
Senja baru saja dimulai.
Semburat warna oranye di langit terpancar dengan indah. Izaka merasa tak tega
untuk membangunkan Aiko yang tertidur dengan nyaman. Dengan perlahan Ia
mengusap kepala gadis itu. Gadis itu seperti begadang semalaman saja. Semoga
saja itu tak membangunkannya. Lelaki itu bisa merasakan rambut Aiko yang sangat
lembut dalam sentuhan telapak tangannya, dan Ia juga yakin bau harum dari
rambut gadis itu akan merekat di telapak tangannya.
Aiko mulai bergerak. Izaka
segera berhenti mengusap rambut gadis itu dan pura-pura tidak melakukan hal
apapun. Saat ini Aiko sudah sadar sepenuhnya, dia bahkan menyelipkan rambutnya
ke belakang telinganya. Dia terlihat sangat manis saat baru bangun. Entah.
Itulah yang ada di pikiran Izaka saat melihat gadis itu terbangun.
“Ah...hh..!!!!”
suara Aiko begitu kesadarannya penuh. Bagaimana Ia bisa tertidur? Ia masih
ingat dengan apa yang Ia lakukan sebelum Ia tertidur.
Izaka
hanya mengangkat sudut bibirnya, sedikit menertawainya. Aiko pun memilih cuek.
“Jam berapa sekarang?
Bagaimana? Apa sudah selesai?” tanya Aiko kemudian.
“Sudah dari setengah jam
yang lalu,” katanya sambil mengangkat sudut bibirnya.
"なに Nani? (A-apaaa?)
Lalu apa yang kau lakukan selama setengah jam itu?” tanya Aiko cemas. Bisa saja Izaka sudah berbuat macam-macam
kepadanya.
“Menunggumu bangun.”
ucapnya. Aiko masih menatap Izaka curiga.
“Itu saja.” ucapnya lagi
untuk meyakinkan Aiko. Aiko tak memberi tanggapan apapun. Hanya mengalihkan
mukanya dari lelaki itu.
“Baiklah, kalau begitu
kita pulang sekarang.”
Izaka bangun dari tempat
duduknya dan menggendong tas ranselnya. Ia sudah bersiap melangkah keluar.
Tidak tahu kenapa Aiko menahan lengannya. Ia menoleh ke arah Aiko dan
menampilkan wajah yang penuh tanya.
“どうしてDoushite? (Kenapa?). Kau masih ingin
berlama-lama denganku?” tanya Izaka percaya diri. Meskipun Izaka sudah
menggodanya ekspresi Aiko tetap datar. Gadis itu sama sekali tak terpengaruh
oleh kata-kata Izaka.
“Benarkah kau Aihara
Izaka? Bukan Yoshio Izaka?”
Aiko memandang Izaka
dengan serius, tetapi lelaki itu masih belum menjawab. Justru, lelaki itu malah
mendekatkan wajahnya. Ia tak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh lelaki
itu. Wajah lelaki itu sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan pandangannya berubah
kabur saking dekatnya. Apakah lelaki itu akan menciumnya? Bagaimanapun juga Ia
tak mau jika hal itu sampai terjadi. Jika itu terjadi, Ia akan mengutuk lelaki
itu.
Jantung gadis itu
berdebar-debar. Ia tak pernah merasakan itu sebelumnya. Baginya, ini sangat
aneh. Tubuhnya terasa kaku, kedua kelopak matanya pun tak bisa menutup. Ia jadi
kesulihan bernafas. Ia tak bisa mengendalikan tubuhnya.
Plaakkkk!!
Gadis itu langsung
menampar wajah Izaka dengan keras, tetapi lelaki itu tak kelihatan marah. Izaka
benar-benar tak marah sekalipun, dia hanya tersenyum kepada gadis itu. Sama
sekali tak terlihat mempermasalahkan tamparan yang diberikan oleh Aiko.
“Apa yang kau lakukan?”
tanya Aiko kemudian. Senyuman di wajah Izaka belum juga memudar.
“Apakah Yoshio Izaka, akan
berani melakukan hal itu?” tanya Izaka, Aiko membisu.
“Siapa Yoshio Izaka itu?
Apa dia pacarmu?” tambah Izaka kemudian.
Alis lelaki itu terangkat.
Gaya bertanyanya seperti seorang wartawan yang sedang menginterogasi. Aiko
yakin bahwa Izaka yang bersamanya itu bukan teman masa SMP-nya. Dia orang yang
benar-benar berbeda.
“Kurasa kau hanya Aihara
Izaka yang payah,”
Aiko bangkit dari tempat
duduknya, mengambil tasnya di kursi dan melangkah pergi. Izaka segera menyusul
gadis itu tanpa pikir panjang. Gadis itu sudah berjalan beberapa langkah
mendahului Izaka. Tetapi Izaka itu seorang laki-laki, jadi sangat mudah untuk
menyusul langkah kaki gadis itu.
“Hei! Kau tidak menjawab pertanyaanku?
Benarkah Yoshio Izaka itu pacarmu?” tanya Izaka.
Lelaki itu berjalan mundur
dengan kepala tepat dimiringkan agar bisa berhadapan dengan Aiko. Lelaki itu
tak merasa kesulitan, Ia bisa mengimbangi langkah kaki Aiko dengan kedua tangan
yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
Beberapa detik kemudian
ponsel Izaka berdering, lantas Izaka harus menghentikan langkah kakinya. Ia
membiarkan Aiko berjalan semakin jauh darinya.
Ayahnya, Tuan Higashi yang
menelepon. Saat itu juga Ia diminta segera ke rumah sakit. Ibunya, Nyonya
Harumi dikabarkan mengalami kecelakaan kecil di rumah. Ibunya terpeleset di
tangga.
Bagai kilat lelaki itu
menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat. Dalam kecelakaan itu ibunya
kehilangan banyak darah, dan sampai sekarang kondisi ibunya masih kritis.
Sementara stok darah di rumah sakit sudah tidak ada lagi, dari pihak keluarga
“Otou-san (Ayah), jika
darahku bisa menyelamatkan ibu.. ” kata Izaka pilu. Dia tidak tega melihat
tubuh ibunya yang membisu dan terbujur beku. Sama sekali tak ada pergerakan. Ia
lebih suka melihat ibunya yang cerewet dan selalu marah kepadanya daripada
ibunya yang sekarang.
“いいえ Iie.
(Tidak). Kau belum genap tujuh belas tahun. Jadi, kau tak bisa lakukan itu.” kata
ayahnya.
Tuan Higashi sendiri juga
sangat khawatir dengan kondisi istrinya. Saat Ia mendengar kabar itu saja sudah sangat membuatnya terpukul,
apalagi saat stok darah di rumah sakit itu sedang kosong.
Sebenarnya Tuan Higashi
hanya berbohong. Izaka bukanlah anak kandungnya jadi tak mungkin darahnya akan
cocok. Sudah sejak lama Izaka mengetahui kebenaran itu. Tetapi Ia harus tetap
berpura-pura agar dia bisa hidup, karena masih ada banyak hal yang
membingungkan baginya.
Izaka menuruti apa yang
dikatakan ayahnya. Mereka akan menunggu darah untuk ibunya, di sela-sela itu
mereka tak putus untuk memanjatkan doa.
Berkat usaha keras tim
dokter dan seluruh komponen rumah sakit ibunya bisa selamat. Nyonya Harumi
sudah sadarkan diri. Sayangnya, ibunya masih sangat lemah.
“Okaa-san (Ibu), lain kali
ibu harus lebih berhati-hati.” ucap Izaka sambil memegang tangan ibunya.
“Maafkan aku karena sudah
membuatmu merasa cemas.” jawab ibunya dengan volume yang rendah. Sejak Nyonya
Harumi sadar, wanita itu belum bisa berbicara dengan lebih keras.
“Tidak, ibu tidak perlu minta
maaf. Justru aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa menjaga ibu
dengan baik.” sahut Izaka. Ia masih menggenggam tangan ibunya erat, memberikan
dukungan untuk ibunya agar lebih cepat pulih.
Izaka sendiri sangat
menyayangi ibunya meskipun wanita itu pernah mengecewakannya. Wanita itu begitu
perhatian kepadanya. Hal sekecil apapun tak luput dari perhatian wanita itu.
Meski wanita itu bukan ibunya yang sebenarnya, tak lupa Ia selalu bersyukur
karena diasuh oleh wanita itu. Wanita itu menempati posisi yang istimewa di
hatinya.
***
Rumahnya memang tak bisa
dikatakan mewah. Tetapi setidaknya rumah dengan pagar setinggi satu setengah
meter itu layak untuk ditempati. Rumahnya tidak jauh beda dengan rumah-rumah
yang ada disekitar kompleks perumahan ini. Perbedaannya terletak pada dinding-dinding di rumahnya yang di cat
dengan warna paling mencolok, perpaduan antara warna jingga dan biru.
Aiko sudah sangat lelah.
Tas yang Ia gendong di punggungnya semakin menambah rasa lelahnya. Tas itu
hanya menjadi beban bagi punggungnya. Ia sudah sampai di gerbang depan
rumahnya. Keringat yang mengucur deras di dahinya Ia usap segera. Gerbang yang
tadinya terkunci segera dibukanya. Sesaat sebelum gerbang itu terbuka seutuhnya
terdengar suara yang bisa Ia duga berasal dari samping rumahnya. Itu sudah
sering terjadi. Tetangganya masih saja tidak berubah, selalu membuat keributan.
“Dasar, anak kurang ajar!
Kenapa kau tak belajar di rumah saja? Bisanya cuma menghabiskan uang orang
tua!” suara itu terdengar sangat keras, jenis suaranya mudah dikenali yakni
suara seorang wanita dewasa yang tentunya sudah memiliki anak. Suara itu terdengar seperti petir yang
menyambar.
“Ibu! Lebih baik aku bodoh
daripada tidak punya teman. Aku tahu kalau ibu sedang membandingkanku dengan Aiko,
tapi aku tidak ingin menjadi sepertinya yang tidak punya satu teman pun!” ucap
Zei juga keras, lebih tepatnya dengan nada membentak.
Hanya
dalam hitungan detik, Zei sudah muncul di pintu gerbang rumahnya. Mau tidak mau
Aiko harus berpandangan dengan Zei sebentar.
“Kau marah?” tanya Zei
ketus.
Aiko tak menanggapinya dan
langsung masuk ke rumahnya. Zei malah menatap kepergian Aiko dengan tatapan
yang sengit. Aiko tetap tidak peduli, Ia tidak ingin mempermasalahkannya, itu
hanya akan membuang waktunya percuma.
“Orang aneh,” gumam Zei.
Tak ada yang bisa mendengar ucapan itu. Begitu juga Aiko.
Zei mengatakan kalau
dirinya tidak mempunyai teman. Itu sudah menjadi keputusannya. Di dunia ini tak
ada yang abadi, semua bisa pergi begitu saja tanpa kita sadari. Begitulah
anggapan Aiko.
Ia sudah memutuskan untuk
tidak berusaha berteman dengan siapapun lagi karena Ia takut kehilangan.
Kehilangan hanya akan membuatnya kesepian. Ia seperti bidadari yang tak
mempunyai sayap. Seperti itulah saat Ia kehilangan sosok Yoshio Izaka.
Sekarang Ia sudah tak
pernah merasa kesepian lagi, buku-buku pelajaran sudah cukup menemaninya. Lebih
baik Ia menggunakan waktunya untuk sesuatu yang penting. Jika tak ada yang
sepemikiran dengannya juga tidak apa-apa, itu sudah cukup.
Aiko mengelus dadanya,
menyadari kalau baru saja Ia menjadi bahan pembicaraan. Itu pasti karena
perkataan ibunya tempo hari lalu. Aiko hanya menganggap itu sebagai ajang
menyianyiakan waktu. Padahal menurutnya, membicarakan dirinya tak ada gunanya
sama sekali. Bahkan hanya akan melahirkan masalah baru. Seperti yang dilihatnya
tadi. Zei dan Nyonya Higawa yang merupakan sepasang anak dan ibu bertengkar
karenanya.
***