Remember Again

Remember Again
9


39°C. Itu suhu yang ditunjukkan oleh


termometer. Sudah berulang kali Ia mengukur suhu tubuhnya. Hasilnya sama saja,


sejak tadi panasnya tak pernah turun meskipun hanya sekali. Lelaki itu juga


sudah minum obat, tetapi sepertinya virus-virus yang menyerang tubuhnya sangat


kuat. Virus itu seperti sudah resisten terhadap obat-obatan yang diminumnya.


         Lelaki


itu sudah bosan berada di kamarnya. Ia ingin mencari udara segar. Tangannya


yang masih lemah menyingkapkan selimut tebal yang telah dipakainya selama


berjam-jam. Langkah kakinya masih kurang seimbang, sehingga Ia harus mencari


pegangan. Tubuh lelaki itu sangat rapat dengan pintu kamarnya.


         Ia


sudah berhasil membuka sedikit celah. Ingin rasanya Ia segera bebas dari


suasana pengap di kamarnya. Namun, beberapa detik kemudian Ia terdiam seperti


patung.


         Kedua


lensa matanya terfokus kepada sebuah pemandangan di depan pintu yang tak jauh


dari kamarnya. Ia tak pernah melihat ruang itu terbuka satu kali saja. Ibunya


sedang berbicara dengan seseorang yang memakai jas hitam tebal dan rapi. Dasi


yang menggantung di leher orang itu membuatnya terlihat lebih berwibawa. Tuan


Yamada, 34 tahun. Dia adalah seorang pengacara yang mendapat kepercayaan lebih


dari keluarga Aihara. Dia sudah seperti keluarga.


Izaka hanya melihat mereka dari


kejauhan. Perbincangan mereka terdengar samar-samar.


“Aku banyak berhutang


padamu. Tanpa jasa-jasamu, kebahagiaan ini takkan pernah ku rasakan. Terima


kasih, Tuan Yamada.” kata Nyonya Harumi.


“Anda tidak perlu


berterima kasih, ini sudah menjadi tugas saya. Jasa keluarga ini jauh lebih


besar daripada apa yang saya lakukan.” sahut Tuan Yamada segera. Tuan Yamada


sangat mengagumi keluarga Aihara. Keluarga Aihara telah membantunya dalam


banyak hal.


Keluarga Tuan Yamada bisa


menyantap sesuap nasi karena keluarga ini, dan Ia bisa menjadi pengacara juga


karena keluarga ini. Tuan Yamada sangat tahu itu. Tak banyak hal yang bisa


dilakukannya untuk membalas semua hutang budinya.


“Yamada-san, aku minta


tolong padamu untuk menyingkirkan sampah-sampah yang masih tersimpan akibat


kecelakaan tiga tahun yang lalu.”  perintah


Nyonya Harumi. Wanita itu menyodorkan sebuah kunci yang mampu membuka pintu di


sampingnya itu.


Kecelakaan? Mungkinkah kecelakaan


dalam  mimpinya? Izaka begitu tersentak


saat mendengarnya.


         Sayangnya,


Ia tidak tahu apa-apa tentang orang yang ada dalam kecelakaan itu. Selalu


seperti ini, orang-orang di rumah ini tak lelah menyembunyikan sesuatu darinya.


Menyembunyikan masa lalunya. Ia ingin mencari petunjuk.


         Ia


yakin kalau orang yang ada di mimpinya memiliki ikatan dengannya. Payah, Ia tak


bisa mengingat siapa orang itu. Mungkinkah orang yang ada di mimpinya itu orang


tua kandungnya? Memori sebelum kecelakaan itu malah masih tersimpan jelas di


memorinya. Ia mengingat beberapa orang, namun dua orang yang ada di mimpinya


sama sekali tak Ia ingat. Kenapa hanya dua orang itu? Jika demikian, Ia ingin


bertemu dengan seseorang yang masih diingatnya. Meskipun Ia sudah bertemu


dengan salah satu orang yang bisa Ia ingat.


Oh tidak, tubuhnya sudah kelelahan.


Izaka meremas kepalanya, menahan rasa sakit itu.


         Brukk!


         Tubuh


lelaki itu terjatuh dan menimbulkan suara keras. Ibunya yang mendengar langsung


menuju kamarnya. Ia direngkuh dan dibantu untuk kembali berbaring di tempat


tidur. Perempuan itu bahkan membelai kepalanya. Perempuan itu sangat


mencemaskannya. Ibunya sudah menawarinya untuk memanggil dokter. Namun Izaka


menolak. Izaka hanya bilang kalau Ia sedang ingin makan bubur kacang hijau yang


dicampur dengan ketan hitam, dan dia ingin ibunya sendiri yang membelikan itu


untuknya.


         Setelah


ibunya pergi Izaka bangun dari tempat tidurnya, dan menuju ke pintu yang sudah


terbuka yang Ia lihat jauh di depan kamarnya. Di tempat itu, pasti Ia bisa


menemukan sesuatu. Ia tetap pergi kesana walau harus berjalan sempoyongan.


Ketidakbisaannya mengingat masa lalunya sangat menyiksa. Apapun itu, Ia harus


mengingatnya.


         Saat


kaget. Tetapi sekarang itu bukanlah masalah. Ayah dan ibunya memang sangat


menyayanginya, tetapi mereka terlalu banyak mengisolasi dirinya dari hal yang


seharusnya Ia ketahui.


         Tiga


tahun yang lalu. Setelah Ia sudah benar-benar pulih akibat kecelakaan yang


menimpanya, Ia didaftarkan di salah satu SMP di kota Tokyo yang masih terasa


asing untuk lelaki itu. Tak ada diantara siswa yang ada di sekolah itu yang


dikenalnya. Wajah-wajah yang ditemuinya selalu terlihat asing dalam


pandangannya.


Seusai sekolah Izaka tak


berniat mampir kemana pun, Ia langsung pulang ke rumahnya. Ia tak sengaja


mendengar percakapan ibunya dengan Tuan Yamada. Ia tak tahu harus berbuat apa.


Ia hanya berdiri rapat dengan dinding yang menjadi sekat dengan ruang tamu di


rumahnya.


“Secara hukum, Izaka sudah


menjadi anak Anda. Semua berjalan sesuai keinginan Anda.” kata Tuan Yamada,


lelaki itu mengeluarkan berkas dari tasnya. Itu pasti surat-surat yang penting.


“Sebelumnya aku belum


pernah memiliki seorang anak, melihat anak itu yang menjadi anakku.. aku sangat


bahagia,” perempuan yang dipanggilnya ibu tak kuasa menahan tangis. Dari sudut


matanya, terjun air mata yang membuat pipi ibunya basah.


Izaka mendengar semuanya.


Artinya Ia bukan anak kandung ibunya itu. Ia bergerak menjauh, menghabiskan


waktunya di kamar dalam waktu yang cukup lama. Ia sulit ditemui dan hanya


mengurung diri di kamar selama beberapa hari.


Tekad menjadi modalnya


untuk mencari tahu tentang orang tua kandungnya. Ia tidak bisa bertanya


langsung kepada keluarganya disini, karena kemungkinan itu akan melukai


perasaan ibunya.  Ibunya bisa mendapat


kesan bahwa Ia tidak menginginkan ibu sepertinya.


Sampai sekarang Ia masih


berusaha. Sampai sekarang pula ayah, ibu dan pengacara itu juga tak menyadari


kalau Ia sudah tahu bahwa Ia bukan siapa-siapa dalam keluarga Aihara.


Akhirnya Izaka sudah


melewati batas tempat melekatnya pintu coklat itu. Dalam ruangan itu banyak


sekali debu yang terpandang. Ruangan itu tak pernah dibersihkan dan tak pernah


disentuh. Ia bisa menemukan Tuan Yamada yang sedang memasukkan barang-barang ke


dalam kardus berukuran sedang. Itu pasti barang-barang yang berhubungan


dengannya.


Tak lama, Tuan Yamada menyadari


kehadirannya.


“Sedang apa kau disini,


Izaka-san? Aku dengar kau sedang sakit, jadi bukankah lebih baik kau


istirahat?” ucap Tuan Yamada, mukanya setengah pucat.


Lelaki itu khawatir dengan


apa yang akan dilakukan Izaka bila masih di ruang itu.


“Sakit? Aku tak ingin


menjadikan itu sebagai alasan untuk keluar dari sini.” kata Izaka, terdengar


sangat memperingatkan bahwa Izaka akan berbuat sesuatu. Tuan Yamada semakin


cemas, dan gusar melihat perilaku Izaka.


Izaka berjalan mendekati


Tuan Yamada, Ia menyentuh kardus itu dan menemukan sesuatu disana. Selembar


foto. Di foto itu terlihat sepasang suami istri yang tersenyum dan seorang anak


lelaki dengan ekspresi cemberut. Itu adalah dirinya sepuluh tahun yang lalu,


sepertinya. Sangat lucu dan menggemaskan. Mungkinkah Ia selalu seperti itu?


Selalu cemberut?


         Sepasang


suami istri di foto itu pasti orang tua kandungnya. Izaka sangat diam dan


terlena. Ingin rasanya Ia menangis. Jika orang tua kandungnya masih hidup, Ia


tinggal mencarinya dengan bekal foto itu. Izaka membersihkan debu yang menempel


di foto itu.


“Kelihatannya ini barang


yang bersejarah.” ujar Izaka sambil terus membersihkan debu itu sampai tak


tersisa. Beberapa detik kemudian, Izaka keluar dari ruangan itu tak lupa dengan


foto yang diambilnya.


Ia tidak tahu setelah


kejadian ini Tuan Yamada akan membuka mulutnya atau tidak. Barusan, Ia tak bisa


menahan dirinya. Untungnya Ia tidak terlambat, sehingga Ia bisa menggunakan


foto itu untuk mencari informasi. Entah kenapa Izaka yakin kalau orang yang ada


di foto itu orang tua kandungnya.


***