya, ibu?" tanya Min-ho. "Keluarga Lim menjaga Pangeran Siwon, sedangkan pengawal ayah selalu berkeliaran di sekitar putra mahkota. Kita tidak bisa mendekati mereka."
Selir San memberikan senyuman, senyuman yang kemudian membentuk sebuah seringai. "Kau pikir selama ini apa yang aku lakukan?" tubuh selir San maju untuk berbisik pada Min-ho. "Aku sudah menanamkan racun sedikit demi sedikit untuk membunuh putra mahkota. Sejak dia kecil."
"Itukah alasan kenapa ada bercak merah di wajah putra mahkota?" tanya Min-ho. Sudah dua hari ini, ada bercak merah yang muncul di tubuh putra mahkota. Seperti campak.
Min-ho tersenyum penuh kemenangan. Tidak menyangka kalau ibunya sudah lebih dulu bertindak daripada dirinya. Berarti sebentar lagi putra mahkota akan menemui ajalnya. Dengan begitu dia akan mudah untuk menduduki tahta. Tapi, masih ada satu penghalang yang masih menghalangi jalannya.
"Bagaimana dengan Pangeran Kedua? Dia masih hidup di luar sana dan kita juga tidak tahu di mana dia berada." tanya Min-ho.
"Itu tugasmu. Cari Pangeran Kedua dan bunuh dia. Urusan putra mahkota akan aku urus."
Min-ho mencium bau yang sangat wangi. Bau yang akan segera membawaku pada tahta yang aku inginkan sejak kecil. Dan Siwon, tunggulah sampai aku merebut semua yang kau miliki. Batin Min-ho tertawa dengan sangat keras.
×××