
39°C. Itu suhu yang ditunjukkan oleh
termometer. Sudah berulang kali Ia mengukur suhu tubuhnya. Hasilnya sama saja,
sejak tadi panasnya tak pernah turun meskipun hanya sekali. Lelaki itu juga
sudah minum obat, tetapi sepertinya virus-virus yang menyerang tubuhnya sangat
kuat. Virus itu seperti sudah resisten terhadap obat-obatan yang diminumnya.
Lelaki
itu sudah bosan berada di kamarnya. Ia ingin mencari udara segar. Tangannya
yang masih lemah menyingkapkan selimut tebal yang telah dipakainya selama
berjam-jam. Langkah kakinya masih kurang seimbang, sehingga Ia harus mencari
pegangan. Tubuh lelaki itu sangat rapat dengan pintu kamarnya.
Ia
sudah berhasil membuka sedikit celah. Ingin rasanya Ia segera bebas dari
suasana pengap di kamarnya. Namun, beberapa detik kemudian Ia terdiam seperti
patung.
Kedua
lensa matanya terfokus kepada sebuah pemandangan di depan pintu yang tak jauh
dari kamarnya. Ia tak pernah melihat ruang itu terbuka satu kali saja. Ibunya
sedang berbicara dengan seseorang yang memakai jas hitam tebal dan rapi. Dasi
yang menggantung di leher orang itu membuatnya terlihat lebih berwibawa. Tuan
Yamada, 34 tahun. Dia adalah seorang pengacara yang mendapat kepercayaan lebih
dari keluarga Aihara. Dia sudah seperti keluarga.
Izaka hanya melihat mereka dari
kejauhan. Perbincangan mereka terdengar samar-samar.
“Aku banyak berhutang
padamu. Tanpa jasa-jasamu, kebahagiaan ini takkan pernah ku rasakan. Terima
kasih, Tuan Yamada.” kata Nyonya Harumi.
“Anda tidak perlu
berterima kasih, ini sudah menjadi tugas saya. Jasa keluarga ini jauh lebih
besar daripada apa yang saya lakukan.” sahut Tuan Yamada segera. Tuan Yamada
sangat mengagumi keluarga Aihara. Keluarga Aihara telah membantunya dalam
banyak hal.
Keluarga Tuan Yamada bisa
menyantap sesuap nasi karena keluarga ini, dan Ia bisa menjadi pengacara juga
karena keluarga ini. Tuan Yamada sangat tahu itu. Tak banyak hal yang bisa
dilakukannya untuk membalas semua hutang budinya.
“Yamada-san, aku minta
tolong padamu untuk menyingkirkan sampah-sampah yang masih tersimpan akibat
kecelakaan tiga tahun yang lalu.” perintah
Nyonya Harumi. Wanita itu menyodorkan sebuah kunci yang mampu membuka pintu di
sampingnya itu.
Kecelakaan? Mungkinkah kecelakaan
dalam mimpinya? Izaka begitu tersentak
saat mendengarnya.
Sayangnya,
Ia tidak tahu apa-apa tentang orang yang ada dalam kecelakaan itu. Selalu
seperti ini, orang-orang di rumah ini tak lelah menyembunyikan sesuatu darinya.
Menyembunyikan masa lalunya. Ia ingin mencari petunjuk.
Ia
yakin kalau orang yang ada di mimpinya memiliki ikatan dengannya. Payah, Ia tak
bisa mengingat siapa orang itu. Mungkinkah orang yang ada di mimpinya itu orang
tua kandungnya? Memori sebelum kecelakaan itu malah masih tersimpan jelas di
memorinya. Ia mengingat beberapa orang, namun dua orang yang ada di mimpinya
sama sekali tak Ia ingat. Kenapa hanya dua orang itu? Jika demikian, Ia ingin
bertemu dengan seseorang yang masih diingatnya. Meskipun Ia sudah bertemu
dengan salah satu orang yang bisa Ia ingat.
Oh tidak, tubuhnya sudah kelelahan.
Izaka meremas kepalanya, menahan rasa sakit itu.
Brukk!
Tubuh
lelaki itu terjatuh dan menimbulkan suara keras. Ibunya yang mendengar langsung
menuju kamarnya. Ia direngkuh dan dibantu untuk kembali berbaring di tempat
tidur. Perempuan itu bahkan membelai kepalanya. Perempuan itu sangat
mencemaskannya. Ibunya sudah menawarinya untuk memanggil dokter. Namun Izaka
menolak. Izaka hanya bilang kalau Ia sedang ingin makan bubur kacang hijau yang
dicampur dengan ketan hitam, dan dia ingin ibunya sendiri yang membelikan itu
untuknya.
Setelah
ibunya pergi Izaka bangun dari tempat tidurnya, dan menuju ke pintu yang sudah
terbuka yang Ia lihat jauh di depan kamarnya. Di tempat itu, pasti Ia bisa
menemukan sesuatu. Ia tetap pergi kesana walau harus berjalan sempoyongan.
Ketidakbisaannya mengingat masa lalunya sangat menyiksa. Apapun itu, Ia harus
mengingatnya.
Saat
kaget. Tetapi sekarang itu bukanlah masalah. Ayah dan ibunya memang sangat
menyayanginya, tetapi mereka terlalu banyak mengisolasi dirinya dari hal yang
seharusnya Ia ketahui.
Tiga
tahun yang lalu. Setelah Ia sudah benar-benar pulih akibat kecelakaan yang
menimpanya, Ia didaftarkan di salah satu SMP di kota Tokyo yang masih terasa
asing untuk lelaki itu. Tak ada diantara siswa yang ada di sekolah itu yang
dikenalnya. Wajah-wajah yang ditemuinya selalu terlihat asing dalam
pandangannya.
Seusai sekolah Izaka tak
berniat mampir kemana pun, Ia langsung pulang ke rumahnya. Ia tak sengaja
mendengar percakapan ibunya dengan Tuan Yamada. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Ia hanya berdiri rapat dengan dinding yang menjadi sekat dengan ruang tamu di
rumahnya.
“Secara hukum, Izaka sudah
menjadi anak Anda. Semua berjalan sesuai keinginan Anda.” kata Tuan Yamada,
lelaki itu mengeluarkan berkas dari tasnya. Itu pasti surat-surat yang penting.
“Sebelumnya aku belum
pernah memiliki seorang anak, melihat anak itu yang menjadi anakku.. aku sangat
bahagia,” perempuan yang dipanggilnya ibu tak kuasa menahan tangis. Dari sudut
matanya, terjun air mata yang membuat pipi ibunya basah.
Izaka mendengar semuanya.
Artinya Ia bukan anak kandung ibunya itu. Ia bergerak menjauh, menghabiskan
waktunya di kamar dalam waktu yang cukup lama. Ia sulit ditemui dan hanya
mengurung diri di kamar selama beberapa hari.
Tekad menjadi modalnya
untuk mencari tahu tentang orang tua kandungnya. Ia tidak bisa bertanya
langsung kepada keluarganya disini, karena kemungkinan itu akan melukai
perasaan ibunya. Ibunya bisa mendapat
kesan bahwa Ia tidak menginginkan ibu sepertinya.
Sampai sekarang Ia masih
berusaha. Sampai sekarang pula ayah, ibu dan pengacara itu juga tak menyadari
kalau Ia sudah tahu bahwa Ia bukan siapa-siapa dalam keluarga Aihara.
Akhirnya Izaka sudah
melewati batas tempat melekatnya pintu coklat itu. Dalam ruangan itu banyak
sekali debu yang terpandang. Ruangan itu tak pernah dibersihkan dan tak pernah
disentuh. Ia bisa menemukan Tuan Yamada yang sedang memasukkan barang-barang ke
dalam kardus berukuran sedang. Itu pasti barang-barang yang berhubungan
dengannya.
Tak lama, Tuan Yamada menyadari
kehadirannya.
“Sedang apa kau disini,
Izaka-san? Aku dengar kau sedang sakit, jadi bukankah lebih baik kau
istirahat?” ucap Tuan Yamada, mukanya setengah pucat.
Lelaki itu khawatir dengan
apa yang akan dilakukan Izaka bila masih di ruang itu.
“Sakit? Aku tak ingin
menjadikan itu sebagai alasan untuk keluar dari sini.” kata Izaka, terdengar
sangat memperingatkan bahwa Izaka akan berbuat sesuatu. Tuan Yamada semakin
cemas, dan gusar melihat perilaku Izaka.
Izaka berjalan mendekati
Tuan Yamada, Ia menyentuh kardus itu dan menemukan sesuatu disana. Selembar
foto. Di foto itu terlihat sepasang suami istri yang tersenyum dan seorang anak
lelaki dengan ekspresi cemberut. Itu adalah dirinya sepuluh tahun yang lalu,
sepertinya. Sangat lucu dan menggemaskan. Mungkinkah Ia selalu seperti itu?
Selalu cemberut?
Sepasang
suami istri di foto itu pasti orang tua kandungnya. Izaka sangat diam dan
terlena. Ingin rasanya Ia menangis. Jika orang tua kandungnya masih hidup, Ia
tinggal mencarinya dengan bekal foto itu. Izaka membersihkan debu yang menempel
di foto itu.
“Kelihatannya ini barang
yang bersejarah.” ujar Izaka sambil terus membersihkan debu itu sampai tak
tersisa. Beberapa detik kemudian, Izaka keluar dari ruangan itu tak lupa dengan
foto yang diambilnya.
Ia tidak tahu setelah
kejadian ini Tuan Yamada akan membuka mulutnya atau tidak. Barusan, Ia tak bisa
menahan dirinya. Untungnya Ia tidak terlambat, sehingga Ia bisa menggunakan
foto itu untuk mencari informasi. Entah kenapa Izaka yakin kalau orang yang ada
di foto itu orang tua kandungnya.
***