Remember Again

Remember Again
3


Senja baru saja dimulai.


Semburat warna oranye di langit terpancar dengan indah. Izaka merasa tak tega


untuk membangunkan Aiko yang tertidur dengan nyaman. Dengan perlahan Ia


mengusap kepala gadis itu. Gadis itu seperti begadang semalaman saja. Semoga


saja itu tak membangunkannya. Lelaki itu bisa merasakan rambut Aiko yang sangat


lembut dalam sentuhan telapak tangannya, dan Ia juga yakin bau harum dari


rambut gadis itu akan merekat di telapak tangannya.


 


 


Aiko mulai bergerak. Izaka


segera berhenti mengusap rambut gadis itu dan pura-pura tidak melakukan hal


apapun. Saat ini Aiko sudah sadar sepenuhnya, dia bahkan menyelipkan rambutnya


ke belakang telinganya. Dia terlihat sangat manis saat baru bangun. Entah.


Itulah yang ada di pikiran Izaka saat melihat gadis itu terbangun.


 


 


         “Ah...hh..!!!!”


suara Aiko begitu kesadarannya penuh. Bagaimana Ia bisa tertidur? Ia masih


ingat dengan apa yang Ia lakukan sebelum Ia tertidur.


 


 


         Izaka


hanya mengangkat sudut bibirnya, sedikit menertawainya. Aiko pun memilih cuek.


 


 


“Jam berapa sekarang?


Bagaimana? Apa sudah selesai?” tanya Aiko kemudian.


 


 


“Sudah dari setengah jam


yang lalu,” katanya sambil mengangkat sudut bibirnya.


 


 


"なに  Nani? (A-apaaa?)


Lalu apa yang kau lakukan selama setengah jam itu?” tanya Aiko cemas. Bisa saja Izaka sudah berbuat macam-macam


kepadanya.


 


 


“Menunggumu bangun.”


ucapnya. Aiko masih menatap Izaka curiga.


 


 


“Itu saja.” ucapnya lagi


untuk meyakinkan Aiko. Aiko tak memberi tanggapan apapun. Hanya mengalihkan


mukanya dari lelaki itu.


 


 


“Baiklah, kalau begitu


kita pulang sekarang.”


 


 


Izaka bangun dari tempat


duduknya dan menggendong tas ranselnya. Ia sudah bersiap melangkah keluar.


Tidak tahu kenapa Aiko menahan lengannya. Ia menoleh ke arah Aiko dan


menampilkan wajah yang penuh tanya.


 


 


“どうしてDoushite? (Kenapa?). Kau masih ingin


berlama-lama denganku?” tanya Izaka percaya diri. Meskipun Izaka sudah


menggodanya ekspresi Aiko tetap datar. Gadis itu sama sekali tak terpengaruh


oleh kata-kata Izaka.


 


 


“Benarkah kau Aihara


Izaka? Bukan Yoshio Izaka?”


 


 


Aiko memandang Izaka


dengan serius, tetapi lelaki itu masih belum menjawab. Justru, lelaki itu malah


mendekatkan wajahnya. Ia tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh lelaki


itu. Wajah lelaki itu sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan pandangannya berubah


kabur saking dekatnya. Apakah lelaki itu akan menciumnya? Bagaimanapun juga Ia


tak mau jika hal itu sampai terjadi. Jika itu terjadi, Ia akan mengutuk lelaki


itu.


 


 


Jantung gadis itu


berdebar-debar. Ia tak pernah merasakan itu sebelumnya. Baginya, ini sangat


aneh. Tubuhnya terasa kaku, kedua kelopak matanya pun tak bisa menutup. Ia jadi


kesulihan bernafas. Ia tak bisa mengendalikan tubuhnya.


 


 


Plaakkkk!!


 


 


Gadis itu langsung


menampar wajah Izaka dengan keras, tetapi lelaki itu tak kelihatan marah. Izaka


benar-benar tak marah sekalipun, dia hanya tersenyum kepada gadis itu. Sama


sekali tak terlihat mempermasalahkan tamparan yang diberikan oleh Aiko.


 


 


“Apa yang kau lakukan?”


tanya Aiko kemudian. Senyuman di wajah Izaka belum juga memudar.


 


 


“Apakah Yoshio Izaka, akan


berani melakukan hal itu?” tanya Izaka, Aiko membisu.


 


 


“Siapa Yoshio Izaka itu?


Apa dia pacarmu?” tambah Izaka kemudian.


 


 


Alis lelaki itu terangkat.


Gaya bertanyanya seperti seorang wartawan yang sedang menginterogasi. Aiko


yakin bahwa Izaka yang bersamanya itu bukan teman masa SMP-nya. Dia orang yang


benar-benar berbeda.


 


 


“Kurasa kau hanya Aihara


Izaka yang payah,”


 


 


Aiko bangkit dari tempat


duduknya, mengambil tasnya di kursi dan melangkah pergi. Izaka segera menyusul


gadis itu tanpa pikir panjang. Gadis itu sudah berjalan beberapa langkah


mendahului Izaka. Tetapi Izaka itu seorang laki-laki, jadi sangat mudah untuk


menyusul langkah kaki gadis itu.


 


 


“Hei! Kau tidak menjawab pertanyaanku?


Benarkah Yoshio Izaka itu pacarmu?” tanya Izaka.


 


 


Lelaki itu berjalan mundur


dengan kepala tepat dimiringkan agar bisa berhadapan dengan Aiko. Lelaki itu


tak merasa kesulitan, Ia bisa mengimbangi langkah kaki Aiko dengan kedua tangan


yang dimasukkan ke dalam saku celananya.


 


 


Beberapa detik kemudian


ponsel Izaka berdering, lantas Izaka harus menghentikan langkah kakinya. Ia


membiarkan Aiko berjalan semakin jauh darinya.


 


 


Ayahnya, Tuan Higashi yang


menelepon. Saat itu juga Ia diminta segera ke rumah sakit. Ibunya, Nyonya


Harumi dikabarkan mengalami kecelakaan kecil di rumah. Ibunya terpeleset di


tangga.


 


 


Bagai kilat lelaki itu


menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Dalam kecelakaan itu ibunya


kehilangan banyak darah, dan sampai sekarang kondisi ibunya masih kritis.


Sementara stok darah di rumah sakit sudah tidak ada lagi, dari pihak keluarga


 


 


“Otou-san (Ayah), jika


darahku bisa menyelamatkan ibu.. ” kata Izaka pilu. Dia tidak tega melihat


tubuh ibunya yang membisu dan terbujur beku. Sama sekali tak ada pergerakan. Ia


lebih suka melihat ibunya yang cerewet dan selalu marah kepadanya daripada


ibunya yang sekarang.


 


 


“いいえ Iie.


(Tidak). Kau belum genap tujuh belas tahun. Jadi, kau tak bisa lakukan itu.” kata


ayahnya.


 


 


Tuan Higashi sendiri juga


sangat khawatir dengan kondisi istrinya.  Saat Ia mendengar kabar itu saja sudah sangat membuatnya terpukul,


apalagi saat stok darah di rumah sakit itu sedang kosong.


 


 


Sebenarnya Tuan Higashi


hanya berbohong. Izaka bukanlah anak kandungnya jadi tak mungkin darahnya akan


cocok. Sudah sejak lama Izaka mengetahui kebenaran itu. Tetapi Ia harus tetap


berpura-pura agar dia bisa hidup, karena masih ada banyak hal yang


membingungkan baginya.


 


 


Izaka menuruti apa yang


dikatakan ayahnya. Mereka akan menunggu darah untuk ibunya, di sela-sela itu


mereka tak putus untuk memanjatkan doa.


 


 


Berkat usaha keras tim


dokter dan seluruh komponen rumah sakit ibunya bisa selamat. Nyonya Harumi


sudah sadarkan diri. Sayangnya, ibunya masih sangat lemah.


 


 


“Okaa-san (Ibu), lain kali


ibu harus lebih berhati-hati.” ucap Izaka sambil memegang tangan ibunya.


 


 


“Maafkan aku karena sudah


membuatmu merasa cemas.” jawab ibunya dengan volume yang rendah. Sejak Nyonya


Harumi sadar, wanita itu belum bisa berbicara dengan lebih keras.


 


 


“Tidak, ibu tidak perlu minta


maaf. Justru aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjaga ibu


dengan baik.” sahut Izaka. Ia masih menggenggam tangan ibunya erat, memberikan


dukungan untuk ibunya agar lebih cepat pulih.


 


 


Izaka sendiri sangat


menyayangi ibunya meskipun wanita itu pernah mengecewakannya. Wanita itu begitu


perhatian kepadanya. Hal sekecil apapun tak luput dari perhatian wanita itu.


Meski wanita itu bukan ibunya yang sebenarnya, tak lupa Ia selalu bersyukur


karena diasuh oleh wanita itu. Wanita itu menempati posisi yang istimewa di


hatinya.


 


 


 


 


***


 


 


 


 


Rumahnya memang tak bisa


dikatakan mewah. Tetapi setidaknya rumah dengan pagar setinggi satu setengah


meter itu layak untuk ditempati. Rumahnya tidak jauh beda dengan rumah-rumah


yang ada disekitar kompleks perumahan ini.  Perbedaannya terletak pada dinding-dinding di rumahnya yang di cat


dengan warna paling mencolok, perpaduan antara warna jingga dan biru.


 


 


Aiko sudah sangat lelah.


Tas yang Ia gendong di punggungnya semakin menambah rasa lelahnya. Tas itu


hanya menjadi beban bagi punggungnya. Ia sudah sampai di gerbang depan


rumahnya. Keringat yang mengucur deras di dahinya Ia usap segera. Gerbang yang


tadinya terkunci segera dibukanya. Sesaat sebelum gerbang itu terbuka seutuhnya


terdengar suara yang bisa Ia duga berasal dari samping rumahnya. Itu sudah


sering terjadi. Tetangganya masih saja tidak berubah, selalu membuat keributan.


 


 


“Dasar, anak kurang ajar!


Kenapa kau tak belajar di rumah saja? Bisanya cuma menghabiskan uang orang


tua!” suara itu terdengar sangat keras, jenis suaranya mudah dikenali yakni


suara seorang wanita dewasa yang  tentunya sudah memiliki anak. Suara itu terdengar seperti petir yang


menyambar.


 


 


“Ibu! Lebih baik aku bodoh


daripada tidak punya teman. Aku tahu kalau ibu sedang membandingkanku dengan Aiko,


tapi aku tidak ingin menjadi sepertinya yang tidak punya satu teman pun!” ucap


Zei juga keras, lebih tepatnya dengan nada membentak.


 


 


         Hanya


dalam hitungan detik, Zei sudah muncul di pintu gerbang rumahnya. Mau tidak mau


Aiko harus berpandangan dengan Zei sebentar.


 


 


“Kau marah?” tanya Zei


ketus.


 


 


Aiko tak menanggapinya dan


langsung masuk ke rumahnya. Zei malah menatap kepergian Aiko dengan tatapan


yang sengit. Aiko tetap tidak peduli, Ia tidak ingin mempermasalahkannya, itu


hanya akan membuang waktunya percuma.


 


 


“Orang aneh,” gumam Zei.


Tak ada yang bisa mendengar ucapan itu. Begitu juga Aiko.


 


 


Zei mengatakan kalau


dirinya tidak mempunyai teman. Itu sudah menjadi keputusannya. Di dunia ini tak


ada yang abadi, semua bisa pergi begitu saja tanpa kita sadari. Begitulah


anggapan Aiko.


 


 


Ia sudah memutuskan untuk


tidak berusaha berteman dengan siapapun lagi karena Ia takut kehilangan.


Kehilangan hanya akan membuatnya kesepian. Ia seperti bidadari yang tak


mempunyai sayap. Seperti itulah saat Ia kehilangan sosok Yoshio Izaka.


 


 


Sekarang Ia sudah tak


pernah merasa kesepian lagi, buku-buku pelajaran sudah cukup menemaninya. Lebih


baik Ia menggunakan waktunya untuk sesuatu yang penting. Jika tak ada yang


sepemikiran dengannya juga tidak apa-apa, itu sudah cukup.


 


 


Aiko mengelus dadanya,


menyadari kalau baru saja Ia menjadi bahan pembicaraan. Itu pasti karena


perkataan ibunya tempo hari lalu. Aiko hanya menganggap itu sebagai ajang


menyianyiakan waktu. Padahal menurutnya, membicarakan dirinya tak ada gunanya


sama sekali. Bahkan hanya akan melahirkan masalah baru. Seperti yang dilihatnya


tadi. Zei dan Nyonya Higawa yang merupakan sepasang anak dan ibu bertengkar


karenanya.


 


 


 


 


***