Sunsuhan Romance

Sunsuhan Romance
Dua Puluh Satu


Malam sudah semakin larut namun Yoona sepertinya tak ingin cepat untuk tidur. Dia terus membaca buku-bukunya dan mengabaikan Siwon yang sedang berbaring menunggunya. Sebenarnya bukan itu maksud Yoona. Dia hanya sedang menghindari detak jantungnya yang bertalu-talu nyaring.


"Apakah buku-buku itu lebih tampan daripada suamimu ini?" tanya Siwon. Berbaring miring dan menatap Yoona yang sedikit meliriknya.


"Mereka memang lebih tampan daripada Yang Mulia."


Siwon mendengus mendengarnya. Bagaimana bisa buku tak bernyawa lebih tampan daripada dirinya? Ini merusak reputasinya. Pangeran kedua dikenal sebagai pangeran yang tertampan nomor dua. Karena nomor 1 dipegang oleh Pangeran Minho.


Membalikkan tubuhnya menjadi telungkup dan merentangkan kedua tangannya. "Ah, lelahnya." keluhnya. Lelah karena seharian bekerja tanpa henti.


"Jika Anda lelah, lebih baik Anda tidur. Lelah Anda akan hilang dengan itu." Ucap Yoona. Masih belum beralih dari buku yang dia baca. Tampaknya memang benar. Buku-buku itu lebih tampan dari suaminya yang tampak merajuk itu.


"Jika aku di istana, pasti ada pelayan yang akan memijatku. Rasanya tubuhku sudah hancur lebur."


Siwon masih berkeluh. Masih berusaha untuk mencoba menarik perhatian Yoona. Namun kali ini sepertinya berhasil karena Yoona sekarang sudah menutup bukunya dan menatap Siwon.


"Apakah Anda menyamakan saya dengan pelayan Anda, Yang Mulia?"


"Tidak," Siwon menggeleng sambil memejamkan matanya. "Aku tidak mengatakan demikian. Aku hanya merasa lelah saja."


Yoona sedikit tersenyum karena mendengar keluhan Siwon. Sedikit lucu karena seorang pangeran yang dingin kepada orang lain sedang mengeluh karena lelah yang didera.


Bagaimana tanggapan para pelayan di istana? Pasti mereka tidak akan percaya kalau di depannya ini adalah pangeran kedua.


Yoona membereskan buku yang dia baca dan meletakkannya ke dalam lemari yang berisi buku-buku lainnya. Kemudian mendekat untuk duduk di samping Siwon. "Ingin saya pijat. Walau jujur, saya tidak yakin Anda akan menyukainya." tawar Yoona.


Jika mereka di luar, mereka akan berbicara dengan bahasa non formal. Karena siapa pun akan curiga jika tiba-tiba saja Yoona dan Siwon berbicara dengan formal. Namun jika sudah di kamar, mereka akan kembali menjadi Nyonya Lim dan Pangeran Kedua.


"Boleh." Siwon memberikan izin. Merilekskan tubuhnya untuk menikmati pijatan pertama yang diberikan oleh Yoona.


Yoona memijat bahu Siwon. Tampak keras dan penuh otot. Sempat ragu untuk melanjutkan pijatannya. Karena ini adalah kedua kalinya dia menyentuh bahu Siwon. Yang pertama adalah saat malam pertama mereka.


Walaupun selama beberapa hari yang lalu mereka tidur saling berpelukan. Yoona hanya akan melipat kedua tangannya di depan dada tanpa menyentuh Siwon.


"Pijatanmu sangat enak. Aku merasa semua lelahku hilang." Siwon berkata lirih. Mengatakannya dengan begitu jujur karena sentuhan Yoona di bahunya berhasil membuat lelah yang menumpuk di sana pergi begitu saja.


Mengingatkannya pada pijatan yang Min Young berikan di malam saat Min Young menerima lamarannya. Sentuhan wanita yang begitu dia dambakan.


Ini bukan tentang jabatan. Siwon akui kalau pelayan atau pun perawat dari tabib istana akan nemijatnya dengan baik. Namun ini lebih tentang siapa yang melakukannya. Ketika Min Young yang melakukannya, dia merasakan cinta dan kasih sayang dari orang yang dia cintai.


Suatu malam. Pangeran Kedua, Choi Siwon, ketika umurnya 11 tahun sedang berlatih pedang seorang diri. Perhatiannya teralih pada sosok bayangan yang dia lihat sedang mengawasinya.


"Pangeran, jangan sering berlatih malam-malam."


"Kenapa?"


"Itu tidak baik. Banyak roh jahat yang berkeliaran di tengah malam.


Siwon awalnya tidak akan mempercayainya namun kini sepertinya harus. Sosok yang tidak ketahui siapa itu patut bukan untuk dicurigai? Mungkin roh jahat seperti kata kepala Kasim Kim atau mungkin seseorang yang sedang menguntitnya.


Matanya bertemu dengan sosok itu. Matanya bulat. Dan ketika awan yang menutup bulan telah pergi, Siwon dapat melihat dengan jelas rupa sosok yang mencoba bersembunyi di balik pohon.


Siwon membuka matanya. Sekelebat ingatan menghampirinya. Sebuah ingatan lampau tentang awal mula dari sakit hati yang dia rasakan. Siwon tidak ingin kembali mengingatnya. Dia sudah menemukan obatnya. Park Min Young, wanita yang akan dia nikahi di musim Gugur nanti.


"Yoona." panggil Siwon.


"Ya, Yang Mulia." Yoona menjawab. Kini tangannya berpindah ke punggung Siwon. Memijat bagian-bagian yang terasa kaku.


Siwon menarik napasnya dalam-dalam. "Sejak kapan kau mencintaiku?" tanyanya yang berhasil membuat aktivitas Yoona terhenti. Sudut matanya melirik ke arah Yoona yang terdiam. Pertanyaannya pasti sedikit mengejutkan. "Aku hanya ingin tahu seberapa besar istriku mencintai suaminya ini.


"Saya tidak tahu," Yoona kembali memijat punggung Siwon. Tatapannya menerawang jauh ke depan. Mencoba mencari kata yang cocok untuk dia katakan. Namun tidak ada. Karena kata yang cocok bukan dari pikiran. Tapi dari hatinya. "Tapi sepertinya sejak saya pertama kali bertemu dengan Anda. Saat saya melihat Anda begitu luar biasa dengan pedang Anda."


"Seberapa banyak kau mencintai suamimu ini."


Yoona menatap Siwon yang meliriknya. Memberikan sebuah senyuman yang indah untuk suaminya. "Seumur hidup saya akan saya lakukan. Mencintai Anda meski mungkin Anda akan menemukan orang yang lebih Anda cintai daripada saya. Karena saya sadar, hati Anda bukan untuk satu orang saja. Banyak ruang yang harus diisi. Tapi setidaknya saya tahu. Saya adalah salah satu pengisi ruang di hati Anda."


Ini adalah sandiwara yang terasa nyata. Tak ada beda antara kenyataan dan sandiwara. Entah pertanyaan Siwon hanya sandiwara saja atau memang tulus dari hatinya. Entah jawaban Yoona adalah jawaban jujur atau sebuah dialog dalam naskah.


Yang jelas setelah jawaban Yoona, Siwon hanya diam tanpa bertanya lagi. Memejamkan matanya seiring dengan pijatan yang membiusnya untuk segera tidur.


"Besok kita ke pasar. Aku ingin memberikan beberapa barang untukmu. Selama 12 hari kita di sini aku belum pernah membelikan sesuatu untukmu." ucap Siwon sebelum benar-benar jatuh dalam dunia mimpi.


Malam ini dia akan memimpikan sumber sakit hatinya.


×××